nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bisa Sebabkan Kematian, IDI: Rokok Elektronik Bukan Alternatif Terbaik Berhenti Merokok

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 24 September 2019 21:31 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 24 481 2108862 bisa-sebabkan-kematian-idi-rokok-elektronik-bukan-alternatif-terbaik-berhenti-merokok-7RzJLUzzIX.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sepakat bahwa rokok elektronik dinilai berbahaya bagi kesehatan. Isu ini kembali menyeruak ke permukaan menyusul pemberitaan yang menunjukkan korban berjatuhan akibat rokok elektronik, termasuk vaping.

Beberapa waktu lalu, badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) juga telah menyatakan rokok elektronik sebagai produk yang diyakini berbahaya dan harus diatur. WHO juga melarang rokok elektronik digunakan para perokok sebagai alat untuk berhenti merokok.

Tak lama kemudian, pengawas obat dan makanan Amerika FDA (Food and Drugs Association) dan Presiden Trump juga menyatakan akan melarang penjualan rokok elektronik dengan rasa yang menarik bagi anak-anak dan remaja.

 Pria memegang rokok

Hal ini menyusul kejadian-kejadian yang menunjukkan adanya korban yang jatuh akibat konsumsi rokok, yang sebagian besar menyangkut masalah penyakit paru. Mulai dari 53 kasus yang dipublikasikan oleh New England Journal, sampai dilaporkannya 215 penyakit paru terkait vaping oleh US Health Officials.

Di tengah meningkatnya masalah kesehatan yang diduga akibat rokok elektronik, berita mengejutkan datang dari AS dengan kabar jatuhnya korban meninggal akibat penyakit paru setelah korban mengonsumsi rokok elektronik dalam beberapa lama.

Sampai hari ini, telah ditemukan enam kematian di Amerika yang dinyatakan terkait konsumsi rokok elektronik. Setidaknya, lebih dari 450 orang dirawat di RS akibat penyakit baru terkait konsumsi rokok elektronik yang rata-rata mengalami keluhan napas berat, batuk, sakit sekitar dagu, kelelahan, mual, dan demam.

 Pria memegang rokok

“Rokok elektronik berhubungan dengan gangguan pernapasan akut berat. Bahkan sekarang ada istilah khusus VAPI, yaitu vape associated pulmonary injury yang berisiko menyebabkan terjadinya kematian,” ungkap Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), DR. dr. Agus Dwi Susanto Sp.P(K), dalam konferensi pers bertajuk 'Rokok Elektronik Makan Korban, Kita Masih Boleh Tenang?, di Aula PB IDI, Jakarta Pusat, Selasa (24/9/2019).

Sementara itu, Dr. BRM. Aryo Suryo Kuncoro, SpJP, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menyebutkan bahwa risiko serangan jantung meningkat sampai 56% dan terdapat kecenderungan terkena stroke sampai 30%.

Penelitian menunjukkan adanya kerusakan sel pembuluh darah segera setelah vaping akibat nikotin dan zat perasa di dalam cairan rokok elektronik, dikarenakan zat yang dihisap menyebar ke seluruh tubuh mengakibatkan kerusakan pembuluh darah secara sistemik.

Kekhawatiran lain juga muncul akibat penyalahgunaan konsumsi rokok elektronik sebagai cara baru untuk konsumsi narkoba. dr. Hari Nugraha, MSc, Scientific Media Communication Green Crescent Indonesia, menyebutkan, kasus kematian di AS setelah menggunakan rokok elektronik baru-baru ini disinyalir karena para korban mengkonsumsi THC, salah satu zat psikoaktif dari ganja.

Di dalam cairan rokok elektronik tersebut diduga dicampur vitamin e asetat sebagai pelarut. Selain itu, cairan rokok elektronik juga sering diisi dengan narkoba yang lain seperti ganja sintetik yang membahayakan konsumennya sebagaimana temuan Pusat Laboratorium BNN.

 Perempuan memegang rokok

"Munculnya rokok elektronik menimbulkan fenomena baru dalam dunia kesehatan di dunia, dan berbagai negara bereaksi atasnya," tutur dr. Hari Nugraha.

Ketua Perhimpunan Dokter Penyakit Dalam (PAPDI), dr Sally Aman Nasution, SpPD-KKV menjelaskan, sebelum dan sesudah kejadian-kejadian di atas, beberapa negara telah mengambil tindakan. Ada beberapa negara yang masih melegalkan namun dengan aturan yang ketat, seperti Inggris, Australia, dan Jepang. Mereka hanya membolehkan peredaran rokok elektronik yang tidak mengandung nikotin.

"Beberapa negara bahkan telah melarang sama sekali rokok elektronik dan menetapkannya sebagai barang ilegal yang menunjukkan respon cepat dari negara-negara tersebut untuk melindungi warganya dari produk yang belum terbukti keamanannya,” ujarnya.

Negara-negara yang telah melarang rokok elektronik atau menempatkannya sebagai barang ilegal adalah Timor Timur, Malaysia (haram), Thailand, HongKong, Taiwan, Argentina, Brazil, Bahrain, Kuwait, Qatar, Singapora, Uruguay, dan terakhir India.

Di Indonesia sendiri, belum juga ada tindakan jelas terhadap rokok elektronik. Padahal dalam Riset Kesehatan Dasar 2018, perokok rokok elektronik di Indonesia telah mencapai 2,8 persen atau sekitar 7,3 juta orang, dan terus berkembang belakangan ini.

"Kami sepakat bahwa rokok elektronik bukanlah alternatif terbaik untuk mereka yang ingin berhenti merokok, karena sudah jelas sangat berbahaya," tukasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini