nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bersepeda Bisa Picu Kanker Prostat?

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 24 September 2019 23:12 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 24 481 2108879 bersepeda-bisa-picu-kanker-prostat-baLhJBBXij.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SEJUMLAH penelitian telah membuktikan bahwa bersepeda bisa meningkatkan PSA (prostate specific antigen) pada laki-laki. Menariknya, kenaikan PSA selalu dihubungkan dengan penyakit kanker prostat.

Alhasil, banyak masyarakat yang merasa khawatir untuk bersepeda karena mereka berasumsi kegiatan ini dapat meningkatkan risiko kanker prostat.

Menjawab menjawab kekhawatiran tersebut, Ketua Yayasan Kanker Indonesia, Profesor. Dr. dr. Aru Sudoyo, SpPD, KHOM, FINASIM, FACP, menegaskan bahwa bersepeda sebetulnya bukan salah satu pemicu timbulnya kanker prostat.

"Bisa saya katakan itu hanya mitos. Ambil contoh ketika seseorang bersepeda selama kurang lebih 3 jam, maka PSA-nya akan bocor keluar jaringan. Jadi secara tidak langsung tingkat PSA mereka akan naik setelah bersepeda atau naik motor," kata dr. Aru, saat ditemui Okezone di Kantor Yayasan Kanker Indonesia.

Aru mengatakan, kondisi ini sebetulnya umum terjadi setelah seseorang melakukan aktivitas seperti bersepeda dan naik motor. Tak heran bila, hingga sekarang, pemerintah Amerika Serikat menolak usulan skrining PSA massal di kalangan laki-laki untuk menghindari hasil 'false-postive', atau hasil yang menunjukkan positif pada laki-laki yang sebenarnya tidak memiliki kanker prostat.

Secara umum, PSA adalah protein yang diproduksi oleh sel-sel pada kelenjar prostat.

Secara umum, PSA adalah protein yang diproduksi oleh sel-sel pada kelenjar prostat. Kelenjar ini terletak tepat di bawah kantung kemih laki-laki, dan memiliki fungsi meningkatkan produksi sperma.

"Tingginya kadar PSA dalam darah, menandakan ada sesuatu yang terjadi pada kelenjar prostat. Jadi tidak selalu berarti ada risiko kanker prostat. Makanya, kalau mau tes PSA itu tidak disarankan setelah bersepeda atau naik motor dalam waktubyang lama," tegas dr. Aru.

"Maka dari itu, tes PSA lebih diprioritaskan pada laki-laki usia lanjut dengan rentan usia 50 tahun ke atas," jelas dia.

Berdasarkan data Globocan 2018, kasus baru kanker yang terjadi pada tahun 2018 mencapai 348.809, di mana 11.361 di antaranya merupakan kasus kanker prostat.

Sementara angka kematian akibat kanker prostat di Indonesia juga terbilang tinggi, mencapai 5.007 jiwa. Kanker pun menduduki peringkat ketiga, sebagai penyebab kematian bagi laki-laki di Indonesia.

Kanker ini pun umum terjadi di kalangan pria dewasa. Kanker prostat terjadi ketika sel prostat mengalami mutasi dan mulai berkembang di luar kendali.

Kanker prostat terjadi ketika sel prostat mengalami mutasi dan mulai berkembang di luar kendali.

Seperti diketahui, prostat juga merupakan bagian dari sistem reproduksi pria dan berada di bawah kantung kemih. Sel kanker ini dapat bermetastasis dari prostat ke bagian tubuh lainnya, terutama tulang dan kelenjar getah bening.

Metastasis ke tulang merupakan penyebaran yang paling sering ditemukan pada kanker prostat. Hal ini akan menyebabkan penderitaan yang amat sangat karena nyeri yang hebat.

Data yang dikeluarkan oleh Yayasan Kanker Indonesia menyebutkan, satu di antara 354 laki-laki berusia 49 tahun menderita kanker prostat. Angka ini akan semakin meningkat seiring bertambahnya usia.

Tak heran bila saat ini, kanker prostat menduduki peringkat ketiga sebagai penyebab kematian bagi laki-laki di Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan deteksi dini untuk menekan angka kematian.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini