nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pesan Negatif di Media Sosial Makin Tinggi, Ini Penyebabnya!

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 26 September 2019 16:18 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 26 196 2109675 jumlah-pesan-negatif-di-media-sosial-sentuh-angka-15-3-juta-ini-penyebabnya-CTNFmzoqNt.jpg Ilustrasi (Foto: Psychiatryadvisor)

Media sosial memang memberikan segudang manfaat bagi kehidupan manusia. Namun bila tidak digunakan secara bijak, platform ini justru akan membawa berbagai dampak negatif, seperti ujaran kebencian.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Crimson Hexagon, ujaran kebencian atau hate messages terus meningkat setiap tahunnya dan sulit dikendalikan. Pada periode Januari - Juli 2019 saja mereka telah menemukan lebih dari 70.000 pesan negatif yang beredar di media sosial.

 perempuan memegang ponsel

Jumlah tersebut ternyata meningkat sangat tajam hingga 5 kali lipat dalam dua tahun terakhir. Sebagai perbandingan, pada tahun 2017 volume pesan negatif diklaim mencapai 3,3 juta pesan. Kemudian meningkat cukup jauh hingga 8,3 juta di tahun 2018.

Tahun 2019, volume pesan negatif yang beredar media sosial menyentuh angka 15,3 juta pesan. Hal tersebut secara tidak langsung membuktikan bahwa ada yang salah dengan perilaku para pengguna media sosial saat ini.

Pemerintah diimbau untuk segera bertindak, karena dikhawatirkan dapat memicu berbagai permasalahan lainnya seperti masalah kesehatan mental, penyebaran hoaks, peningkatan persentase bunuh diri, dan masih banyak lagi.

Namun bila ditilik dari segi kesehatan, salah satu pemicu timbulnya amarah dan perilaku agresif tidak terlepas dari rasa lapar yang melanda seseorang. Hal ini dijelaskan secara gamblang oleh, Ahli Gizi dr. Juwalita Surapsari, SpGK.

 Perempuan pegang gadget

"Kondisi yang disebut Maper (Marah Laper) ini perlu diperkenalkan kepada publik agar dampaknya dapat dipahami sepenuhnya," terang dr. Juwalita dalam acara "ABC Sari Kacang Hijau Anti Maper", di bilangan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (26/9/2019).

Lebih lanjut, Juwalita menjelaskan, ketika orang mengabaikan rasa lapar, mereka cenderung lebih mudah marah dan agresif. Hal ini mengarah pada penyebaran emosi negatif, apalagi di media sosial saat ini hanya tinggal mengetukkan jari saja.

Untuk mengakalinya, wanita yang akrab disapa Lita itu menganjurkan agar masyarakat mulai mengonsumsi makanan bernutrisi, terutama di jam-jam krusial.

"Penelitian sudah membuktikan bahwa, orang-orang yang mudah marah itu yang kondisi perutnya kosong 5 jam setelah menyantap makanan sebelumnya. Mereka cenderung memperlihatkan perilaku serta perasaan negatif, dan lebih mudah marah," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini