Suami Jangan Bangga Punya Banyak Anak, Ini Risikonya bagi Perempuan

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 26 September 2019 20:31 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 26 481 2109772 suami-jangan-bangga-punya-banyak-anak-ini-risikonya-bagi-perempuan-hdISgT2lUr.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PEPATAH banyak anak banyak rejeki ternyata tidak selamanya benar. Nyatanya banyak orangtua yang kesulitan mengurus anaknya, karena jarak kelahiran yang tidak terpaut jauh. Hal ini tentu akan menjadi beban, khususnya dari segi kesehatan.

Oleh sebab itu, ada baiknya para orangtua melakukan komunikadi dan kontrol untuk merencanakan kehamilan jauh-jauh hari sebelum menikah.

“Kontrol kehamilan. Kalau mau hamil anak kedua dan ketiga harus izin suami. Bahkan kalau bisa sebelum menikah dipersiapkan dulu dengan matang,” terang Dokter Kandungan, dr. Boy Abidin, SpOG (K) dalam acara Hari Kontrasepsi Sedunia.

Dokter Boy pun mengisahkan pengalaman pasiennya yang tidak merencanakan kehamilan dengan baik. Salah satunya adalah risiko pendarahan yang bisa menyebabkan kematian.

"Menambah anak dalam keluarga didominasi oleh sang suami. Waktu lahir anak ketujuh istrinya lahir dengan normal. Cuman setelahnya pendarahan banyak. Saya sarankan cukup agar tidak nambah lagi karena bisa berisiko fatal," lanjutnya.

Meski sudah diwanti-wanti, tapi kurang dari satu tahun perempuan itu kembali lagi hamil anak ke delapan.

Meski sudah diwanti-wanti, tapi kurang dari satu tahun perempuan itu kembali lagi hamil anak ke delapan. Dokter Boy mengaku sang istri sudah bilang tidak mau hamil, tapi sang suami merasa bangga karena bisa memiliki banyak anak.

Menurutnya, seorang wanita harus memiliki komitmen untuk menggunakan kontrasepsi. Fungsi kontrasepsi adalah untuk menjarangkan kehamilan, sehingga tidak timbul masalah pada kesehatan dan kualitas hidup keluarga.

"Banyak anak akan membuat pengeluaran bertambah dan juga risiko kesehatan apabila jaraknya terlalu dekat. Oleh sebab itu pemilihan kontrasepsi harus dipilih berdasarkan umur yang tepat yakni 30-35 tahun untuk menjarangkan kehamilan," tuntasnya.

Peringatan hari alat kontrasepsi dunia dilakukan untuk memberikan informasi dan edukasi secara khusus kepada remaja tentang kesehatan reproduksi menjadi sangat penting, sehingga mereka secara sadar dan bertanggung jawab merencanakan keluarga dan masa depannya.

BKBBN pun telah menjalin kerjasama dengan pimpinan di berbagai tingkatan sekaligus upaya memobilisasi tenaga medis, seperti bidan untuk keberlangsungan program kesehatan reproduksi dan KB.

sehingga mereka secara sadar dan bertanggung jawab merencanakan keluarga dan masa depannya.

Komitmen itu diperkuat pada pertemuan Family Planning (FP) 2020 di Inggris pada 2012 yang melahirkan kesepakatan untuk meningkatkan akses, pada 120 juta wanita yang belum mempunyai akses pada alat kontrasepsi.

Sejak dicanangkan FP 2020 tahun lalu, maka 23 negara bertekad untuk melaksanakannya dan sejauh ini developing partner sudah berhasil mengumpulkan dana sebesar USD2,6 miliar untuk mendukung tercapainya tujuan dari FP 2020.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Prof. Dr. H. Fasli Jalal, Sp. GK, Ph.D. menyebut Indonesia pernah mencatatkan sejarah dunia dalam pelaksanaan Keluarga Berencana, karena angka kelahiran pada tahun 1970 hingga 2002 mengalami penurunan, yakni 5,7 menjadi 2,6 persen.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini