nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Titi Pudji, Nenek yang Viral Ikut Aksi Unjuk Rasa di Bandung

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 26 September 2019 08:26 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 26 612 2109476 kisah-titi-pudji-nenek-yang-viral-ikut-aksi-unjuk-rasa-di-bandung-i2uDmG66H8.jpg Nenek viral ikut aksi unjuk rasa di Bandung (Foto : @cryingbrutally/Twitter)

Vox Populi, Vox Dei kalimat ini masih menggema di pikiran saya usai melakukan wawancara eksklusif dengan Titi Pudji Ambulaningsih. Bila diterjemahkan, istilah yang berasal dari bahasa Latin itu memiliki arti, 'Suara rakyat adalah suara Tuhan'. Pesan tersebut ia tujukan kepada ribuan mahasiswa Indonesia yang telah menyuarakan aspirasi rakyat sejak 23 September 2019 lalu. Sebagai seorang aktivis, Titi turut merasakan perjuangan berat mereka yang ikut unjuk rasa.

Hari Rabu 25 September 2019, ia pun memutuskan turun ke jalan untuk ikut memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia. Fotonya sedang ikut unjuk rasa sempat viral setelah dibagikan oleh sang buah hati di Twitter.

Banyak netizen yang memberikan pujian kepada Titi ketika melihat poster putih yang berada di genggamannya. Pesan pada poster tersebut menyiratkan makna mendalam sekaligus menggambarkan kondisi budaya patriarki di Indonesia.

Demo bandung

"Berharap cucuku sudah terbebas dari sistem patriarki dan kasus-kasus kekerasan seksual," bunyi pesan pada poster itu.

Kepada Okezone, Titi menceritakan secara eksklusif awal ketertarikannya mengikuti aksi unjuk rasa yang ternyata sudah ia lakukan sejak masa orde baru. Memutar kembali kenangan 21 tahun silam, Titi memulai ceritanya.

Aktif turun ke jalan meski sudah beranak dua

Sejak kecil, Titi mengaku telah terbiasa berinteraksi langsung dengan berbagai lapisan masyarakat. Ketertarikannya untuk mempelajari hal-hal berkaitan dengan perilaku manusia, budaya, hingga keanekaragaman pun semakin bertambah kuat saat ia diterima menjadi mahasiswi jurusan Antropologi di Universitas Padjajaran angkatan 1980.

Namun karena pada saat itu unjuk rasa ditentang keras oleh pemerintah, Titi baru memiliki kesempatan untuk ikut turun ke jalan bersama ribuan mahasiswa Bandung, pada tahun 1998.

"Jaman saya dulu enggak boleh ada demo-demo. Saya pertama kali ikut aksi reformasi 98. Saya tergabung dalam kelompok 'Suara Ibu Bandung'. Itu murni spontanitas dari para orangtua. Waktu itu saya sudah punya dua anak, masih kecil-kecil," tuturnya saat dihubungi Okezone via sambungan telefon, Rabu 25 September 2019.

masa muda titi

Titi tidak pernah menyangka bahwa aksi reformasi 98 itu melebar hingga ke seluruh Indonesia. Sampai pada akhirnya terjadi penembakan di Trisakti. Tindakan represif yang dilakukan oleh aparat berhasil menggerakkan hati Titi dan beberapa temannya untuk ikut membantu.

Bersama sejumlah ibu-ibu dari latar belakang berbeda, Titi membangun dapur umum sebagai bantuan logistik untuk para peserta aksi.

"Penembakan di Trisakti itu membuat anggota kami bertambah banyak. Kami sampai bisa membuat beberapa dapur umum yang dipusatkan di beberapa kampus," ungkapnya.

Menghapus budaya patriarki di Indonesia

Meski kini usianya tidak muda lagi, Titi mengaku masih sering mengikuti aksi-aksi yang memperjuangkan hak-hak asasi manusia dan perempuan. Bahkan pada aksi unjuk rasa hari ini, Titi sebetulnya masih dalam tahap pemulihan.

Lima bulan lalu, ia baru saja menjalani operasi ostheoarthritis, penyakit tulang yang dideritanya sejak beberapa tahun terakhir. Ia pun harus menggunakan tongkat sebagai alat bantu jalan.

"Aksi solidaritas Papua kemarin saya ikut, Kamisan kadang-kadang ikut. Event-event yang sifatnya perempuan juga saya ikut. Hari ini saya menguatkan diri untuk ikut walau harus pakai tongkat, dan tidak boleh terlalu lama berdiri serta jauh berjalan," timpalnya.

Lebih lanjut, Titi mengatakan, sejak dulu, salah satu visi utamanya menjadi seorang aktivis adalah menghapuskan budaya patriarki yang telah mendarah daging di tengah masyarakat Indonesia. Untuk tujuan mulia itu, ia dan beberapa alumni Antropologi Unpad 80', mendirikan sebuah Yayasan Sidikara.

"Yayasannya di rumah. Jadi sekarang aktivitas saya memang lebih banyak di rumah. Tapi kami juga sering turun ke jalan kalau ada aksi-aksi tertentu. Sebetulnya ya mas, saya lebih senang disebut ibu rumah tangga," ujar Titi disambut gelak tawa.

Nenek Viral

Namun bila ada kesempatan, Titi selalu berusaha turun ke jalan untuk ikut menyuarakan aspirasinya. Fokus utamanya saat ini adalah mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan RUU PKS.

Menurutnya, undang-undang ini akan membawa perubahan besar bagi para korban-korban kekerasan seksual, dan tidak hanya untuk kaum perempuan saja.

"Saya dan teman-teman dari instutisi lain hanya mensupport aja, karena isu ini perlu didukung. Kita banyak yang belum tahu RUU PKS ini sudah ada dari tahun 2012, kenapa enggak disahkan saja? Ternyata di legislatif masih ada yang tidak mendukung, karena salah mentafsirkan. Mereka pikir RUU PKS ini untuk mendukung lgbt dan melegalkan seks bebas," bebernya.

Padahal, menurut Titi, RUU PKS justru akan memberikan akses perlindungan untuk para korban kekerasan seksual. Hal tersebut menjadi sangat penting, bila bercermin dari kondisi Indonesia saat ini, di mana semakin banyak kasus-kasus kekerasan seksual, terutama yang dialami perempuan di bawah umur.

"Pesan yang ada di poster saya itu tulus dari hati saya. Saya sekarang sudah punya cucu. Saya berharap di era cucu saya nanti budaya patriarki sudah tidak ada lagi. Karena semua kekerasan seksual itu bermuara dari patriarki," tegasnya.

Titi menambahkan, sudah seharusnya masyarakat Indonesia menghapuskan nilai-nilai yang 'kelaki-lakian'. Sederhananya, pandangan patriarki itu dianggap tidak adil secara gender.

Ia pun yakin bahwa budaya patriarki ini masih bisa dihapuskan meski harus melalui proses yang panjang. Karena memang harus dimulai dari hal-hal yang kecil di rumah.

nenek ikut demo

"Patriarki itu budaya. Budaya itu tercipta dari perilaku dan pikiran manusia. Saya yakin semuanya bisa diubah. Itu sebabnya, sejak kecil saya tidak pernah membedakan anak laki-laki dan perempuan saya. Memang tidak mudah, tapi harus terus disosialisaikan," kata Titi.

Pesan Titi untuk mahasiswa

Sebelum menutup wawancara, Titi menitipkan sebuah pesan untuk para mahasiswa yang telah dan masih berjuang dalam menyampaikan kegelisahan dan aspirasi rakyat Indonesia.

Baginya, suara mahasiswa adalah suara rakyat, dan suara rakyat adalah suara Tuhan. Seperti kutipan 'Vox Populi, Vox Dei' yang membuka artikel ini.

"Lanjutkanlah perjuangan kalian, jaga keselamatan, karena kita masih di sebuah sistem yang masih saja ada penguasa-penguasa dari zaman reformasi," tegas Titi.

"Saya mendukung penuh aksi mahasiswa, meski banyak isu yang mengatakan mereka ditunggai. Saya yakin ini murni dari hati nurani mereka, meski saya tidak tahu betul peta politik Indonesia saat ini," tukasnya. (hel)

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini