nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pasal Larang Tunjukkan Alat Kontrasepsi pada Anak di RUU KUHP, Lemahkan Upaya Edukasi Seks?

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 27 September 2019 21:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 27 196 2110269 pasal-larang-tunjukkan-alat-kontrasepsi-pada-anak-di-ruu-kuhp-lemahkan-upaya-edukasi-seks-hiTgg820aP.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

RUU KUHP tengah menjadi polemik nasional dalam beberapa waktu belakangan ini. Dari sederet pasal yang ada dalam Rancangan Undang-Undang tersebut, pasal yang mengatur soal alat kontrasepsi tidak luput dimasukkan ke dalamnya.

Tepatnya pasal 414 yang berbunyi, “setiap orang yang secara terang-terangan mempertunjukkan, menawarkan, menyiarkan tulisan, atau menunjukkan untuk dapat memperoleh alat pencegah kehamilan kepada anak dipidana dengan pidana denda paling banyak kategori I (maksimal Rp1 juta).”

Mengacu pada bunyi pasal di atas, lalu apakah rancangan Undang-Undang pasal 414 ini bisa melemahkan upaya pemerintah, khususnya BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) dalam kampanye mengupayakan soal pentingnya alat kontrasepsi yang termasuk di dalam soal kesehatan reproduksi?

 Dua laki-laki

Kepala BKKBN, dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) mengatakan, ia pribadi melihat pasal soal alat kontrasepsi tersebut harus dilihat lebih seksama terlebih dahulu.

“Sebetulnya yang saya lihat di situ itu kita kalau untuk kepentingan konseling dan pendidikan itu tidak dilarang. Saya yang garis bawahi itu, tujuannya untuk pendidikan. Saya kira kita masih bisa menyiasati, iya mestinya tidak akan membatasi sampai orang tidak bisa mempromosikan,” ungkap dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) saat ditemui Okezone dalam acara “Kunjungan Pelayanan KB, IVA Test dan Donor Darah, Puskesmas Beru, Sikka, NTT, Jumat (27/9/2019).

Hasto menegaskan, sejatinya perihal pendidikan kesehatan reproduksi itu penting, dan inilah yang menjadi fokus utama dari BKKBN. Termasuk di dalamnya segala hal yang menyangkut soal alat kontrasepsi. Sebab hal-hal inilah yang sangat penting untuk diketahui dan dipahami, terutama bagi perempuan sebagai upaya untuk melindungi kesehatan diri.

“Makanya BKKBN akan re-branding, temanya bukan seks edukasi tapi temanya kesehatan reproduksi, kita akan fokusnya ke situ. Pendidikan kesehatan reproduksi itu banyak di dalamnya, misal kisah tentang bagaimana kita sehat dari masalah seksualitas itu banyak muatan kesana ini bukan mengajari seks," lanjutnya.

 Alat kontrasepsi

Ia mencontohkan, ketika perempuan menikah sebelum berusia 20 tahun, maka ada risiko pada mulut rahimnya, hingga bagaimana penularan bakteri yang masuk hingga perut.

"Hal-hal seperti itu penting menurut saya, sehingga perempuan juga akhirnya menjaga diri untuk masalah kesehatan organ seksnya,” imbuhnya.

Kembali disinggung soal pandangan pribadinya sebagai kepala BKKBN, apakah ia sendiri menolak pasal tersebut? Hasto menjawab diplomatis, pada dasarnya ada pasal lain yang menyebutkan bahwa memperlihatkan alat kontrasepsi tidak dilarang untuk tujuan-tujuan tertentu.

“Menurut saya ada pasal lain yang mengatakan kecuali untuk kepentingan pendidikan penyuluhan, ya kalau itu untuk merayu anak-anak untuk melakukan hal-hal tertentu itu mungkin (re-dilarang). Saya tidak masalah dengan pasal itu sebagai kepala BKKBN yang masih harus mengampanyekan alat kontrasepsi dan juga kesehatan reproduksi saya masih punya ruang luas edukasi dan saya tidak bisa dituntut karena kami ini dalam rangka edukasi,” tandas Hasto.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini