nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sederet Bahaya Gas Air Mata, Setara Kabut Asap Ganggu Infeksi Saluran Pernapasan

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 27 September 2019 18:04 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 27 481 2110122 sederet-bahaya-gas-air-mata-setara-kabut-asap-ganggu-infeksi-saluran-pernapasan-qYOYaAnwM5.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

GAS air mata sering kali digunakan oleh aparat kepolisian untuk mengendalikan massa yang melakukan aksi unjuk rasa apabila terjadi kericuhan. Gas air mata ini juga dipakai saat aksi mahasiswa di Gedung DPR/MPR Jakarta menolak RUU KUHP dan RUU KPK.

Gas air mata adalah senyawa kimia yang dikenal dengan istilah zat lachrymator. Efek gas air mata terhadap tubuh antara lain membuat mata perih, mengiritasi mata, dan perasaan tidak nyaman lainnya. Gas air mata juga dapat mengiritasi kulit dan paru-paru. Bahkan efek lainnya dapat membuat seseorang yang terkena kesulitan menjalani fungsi tubuh.

Melansir Self, jenis gas air mata yang paling umum mengandung chlorobenzylidenemalononitrile (CS) dan chloroacetophenone) (CN). Tapi ada senyawa lain yang dianggap gas air mata juga yaitu oleoresin capsicum (OC), semprotan merica, atau bentuk sintetis yang dikenal dengan semprotan PAVA.

OC dan PAVA bekerja pada reseptor rasa sakit dan suhu di tubuh. Senyawa tersebut dapat memicu respons rasa sakit. Bahkan partikel kecil dari senyawa tersebut dapat menembus kulit hingga memasuki selaput lendir yang menyebabkan rasa sakit hebat dan berlarut-larut. Kondisi itu bisa berlangsung selama setengah jam.

semprotan merica, atau bentuk sintetis yang dikenal dengan semprotan PAVA.

Selain itu, senyawa OC dapat larut dalam tubuh dan menjadi cairan asam. Bila bercampur dengan air, keringat, minyak pada kulit, atau selaput lendir, cairan tersebut dapat menyebabkan rasa sakit. Saluran pernapasan dan selaput lendir yang lembap juga sangat sensitif dengan OC.

"Efek gas air mata tidak bagus untuk kesehatan. Ada pula efek samping dan konsekuensi lain yang tidak diinginkan," ujar Rohini J. Haar, MD, MPH selaku penasihat penelitian dan investigasi medis di Physicians for Human Rights.

Secara umum, gas air mata menyebabkan sensasi menyengat serta membakar mata dan selaput lendir. Akibatnya produksi air liur berlebih, mata berair, pilek, dada kencang, sakit kepala, dan mual.

"Gas air mata menyebabkan kulit terasa seperti terbakar. Apabila gas air mata terhirup maka bisa menyebabkan cedera pada saluran udara dan paru-paru Anda. Semua gejala terjadi sementara, kira-kira 20-30 menit,” jelas Dr. Haar.

Namun efek yang lebih parah bisa terjadi jika seseorang yang terpapar gas air mata tidak segera menanganinya.

Namun efek yang lebih parah bisa terjadi jika seseorang yang terpapar gas air mata tidak segera menanganinya. Apabila Anda terkena gas air mata, pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah segera menjauh dari lokasi kerusuhan. Selain itu, pilihlah daerah yang lebih tinggi karena efek gas air mata akan lebih berat bila sudah menyentuh tanah.

Setelah berada di posisi aman, langsung cari udara segar dan siram mata, kulit, serta rambut dengan banyak air, terutama air garam.

"Air mungkin dapat memperburuk efek di awal, tetapi menggunakan air dalam jumlah banyak akan menghilangkan gas air mata. Kalau bisa cuci bagian tubuh yang terkena gas air mata dengan sabun dan segera bilas," kata Dr. Haar.

Jangan lupa untuk segera berganti pakaian, karena gas air mata masih menempel. Apabila efek gas air mata terjadi lebih dari 30 menit serta ada masalah lain yang mengikuti seperti mengganggu penglihatan dan paru-paru, pergilah ke UGD. (mrt)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini