nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menikah Cuma Setahun, Curhat Ani soal Rumah Tangganya Bikin Terenyuh

Dewi Kania, Jurnalis · Senin 30 September 2019 12:20 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 30 196 2110906 menikah-cuma-setahun-curhat-ani-soal-rumah-tangganya-bikin-terenyuh-KAsUqOq0aE.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

TIDAK sedikit perempuan memutuskan menjanda dengan masalah yang kompleks. Seringnya mulai ada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga kehadiran orang ketiga dalam hubungan, membuat pernikahan tidak lagi indah.

Ani adalah salah satu perempuan yang menyatakan berpisah dengan suaminya, karena banyaknya masalah yang menimpa kehidupan pernikahannya.

Menikah di awal 2015, usia bahtera rumah tangganya cuma setahun, meskipun dia baru resmi berpisah secara hukum pada 2018. Sebelumnya menikah, Ani memang telah menjalin hubungan dengan sang mantan, pacaran selama dua tahun.

Strong mom ini mengaku sering menghadapi masalah kompleks dalam membangun hubungan pernikahan dengan sang mantan. Seperti adanya pihak lain yang mengintervensi rumah tangganya, kehadiran orang ketiga, serta prinsip-prinsip lainnya yang tidak dapat ditoleransi dari sang mantan.

 Strong mom ini mengaku sering menghadapi masalah kompleks dalam membangun hubungan pernikahan dengan sang mantan

"Banyak kebiasaan buruk dia yang bagi saya itu prinsip. Ini tidak bisa ditoleransi, jadi kompleks. Saya memutuskan untuk pisah saja," jelasnya saat dihubungi Okezone.

Ditambah lagi, Ani sering bertengkar dengan sang mantan sampai berujung pada masalah KDRT. Biarpun main tangan tidak terjadi, namun dia merasa tertekan psikisnya, yang tentu mengganggu kenyamanan hidupnya.

"KDRT itu terbagi dua yang saya aku tahu, secara fisik dan psikis. Kalau untuk fisik sih enggak pernah secara langsung. Tapi ada, karena kita ribut sebenarnya. Kalau psikis iya hampir setiap hari," bebernya.

"Singkatnya putuskan cerai, saya ingin bahagia dan menjaga psikologis anak. Karena memang rumah tangga saya sudah tidak sehat untuk dipertahankan lagi," ungkap Ani.

Setelah berpisah, Ani pun merasakan hal berbeda. Dia merasa lebih santai menjalani hidup sampai harus merawat si kecil. Kini Ani bahagia bersama sang putri kecilnya, berusia 3 tahun.

"Sejak usia 7 bulan anak saya enggak pernah ketemu Daddy-nya lagi sama sekali. Ketemu lagi pas tahun 2017 akhir pada saat di Pengadilan Agama. Tapi itu juga dia masih kecil jadi masih enggak ngerti dan enggak mau sama Daddynya. Mungkin merasa asing ya," imbuhnya.

Ujian lain buat Ani kini harus memberi tahu putrinya dengan status keluarganya. Sebab si kecil sudah mulai peka dengan kehidupan sehari-harinya, terutama sejak masuk sekolah playgroup.

Sebab si kecil sudah mulai peka dengan kehidupan sehari-harinya, terutama sejak masuk sekolah playgroup.

Dia merasa tidak ada sosok ayah yang menyayangi atau bersentuhan langsung dengannya. Kemudian bertanya kepada sang ibu, kok teman-temannya kalau pergi ke sekolah kebanyakan diantar ayahnya? Menurutnya ini ada apa?

"Saya terus terang sama anak kalau Mommy dan Daddy sudah tidak bisa tinggal sama-sama. Lalu dia juga pernah tanya, katanya di sekolah dikasih tau kalau family itu ada ayah, ibu, dan anak. Lalu aku kasih penjelasan lagi sederhana, sesuai usianya dan bisa dia cerna atau pahami," sambung Ani.

Ani menjelaskan kepada si kecil bahwa yang namanya keluarga itu tidak selalu lengkap. Ada anak-anak yang hanya tinggal dengan ayahnya, ibunya saja atau malah dengan kakeknya saja atau neneknya. Semua sama, yang penting masih dalam lingkup keluarga.

"Saya juga bawa anak ke acara gathering Single Moms Indonesia. Agar dia belajar dan paham, kondisi seperti ini bukan hanya dialami oleh dia. Tapi banyak teman-teman lain seusianya atau lebih muda/tua yang juga tinggal hanya berdua sama ibunya," tutur Ani.

Mulai dari lingkungan baik dari keluarga atau pun pertemanan, atau juga lingkungan sekolah anak.

Ani melanjutkan, menjadi single mom tentu menghadapi tantangan yang cukup kompleks. Mulai dari lingkungan baik dari keluarga atau pun pertemanan, atau juga lingkungan sekolah anak.

Belum lagi tantangan terhadap diri sendiri. Mungkin lukanya belum benar-benar sembuh. Masih ada pergolakan dengan diri sendiri, namun di lain sisi juga harus semangat agar tetap bertahan, bisa memberikan yang terbaik untuk anak.

"Apapun yang terjadi pasti ada solusinya. Kita lewati dan jalani asal kita bahagia dulu dan sudah benar-benar healing. Jadi buat aku bahagia itu penting, sederhana," bebernya.

Dalam membesarkan si kecil, Ani tidak memilih menjadi wanita karier. Kesehariannya, Ani memilih membangun usaha untuk mendapatkan pundi-pundi uang.

"Saya memilih usaha agar bisa fokus juga ke anak. Biar dia juga tidak kehilangan dua sosok dalam hidupnya. Sudah hilang sosok ayah, masa harus kehilangan saya juga. Saya percaya rezeki anak pasti selalu ada jalannya," pungkas Ani.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini