nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Iwet Ramadhan Ajak Semua Pihak Temukan Solusi Lestarikan Batik Tulis

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 02 Oktober 2019 21:29 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 02 194 2112115 iwet-ramadhan-ajak-semua-pihak-temukan-solusi-lestarikan-batik-tulis-v2TfnxTJfr.jpg Iwet Ramadhan (Foto : @iwetramadhan/Instagram)

Sejak tahun 2009, pemerintah menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Hal ini dilatarbelakangi oleh keputusan UNESCO yang mengakui batik adalah Karya Agung Budaya Lisan dan Tak Benda Warisan Manusia dari Indonesia. Kini sepuluh tahun telah berlalu, namun mungkin masih ada masyarakat yang belum mengetahui alasan UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia.

Menurut perancang busana Iwet Ramadhan, yang mendapatkan pengakuan dari UNESCO bukanlah hasil karya kain batik yang sudah jadi. “Tapi yang diakui adalah orang yang membuatnya (pembatik) dan cerita (filosofi) di balik motif kain batik. Itulah yang harus dilestarikan,” ujarnya saat ditemui Okezone dalam sebuah acara, Rabu (2/10/2019), di kawasan Jakarta.

Berdasarkan fakta yang diungkapkan oleh Iwet, maka jenis batik yang harus terus dilestarikan adalah batik tulis. Terlebih sekarang ini jumlah pengrajin batik tulis semakin sedikit. Salah satu penyebabnya karena regenerasi yang tidak berjalan.

Iwet batik

(Foto : @iwetramadhan/Instagram)

“Anak-anak pembatik itu kebanyakan enggak ada yang mau ngerjain (meneruskan). Lalu walaupun sekarang banyak SMK yang memiliki jurusan membatik, tapi setelah lulus banyak siswa yang enggak mau menjadi pembatik. Mereka memilih bekerja di pabrik,” terang Iwet.

Dirinya menambahkan, masalah lain yang harus dihadapi dalam upaya melestarikan batik tulis adalah hadirnya batik printing. Iwet mengatakan, tak sedikit pembatik yang menyerah membuat batik tulis karena tidak mampu menandingi kecepatan mesin penghasil batik printing. Belum lagi harga batik printing yang lebih terjangkau membuat hanya sedikit batik tulis yang bisa terjual. Pada akhirnya, para pembatik memilih berhenti melakukan pekerjaannya.

“Oleh karena itu, mulailah masyarakat sekarang memiliki pola pikir membeli batik dari pengrajin. Kalau bisa dan ada rejeki, lebih baik beli batik tulis. Dengan membeli produk tersebut artinya memberikan pendapatan kepada pengrajin yang membuat pekerjaan mereka akan sustain, dari situ saja sudah lumayan membantu,” ucap Iwet.

Pria yang juga berprofesi sebagai penyiar radio itu mengakui bila batik tulis bukanlah kebutuhan dasar sehingga kurang peminat. Hanya orang-orang yang sudah mampu alias berada di kelas ekonomi menengah ke atas lah yang mau membeli batik tulis. Sedangkan bagi mereka yang masih berupaya memenuhi kebutuhan dasar, lebih memilih menggunakan uangnya untuk hal lain dari pada membeli batik tulis.

“Ambil contoh, gaji fresh graduate itu berapa sih. Mereka pasti mikir, daripada mengeluarkan uang satu juta untuk beli batik tulis, mending uangnya buat makan, transportasi, jalan-jalan, atau membeli gadget,” imbuh Iwet.

Iwet buat batik

(Foto : @iwetramadhan/Instagram)

Hingga saat ini dirinya mengaku belum menemukan solusi yang tepat agar pembelian batik tulis meningkat. Iwet pernah mencoba membuat batik tulis yang harganya lebih murah. Tapi itu pun harga jualnya tetap mencapai Rp1 juta.

“Saya sudah usaha untuk jual batik tulis yang dimurahin, satu kali celup tetap saja harga paling murah Rp600 ribu, belum sama biaya jahit. Begitu dijual harganya Rp1 juta, siapa mau beli. Kalaupun pakai cap paling murah 300 ribu, ketika kemudian diubah menjadi baju harganya masih Rp600 ribu,” kata Iwet.

Kondisi-kondisi ini yang kemudian membuat masyarakat khususnya generasi muda lebih memilih baju atau busana lain yang harganya terjangkau. Tentunya keputusan itu memberikan keuntungan bagi industri besar, bukan para pengrajin batik. Untuk itu, Iwet berharap hal ini bisa menjadi pertanyaan bagi semua pihak guna menemukan solusi dengan segera.

batik pameran

“Solusi ini mesti dicari, apakah nanti memilih kain yang harganya lebih murah. Sebab sampai saat ini kain primisima untuk membuat batik saja masih impor. Masa sih kita punya tanah sebanyak ini enggak bisa bikin kapas sendiri. Jadinya hal ini ‘kan menyentuh ke berbagai aspek termasuk pemerintah, harus menjadi pertanyaan buat kita semua,” pungkas Iwet.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini