nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ilmuwan Khawatir Wabah Penyakit Jamur Akibat Tsunami Terjadi di Indonesia

Rabu 02 Oktober 2019 11:18 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 02 481 2111858 ilmuwan-khawatir-wabah-penyakit-jamur-akibat-tsunami-terjadi-di-indonesia-s1If1k4tyz.jpg Ilustrasi (Foto: Cosmosmagazine)

Bencana tsunami diduga menyebarkan penyakit jamur yang mematikan. Para ilmuwan pun khawatir wabah tersebut terjadi di Indpnesia.

Dilansir dari BBC Indonesia, Rabu (2/10/2019), para ilmuwan khawatir wabah jamur yang terjadi di Alaska pada 1964 juga akan melanda kawasan di Indonesia yang tersapu tsunami.

Mereka mengungkapkan bahwa gempa besar dahsyat yang melanda Alaska pada saat itu memicu tsunami yang turut mendaratkan jamur tropis mematikan. Para peneliti meyakini jamur tersebut kemudian berevolusi untuk berkembang biak di kawasan pantai dan hutan Pasifik Barat Laut.

 Tanda bahaya

Dilaporkan, lebih dari 300 orang terinfeksi penyakit kriptokokosis, mirip pneumonia, sejak kasus pertama ditemukan di kawasan tersebut pada 1999, yang sekitar 10%-nya berujung fatal. Jika teori yang diterbitkan dalam jurnal mBio benar adanya, dampak yang sama bisa mencapai kawasan lain yang sama-sama pernah tersapu tsunami.

Cryptococcus Gattii adalah jamur patogen yang sebagian besar muncul di kawasan bersuhu lebih hangat di dunia, seperti Australia, Papua Nugini, serta sebagian Eropa, Afrika, dan Amerika Selatan, seperti Brasil. Para peneliti berteori bahwa jamur itu telah terbawa ke seluruh dunia melalui air pemberat (ballast water) yang digunakan kapal-kapal.

Para ilmuwan mengatakan bahwa usia molekuler jamur yang ditemukan di pantai British Columbia dan negara bagian Washington, Amerika Serikat, dimulai pada waktu yang bertepatan dengan dimulainya pelayaran dari berbagai pelabuhan di Amerika Selatan setelah pembukaan Terusan Panama tahun 1914.

Meski demikian, keingintahuan yang besar terkait jamur tersebut baru muncul ketika kasus infeksi terhadap manusia pertama kali terdeteksi di kawasan itu pada 1999.

Para peneliti awalnya kebingungan, bagaimana penyakit itu bisa menyerang orang-orang di kawasan tersebut. Karena dalam kondisi yang normal, infeksi tersebut umumnya bermula dengan menghirup spora yang memungkinkan patogen itu menetap di dalam paru-paru.

Dalam penelitian terbaru ini, dua orang ilmuwan menguraikan penjelasan baru tentang bagaimana jamur mematikan itu bisa tersebar luas di hutan yang dekat dengan pantai di sepanjang wilayah Pasifik Barat Laut.

Mereka mengatakan bahwa Gempa Bumi Besar Alaska, dengan kekuatan 9,2 magnitudo pada 1964, memainkan peran kunci. Sebagai salah satu gempa bumi terbesar yang pernah tercatat di belahan bumi bagian utara, gempa yang mengguncang Alaska bagian tenggara itu menimbulkan tsunami di sepanjang garis pantai kawasan tersebut, termasuk Pulau Vancouver, demikian juga di Washington dan Oregon, AS.

 Rumah penduduk hancur

Peneliti mengatakan, qir dari tsunami itu lantas membawa jamur itu ke daratan. Jamur itu kemudian 'menjajah' tanah dan pepohonan setempat, dan terpapar dengan proses seleksi biologi dan fisik yang justru meningkatkan daya tular dan dosis racunnya.

"Kami mengajukan gagasan bahwa C. gattii mungkin kehilangan banyak kapasitas infeksinya terhadap manusia ketika ia hidup di air laut," kata salah satu penulis penelitian itu, Dr Arturo Casadevall, dari Universitas Johns Hopkins di Maryland, AS.

"Tapi kemudian ketika ia sampai di tanah, amuba dan organisme tanah lainnya memproses jamur tersebut selama tiga dekade atau lebih hingga muncul jamur C. gattii jenis baru yang bersifat jauh lebih patogen terhadap hewan dan manusia."

Para peneliti mengatakan bahwa air bah dari tsunami diketahui membawa serta jamur berbahaya. Mereka menunjukkan bukti berupa infeksi kulit dan paru yang invasif pada korban. Mereka juga khawatir di masa mendatang, infeksi serupa yang diakibatkan tsunami dan gempa bumi juga terjadi di Indonesia dan Jepang.

"Gagasan baru nan besar di sini yaitu tsunami bisa menjadi mekanisme penting di mana patogen menyebar dari lautan dan mulut sungai ke daratan, dan pada akhirnya ke hewan dan manusia," ujar Dr Casadevall.

Ia melanjutkan, jika hipotesis itu benar, ada kemungkinan wabah C. gattii akan terjadi di kawasan Indonesia yang pernah tersapu tsunami pada 2004 atau tsunami Jepang yang terjadi pada 2011.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini