Share

Selalu Dianggap Berbahaya, Benarkah MSG Bisa Memicu Kanker?

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 03 Oktober 2019 21:31 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 03 481 2112626 selalu-dianggap-berbahaya-benarkah-msg-bisa-memicu-kanker-C3RoePsH16.JPG Ilustrasi MSG (Foto : CBC)

Monosodium Glutamat (MSG) seringkali diidentikkan sebagai salah satu bumbu atau bahan makanan yang dapat memicu berbagai macam jenis penyakit berbahaya. Salah satunya kanker. Namun hingga saat ini, belum ada satu pun penelitian yang dapat membuktikan hal tersebut.

Bahkan, MSG atau yang kini sering disebut dengan istilah ‘micin’, diklaim memainkan peran penting dalam meningkatkan nafsu makan para pasien yang sedang menjalani perawatan intensif. Penelitian ini telah dibuktikan oleh salah satu rumah sakit di Jepang.

“Di Jepang sudah ada rumah sakit yang membuktikan bahwa MSG ampuh menambah nafsu makan. Biasanya pasien-pasien yang sudah usia lanjut akan diberikan tambahan umami atau MSG pada makanannya. Hal ini karena sel saraf di lidah mereka sudah sangat menurun, jadi nafsu makan akan berkurang,” terang Katarina Diah Larasati, selaku Section Manager Product and Nutrition Ajinomoto Indonesia, saat ditemui Okezone di Karawang, Jawa Barat, Kamis (3/10/2019).

Makanan MSG

Katarina menambahkan, dengan menambahkan MSG, cita rasa makanan justru akan menjadi lebih terasa lezat dan lambat laun akan meningkatkan nafsu makan pasien. Hasil penelitian telah membuktikan bahwa pasien yang makan dengan campuran MSG cenderung lebih aktif dan bersemangat.

Mereka tidak lagi bersandar di atas tempat tidur, dan bisa menyantap makanan yang disajikan tanpa bantuan perawat maupun anggota keluarga. Di Indonesia sendiri, penelitian tentang hubungan MSG dengan pasien rumah sakit juga pernah dilakukan.

“Waktu itu kami melakukan penelitian di salah satu rumah sakit di Medan. Jadi pasien yang rawat inap karena didiagnosa TB, diberi MSG pada makanannya. Mereka ternyata lebih cepat sembuh dibanding pasien yang tidak mengonsumsi MSG sama sekali. Karena ya itu, nafsu makan mereka menjadi lebih tinggi,” terangnya.

Katarina tidak memungkiri bahwa MSG memang berbahaya bila dikonsumsi dalam jumlah tertentu. Para peneliti asal Jepang telah melakukan percobaan mengenai hal tersebut.

Mereka menggunakan metode LD 50 kepada ratusan tikus untuk melihat dampak yang ditimbulkan akibat konsumsi MSG berlebiham. Hasilnya pun cukup mengejutkan.

ilustrasi msg

“Batasan yang dianggap toxic atau racun itu sekitar 600 ml. Hampir 150% tikus mati dengan dosis itu. Kalau dilakukan pada manusia, itu berarti kita harus mengonsumsi sekitar ½ kg MSG dalam satu waktu,” ungkap Katarina.

“Kontroversi MSG itu bukan hanya terjadi di Indonesia. Tetapi negara-negara barat juga. Pro dan kontra terjadi mungkin karena produk ini berasal dari Jepang yang notabennya negara Asia,” tandasnya.

Kaitan MSG dengan kanker

Hingga saat ini, masih banyak yang berasumsi bahwa mi instan dan makanan yang mengandung Monosodium Glutamat (MSG) memicu timbulnya kanker. Namun menurut Prof. Aru Sudoyo, Ketua Yayasan Kanker Indonesia, kandungan MSG itu sejatinya hanya mempengaruhi otak manusia sehingga mengubah persepsi tentang cita rasa makanan. Bahkan menjadi lebih enak.

MSG juga tidak langsung merusak DNA sel yang kemudian jadi kanker, tapi efek sampingnya akan membuat seseorang ketagihan untuk mengonsumsinya. Dalam arti lain, bila tidak dikontrol, berat tubuh akan mengalami kenaikan dalam waktu singkat.

“Itulah yang akan menimbulkan risiko kanker,” tutur Prof Aru kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

obes rakus

Lebih lanjut ia menjelaskan, kanker bukanlah sekadar penyakit modern buatan manusia, namun telah ditemukan sejak ribuan tahun lalu. Catatan medis di Mesir dan Yunani menemukan tanda-tanda kanker pada kerangka manusia dari 3000 tahun silam.

Meski gaya hidup, diet, dan polusi udara berdampak pada risiko terkena kanker, hal tersebut tidak sepenuhnya disimpulkan sebagai penyakit modern buatan manusia. Banyak penyebab kanker datang dari alam. Satu dari enam kanker yang mendunia disebabkan oleh berbagai virus dan bakteri.

Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk mencegah kanker adalah dengan menerapkan pola hidup sehat. Ada tiga komponen utama yang harus diperhatikan yakni, menjaga berat badan yang ideal, olahraga teratur, serta mengikuti diet atau mengonsumsi makanan sehat.

“Ketiga komponen ini dipercaya dapat menurunkan risiko terkena kanker hingga 35 persen. Menghindari alkohol berlebihan serta tidak merokok juga dapat menurunkan risiko kanker lebih besar lagi,” tukas Aru.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini