nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sekeluarga Beda 3 Generasi, Seperti Apa Kesulitannya?

Dewi Kania, Jurnalis · Sabtu 05 Oktober 2019 08:09 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 05 196 2113135 sekeluarga-beda-3-generasi-seperti-apa-kesulitannya-fUXvEHNF0o.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

MENIKAH dengan beda usia yang jauh tentu punya banyak tantangan dalam mengurusi rumah tangga. Apalagi, jika sampai menikah berbeda generasi.

Tidak berhenti sampai di situ, saat merawat anaknya yang lahir pun akan memiliki kendala tersendiri. Contoh saja seperti generasi x dengan Y alias milenial. Lantas, bagaimana mengurus anak yang masuk dalam generasi Z sampai generasi alpha?

Generasi X merupakan orang-orang yang lahir di atas tahun 1980-an. Sementara generasi Y biasa disebut generasi milenial, yang lahir antara tahun 1980-an sampai 1990-an. Lalu sebutan generasi Z biasanya menyasar pada anak-anak yang lahir pada tahun 1995 sampai 2010. Selanjutnya, anak-anak yang lahir di era sekarang disebut generasi alpha.

Tak sedikit pasangan menghadapi tantangan berat dalam mengurus anak yang beda generasi. Bukan itu saja, antar-pasangan pun mengalami zaman yang berbeda.

Orang generasi X cenderung pemikirannya dianggap lebih kuno. Sementara orang generasi Y, pemikirannya sudah mulai maju. Lalu anak-anak Z dan generasi alpha, mereka lahir sudah melek teknologi.

baru mengenal adanya teknologi saat beranjak dewasa. Tak sedikit orangtua was-was dalam pola pengasuhan anak.

Berbeda dengan generasi X atau generasi Y, baru mengenal adanya teknologi saat beranjak dewasa. Tak sedikit orangtua was-was dalam pola pengasuhan anak.

Psikolog Meity Arianty mengatakan, setiap generasi masing-masing pasti punya masalah sendiri. Mau menikah dengan generasi yang sama atau berbeda, tetap juga punya masalah.

"Soal menikah tidak ada bedanya, hanya msalahnya saja yang beda. Intinya tergantung pasangan tersebut mau membuat perbedaan menjadi lebar atau mempersempit. Toh semua kembali ke pasangan tersebut," ucap Meity saat dihubungi Okezone.

Ditambahkan Psikolog Rosdiana Setyaningrum, anak generasi Z saat lahir sudah melek teknologi, mereka akan menghadapi tantangan yang berat. Mereka harus dapat belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, terlebih adatapsi lebih dengan orangtuanya.

"Anak-anak yang hebat harus bisa eksplorasi, berpikir kritis, memiliki jiwa kepemimpinan, dan mempunyai empati. Karakter itu harus ada di dalam diri anak generasi Z dan alpha," ucap Rosdiana.

Menurutnya, tidaklah sulit orangtua memberikan pelajaran yang progresif. Tidak hanya berkutat dengan gadget, namun juga harus dekat dengan orang dan lingkungan sekitar.

Namun, mengajarkan mereka untuk membentuk karakter-karakter di atas dianggap sangat mudah. Berdasarkan riset, anak generasi alpha hidupnya seimbang. Mereka tidak hanya berkutat dengan gadget, melainkan juga senang main di luar ruangan.

 Mereka tidak hanya berkutat dengan gadget, melainkan juga senang main di luar ruangan.

Paling tidak batasi anak untuk main gadget selama dua jam sehari. Sisanya, biarkan anak eksplorasi dengan mainan atau bersosialisasi dengan teman.

"Misalnya kalau anak-anak lepas dari gadget, ya sudah, mereka santai menghadapinya. Karena anak-anak ini mudah adaptasi, cara pandangnya juga beda," tutur Rosdiana.

Bahkan, kalau dari segi hubungann keluarga, anak generasi Z dan generasi alpha, cenderung lebih dekat dengan kakek neneknya. Kadang-kadang inilah yang menjadi kendala orangtuanya falam mengasuh anak.

Untuk menyiasati, orangtua yang berbeda usia sebaiknya perlahan-lahan beradaptasi dengan cara pandang si anak. Sebenarnya, mereka lebih senang diberikan contoh dalam berbuat apa saja.

"Mereka tidak suka diberikan nasihat, karena merasa cara belajarnya bukan dari "ceramah" orangtua. Justru dia lebih mudah menangkap kalau diberikan sebuah contoh," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini