nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bisa Picu Kanker, BPOM Tarik Obat Asam Lambung Ranitidin dari Pasaran

Dewi Kania, Jurnalis · Senin 07 Oktober 2019 18:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 07 481 2113964 bisa-picu-kanker-bpom-tarik-obat-asam-lambung-ranitidin-dari-pasaran-7hbNzoNZS0.jpg Ilustrasi obat (Foto : Medicalnewstoday)

Obat Ranitidin sering diresepkan dokter kepada pasien yang mengalami keluhan gejala penyakit asam lambung. Namun kini peredaran Ranitidin ditarik oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) karena memicu kanker.

Sebelumnya, US Food and Drug Administration (US FDA) dan European Medicine Agency (EMA) telah mengeluarkan peringatan tentang adanya temuan cemaran NDMA pada sampel produk obat ranitidin. NDMA tersebut turunan dari zat Nitrosamin yang dapat terbentuk secara alami.

Sementara itu, studi global mengungkapkan bahwa Ranitidin jika dikonsumsi lebih dari 96 mg/hari bisa mengeluarkan zat karsinogenik. Otomatis itu dapat memicu kanker, terlebih kalau dikonsumsi setiap hari.

Obat Asam Lambung

"Menindaklanjuti informasi tersebut, BPOM saat ini sedang melakukan pengambilan dan pengujian beberapa sampel produk ranitidin. Hasil uji sebagian sampel mengandung cemaran NDMA dengan jumlah yang melebihi batas yang diperbolehkan," tutur Kepala BPOM Penny K Lukita lewat siaran persnya, Senin (7/10/2019).

Pengujian dan kajian risiko akan dilanjutkan terhadap seluruh produk yang mengandung ranitidin. Sementara produk obat Ranitidin juga ditarik dari peredaran pasar.

Sementara itu, BPOM juga meminta seluruh industri farmasi yang memegang izin edar Ranitidin, harus melakukan penghentian produksi, distribusi serta melakukan penarikan kembali (recall) seluruh bets produk dari peredaran.

obat ambyar

"Sebagai bentuk tanggung jawab industri farmasi, dalam menjamin mutu dan keamanan obat yang diproduksi dan diedarkan, industri farmasi diwajibkan untuk melakukan pengujian secara mandiri terhadap cemaran NDMA. Juga menarik secara sukarela apabila kandungan cemaran melebihi ambang batas yang diperbolehkan," tambahnya.

Masyarakat pun diimbau untuk berhati-hati dengan adanya peredaran Ranitidin untuk saat ini. Terlebih untuk pasien yang harus mengonsumsi obat Ranitidin, harus dikawal oleh dokter.

"Masyarakat yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang terapi pengobatan yang sedang dijalani menggunakan ranitidin, untuk menghubungi dokter atau apoteker," bebernya.

minum obat lagi

BPOM telah memberikan persetujuan terhadap Ranitidin sejak tahun 1989 melalui kajian evaluasi keamanan, khasiat, dan mutu. Ranitidin tersedia dalam bentuk sediaan tablet, sirup, dan injeksi. Namun adanya informasi terkait temuan baru obat Ranitidin, kini BPOM harus menarik produk tersebut agar demi menjaga keselamatan masyarakat.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini