nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Penyakit Autoimun yang Diidap Ashanty, Akui Sempat Susah Tidur

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 08 Oktober 2019 20:47 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 08 481 2114482 mengenal-penyakit-autoimun-yang-diidap-ashanty-akui-sempat-susah-tidur-lvGbxcd3mJ.jpg Ashanty terkejut idap penyakit autoimun (Foto : @ashanty_ash/Instagram)

Ashanty secara mengejutkan mengungkapkan bahwa dirinya mengidap penyakit autoimun. Kabar ini ia umumkan melalui unggahan foto di akun instagram pribadinya.

"Hari ini niat mau nganter mas Anang DSA (check up detail kepala, jantung dll). Tiba-tiba disuruh juga check up supaya sehat dan ternyata yang selama ini selalu aku keluhkan ketahuan," tulis Ashanty pada keterangan foto.

Ia menambahkan bahwa selama ini ia memang sering merasakan beberapa gejala penyakit seperti susah tidur, mudah stres, mudah lupa, hingga mudah khawatir. "Diagnosa awal kaget banget, aku kena ‘auto immune’ sesuatu yang nggak pernah saya bayangkan, dengarnya aja seram," tambahnya.

Ashanty idap autoimun

Lantas, apa sebenarnya penyakit autoimun yang diderita oleh istri Anang Hermansyah itu? Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut Okezone rangkumkan ulasan lengkapnya.

Penyakit autoimun sendiri mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat Indonesia. Penyakit ini memang baru mencuat dalam 1 dekade terakhir di Indonesia. Padahal, penderita penyakit autoimun di dalam negeri cukup banyak dan memerulkan perhatian khusus dari berbagai pihak.

Penyakit ini umumnya berlangsung lama sehingga para penderita atau disebut dengan odamun (orang dengan autoimun) akan membawa penyakit tersebut seumur hidupnya, baik dalam keadaan penyakit yang aktif maupun terkontrol dalam pemantauan. Pasalnya, dalam beberapa kasus penyakit autoimun dapat kambuh sewaktu-waku dan dampaknya sangat besar bagi kehidupan para penderita.

Dalam perkembangannya, penyebab penyakit autoimun belum dapat diketahui secara pasti, sehingga belum dapat disembuhkan. Menurut Dr. dr Iris Rengganis, SpPD-KAI, dokter spesialis penyakit dalam dan ahli di bidang Autoimun, ada sejumlah faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang terkena penyakit autoimun seperti dialami Ashanty.

“Pertama, bisa karena faktor genetika atau faktor keturunan. Kemudian faktor lingkungan dan gaya hidup yang tidak sehat, faktor hormonal, serta infeksi. Beberapa penyakit autoimun dipicu atau diperburuk oleh infeksi tertentu,” tutur Iris Rengganis, saat ditemui Okezone beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Iris menjelaskan, jenis kelamin juga berpengaruh dalam memicu timbulnya penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh itu. Perempuan dinilai sangat rentan terkena autoimun karena menurut penelitian, kekurangan vitamin D di Indonesia umumnya terjadi pada kaum wanita.

konsultasi ke dokter tampan

(Foto : Ilustrasi)

Setidaknya sekitar 50% wanita Indonesia dengan rentan umur 45-55 tahun diklaim mengalami kekurangan vitamin D. Sementara pada rentan usia 18-40 tahun, angkanya terbilang tinggi hingga mencapai 63%.

Secara umum, penyakit autoimun terbagi dua yaitu, penyakit autoimun sistemik dan spesifik organ. Penyakit autoimun sistemik berarti penyakit dapat menyerang seluruh tubuh atau organ dan jaringan, contohnya penyakit Lupus Eritematosus Sistemik (systemic lupus erythematosus/SLE), artitis rheumatoid (RA), dan sindrom sjogren.

Sementara penyakit autoimun spesifik organ berarti berarti penyakit meneyerang satu organ tertentu, contohnya Grave’s Disease dan Hasimoto’s Disease (menyerang kelenjar gondok/tiroid) atau Addison’s Disease (menyerang kelenjar anak ginjal/adrenaline).

pautri ke dokter

(Foto : Ilustrasi)

Di Indonesia sendiri, penyakit autoimun yang paling sering ditemukan adalah Systemic Lupus Erythematosus (SLE) dan artitis rheumatoid (RA) atau yang dikenal dengan istilah rematik. Namun kurangnya edukasi dan sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah serta lembaga terkait, membuat masyarakat awam kesulitan untuk mengetahui lebih rinci tentang bahaya dari penyakit tersebut.

“Masih ada kesalahan persepsi. Banyak yang menganggap bahwa kondisi tubuh yang cepat lelah dikaitkan sebagai penyakit musiman biasa. Padahal, bisa saja hal tersebut menjadi salah satu gejala penyakit autoimun atau lupus, sehingga diperlukan edukasi dan deteksi dini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat," tukasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini