nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pakar Pariwisata : Potensi Wisata Indonesia Hanya Sekadar Political Words

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 09 Oktober 2019 19:44 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 09 406 2114910 pakar-pariwisata-potensi-wisata-indonesia-hanya-sekadar-political-words-6YtbYvUM6k.jpg Pariwisata Indonesia (Foto : @jokowi/Instagram))

Pakar pariwisata Professor Nicolaus Lunanauw PhD menegaskan bahwa, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi pemerintah bila ingin memajukan sektor pariwisata dalam negeri. Pernyataan tersebut ia kaitkan dengan kondisi museum dan objek-objek pariwisata di Indonesia yang masih belum maksimal dikelola.

Menurutnya, perkembangan kehidupan manusia saat ini sudah masuk dalam dunia pemograman. Dengan kata lain, seluruh komponen-komponen yang dinilai dapat menunjang sektor pariwisata harus segara diprogramkan dengan baik.

Ambil contoh museum. Museum selama ini dikenal sebagai objek wisata yang menyimpan berbagai benda bersejarah. Fungsinya pun terbilang beragam, mulai dari perpustakaan, tempat exhibition, tempat penelitian dan masih banyak lagi.

Namun bila menilik benda-benda yang ada di tempat tersebut, apakah sudah benar-benar layak untuk dipamerkan kepada wisatawan?

Menjawab pertanyaan tersebut, Profesor Nicolaus menegaskan bahwa seluruh museum di Indonesia harus sudah mulai menerapkan konsep enjoy learning method. Dalam hal ini, museum harus dikurasi secara serius sehingga tidak menjadi gudang barang rongsokkan.

"Di samping itu, kita juga harus menyediakan kondaktor guide yang akan menjelaskan informasi secara bertahap, atau chapter to chapter. Bila tidak, sama saja seperti sedang melihat barang-barang usang karena pengunjung tidak mendapat informasi yang tepat," tegasnya.

Pulau Onrust

(Foto: Tourismworldtravel)

Nicolaus kemudian mencontohkan Pulau Onrust di Kepulauan Seribu yang menurutnya bisa dikurasikan sehingga nantinya akan menarik minat banyak wisatawan. Namun untuk memaksimalkan hal tersebut, memang dibutuhkan proses yang cukup panjang dan melewati sejumlah tantangan.

Salah satu tantangannya adalah bagaimana membuat produk-produk lokal memiliki efek yang besar terhadap pariwisata. "Sekarang saya tanya, souvenir itu apa sih? Banyak orang yang bilang souvenir adalah cinderamata. Pada hakikatnya, souvenir itu adalah barang yang mensertifikasi wisatawan bahwa mereka pernah mengunjungi suatu objek wisata," ungkap Profesor Nicolaus.

Permasalan ini memang cukup pelik, karena menurut Nicolaus, pemerintah masih belum bisa mengukur value atau nilai yang ditawarkan oleh sebuah destinasi wisata.

Raja Ampat

(Foto: jokowi/Instagram)

Padahal, sektor pariwisata menjadi satu-satunya sektor yang bisa diandalkan Indonesia di kancah internasional. Bila, value pariwisata di dalam negeri sendiri belum diketahui, bagaimana bisa investasi masuk.

"Saya lihat investasi untuk pariwisata di Indonesia itu masih minim. Karena apa? Karena potensi wisata yang selama ini kita gaungkan hanya sekadar lip service atau political words semata. Belum ada yang tahu secara pasti karena memang belum dihitung atau diukur," kata Nicolaus.

Profesor bacot

"Di luar negeri, suatu kota baru bisa dikatakan kota sisata karena mereka sudah disertifikasi dan berhasil memenuhi index-index tertentu. Sekarang kita coba lihat di Indonesia, begitu mudahnya kita menobatkan suata daerah menjadi desa atau kota wisata, padahal potensinya sendiri masih abu-abu," tukasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini