nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Serunya Melihat Atraksi Ikan Paus, Lumba-Lumba dan Penguin di Alam Liar Australia

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Jum'at 11 Oktober 2019 17:46 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 11 406 2115815 serunya-melihat-atraksi-ikan-paus-lumba-lumba-dan-penguin-di-alam-liar-australia-Tsks93Od1U.jpg Skull Rock di Taman Nasional Wilsons Promontory, Victoria, Australia (Foto: Saifulloh/Okezone)

VICTORIA – Melihat aksi lumba-lumba, ikan paus, singa laut dan penguin di kebun binatang sudah menjadi hal lumrah. Tapi apa jadinya jika menyaksikan langsung atraksi ketiga hewan tersebut di habitat aslinya? Alam liar Australia menyuguhkan segalanya.

Di taman nasional Wilsons Promontory, ujung paling selatan daratan Australia, kita akan menyaksikan langsung atraksi ikan paus, lumba-lumba, singa laut, penguin dan burung-burung liar di alam liar. Habitat asli mereka tak terusik karena masuk wilayah konservasi. Selain itu, lokasinya juga sangat sulit dijangkau oleh manusia. Dari darat untuk mencapai lokasi River Tidal dan South point di mana para satwa ini hidup membutuhkan perjuangan panjang. Diperlukan waktu nyaris seharian untuk berjalan kaki melewati perbukitan terjal menembus alam liar Australia.

Satu-satunya akses yang mudah untuk mencapai lokasi ini adalah lewat perairan. Tapi tentu bukan perkara mudah juga karena ombak di Teluk Bass sangat besar dan batu karang terjal membentang sepanjang mata memandang.

Kapal cruise untuk menonton ikan paus

Okezone bersama rombongan Visit Victoria berkesempatan untuk menyambangi satwa liar ini melalui jalur laut. Menggunakan kapal cruise amfibi menerjang ombak besar membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk menuju lokasi. Jangan ditanya keseruannya karena bakal membuat jantung berdenyut kencang.

Wisatawan menjelajahi perairan australia

Udara dingin yang mencapai 9 derajat celsius membuat rombongan harus memakai jas hujan yang menutupi ujung kepala sampai kaki. Jaket dan baju yang dipakai juga berlapis. Hasilnya, tetap saja hawa dingin masih menusuk sampai ke ulu hati karena angin bertiup kencang. Untung saja rasa dingin ini agak teralihkan dengan kekaguman terhadap kapal amfibi milik Robert Pennicott yang akan membawa kami berpetualang.

Satu roda raksasa di bagian depan serta dua lagi di belakang menjadikan kapal Robert tak perlu dermaga untuk berlabuh. Ya, roda-roda itu membuat kapal dapat berjalan di pantai dan tetap lincah di perairan karena di topang mesin yang kuat. Layaknya sebuah pesawat, untuk naik ke kapal diperlukan tangga yang ditempel ke truk kecil. Dari tangga itulah kami naik ke atas kapal berkapasitas 25 kursi untuk penumpang.

Sesaat sebelum berangkat, Robert memberikan penjelasan tentang standar keamanan. Kami pun ditawari pil anti mabuk dengan dosis minimal dua butir per orang. Saya sempat menolak untuk meminumnya, tapi apa salahnya untuk jaga-jaga karena nyaris semua orang meminumnya.

Pantai di Australia

Mesin pun menderu dan Robert memberi aba-aba kapal untuk segera berlayar setelah semua dicek sudah memakai sabuk pengaman dan pelampung. Dari bibir pantai Norman Beach di North Bay Wilson Promontory, roda kapal pun berputar menggerakkan kapal ke arah perairan menuju South Point.

Begitu kapal menyentuh air sensasi baru berupa goyangan naik turun mulai terasa, persis seperti yang digambarkan Robert sebelum perjalanan dimulai. Mesin pun berganti, yang tadi mendorong roda-roda raksasa kini menggerakkan baling-baling kapal. Jangan ditanya kecepatannya karena membuat kapal menderu dan meloncat-loncat di atas ombak, cukup membuat mual perut dan pusing kepala.

Robert menemani penumpang

Beruntung, saya dapat posisi duduk di bagian belakang sehingga goncangan tak begitu besar, apa jadinya jika memilih posisi di bagian depan kapal tentu akan lebih kencang teriakan yang keluar. Berbeda dengan Robert dan kru kapal yang kelihatan begitu rileks, mereka berjalan di pinggiran kapal bergerak dari belakang dan depan sambil menanyai satu per satu penumpang kondisinya. Semua menjawab oke meski dalam hati tak henti melantunkan doa. Lebih dari satu jam semua berjibaku dengan angin kencang, ombak dan udara dingin yang menusuk.

Di sepanjang perjalanan terbentang deretan tebing karang raksasa. Burung camar dan rombongan burung lain terbang di atas kapal. Robert memberi tahu tips sederhana agar penumpang tak mual, cukup pandangi saja deretan tebing di sepanjang pantai di sisi kiri. Sementara di sisi kanan Robert menunjuk daratan yang tampak begitu mungil nun jauh di sana sebagai Tasmania. Ya, Teluk Bass yang kami jelajahi tak jauh dari perbatasan Australian dan Tasmania.

Tebing terjal di pantai

Ketegangan dan rasa pasrah yang membuncah akhirnya cair juga ketika mesin kapal perlahan diturunkan kecepatannya setelah dua ekor lumba-lumba tampak berenang di sisi kiri kapal.

Lumba lumba di alam liar

Kapal pun meluncur mengikuti arus ombak dan tak lama kemudian di sisi kanan, kiri dan depan kapal rombongan lumba-lumba silih berganti berselancar bermain bersama ombak. Sungguh luar biasa.

Mercusuar di Australia

Kapal pun kembali bergerak melewati formasi tebing yang di atasnya ada mercusuar. Sekira 10 menit kemudian Robert menunjuk ke arah bebatuan dan tebing yang perairannya dikelilingi tumbuhan berbentuk memanjang seperti lumut warna ungu tua dan kehitam-hitaman. Dia menyebutnya tea trees yang dapat dijadikan bahan kosmetik dan obat-obatan. Wilayah ini disebut sebagai River Tidal.

Bertemu Empat Ikan Paus

Perjalanan kami berlanjut sampai kru kapal berteriak ada ikan paus. Semua mata pun tertuju ke titik yang ditunjuk di kejauhan dan benar saja hempasan ekor ikan paus terlihat membelah lautan. Itu ikan paus pertama yang kami lihat hari ini.

Ikan paung bongkok di australia

(Foto: Instagram Australia)

Sementara itu di sisi kanan kiri dan depan belakang kapal rombongan ikan lumba-lumba berkejaran tiada henti. Muncul pula beberapa singa laut yang malu-malu dan menjauh begitu tahu kedatangan tamu tak diundang. Hanya berjarak sepelemparan batu, terlihat pula koloni penguin di atas bebatuan karang, mereka terlihat santai menikmati suasana tanpa terusik kehadiran manusia.

Kekhusukan kami menikmati kawanan ikan lumba-lumba, singa laut, penguin dan burung-burung liar kembali pecah saat kru kapal berteriak ada ikan paus kedua yang terlihat sambil menunjuk arah. Benar saja, terlihat pecahan ombak dan ekor ikan paus di kejauhan. Kapal pun diarahkan mendekat ke lokasi penampakan ikan paus dan kembali ikan raksasa itu berenang semakin menjauh.

Perairan australia

Kami pun diarahkan kembali mendekati formasi tebing-tebing menjulang tinggi dan perairan di sekitarnya. Perhatian rombongan tertuju lagi ke rombongan ikan lumba-lumba yang tiada henti menari-nari. Teriakan kru kapal kembali terdengar, kali ini menunjuk ke arah kerumunan burung-burung yang terbang di atas laut. Tak lama berselang muncul ikan paus yang terlihat membuka mulut tengah menikmati makan siangnya. Sungguh sempurna.

Ikan paus ke empat pun muncul lagi di arah yang berbeda. Pertama terlihat ekor dan punggungnya saja, kemudian nyaris seluruh tubuhnya. Robert pun berteriak, itu ikan paus keempat yang kita lihat, tapi bisa saja hanya satu ikan paus tapi dari tadi terus mengikuti kita, kelakarnya.

Pulau Kanowna, Markas Singa Laut

Singa laut liar di aussie

(Foto: Instagram Australia)

Puas berjumpa empat ikan paus, puluhan lumba-lumba dan ratusan penguin, kami pun diajak menyambangi markas singa laut. Lokasinya tak jauh sekira 15 menit perjalanan. Kapal berhenti di deretan karang besar menjulang tinggi di tengah laut dan astaga puluhan atau bahkan ratusan singa laut berjemur cantik di atasnya.

Singa laut berjemur

Ada tiga batu karang yang dipisahkan perairan, semuanya penuh dengan singa laut yang menikmati cahaya matahari. Mereka agak malu-malu diabadikan gambarnya, ketika kamera diarahkan ke deretan batu karang, beberapa singa laut bergerak menjauh. Tapi begitu kapal bergerak agak menjauh mereka kembali ke tempat semula.

Pulau Kanowna dikenal sebagai surganya singa laut. Ribuan ekor singa laut diperkirakan hidup di pulau ini. Mereka berkembang biak di alam liar.

Pulau Anser, Surganya Burung

Burung laut ini bersarang di alam liar

(Foto: Instagram Australia)

Kapal kembali bergerak menuju karang yang menjulang tinggi sebesar gedung-gedung perkantoran di Jakarta. Ya, tebing-tebing tinggi yang dikelilingi perairan itu jadi surga tempat bersarang ratusan atau bahkan ribuan burung laut dan spesies burung lainnya.

Terlihat burung-burung bercengkrama di atas tebing dan bersarang di bagian-bagian yang sulit terjamah manusia. Pulau Anser bahkan dijuluki sebagai Birdlife Internasional karena peranan pentingnya dalam menjaga kelestarian burung.

Skull Rock

Tebing terjal di Australia

Sebagai penutup keseruan hari ini, rombongan diajak menuju tebing tengkorak alias Skull Rock. Iya, bentuknya persis tengkorak manusia dengan ukuran raksasa. Tebing ini tak bisa dijangkau dengan kapal karena karangnya yang terjal dan ombak tinggi, sehingga kapal nyaris mustahil bersandar. Satu-satunya cara untuk naik ke tebing tersebut adalah menggunakan helikopter, kata salah seorang kru Pennincot Wilderness Journey Promontory Cruises.

Rombongan pun kembali ke Norman Beach di North Bay Wilson Promontory. Dibutuhkan waktu sekira sejaman dari Skull Rock, sehingga total perjalanan menikmati atrasi melihat ikan paus, lumba-lumba, penguin, singa laut dan burung-burung di alam liar, menghabiskan waktu sekira 2,5 jam.

Lalu berapa harga yang harus dibayar untuk menikmati petualangan ini?

Robert menjelaskan, harga tiket untuk orang dewasa sebesar 135 dollar Australia dan 85 dollar Australia untuk anak anak. Ada juga harga paket untuk 3 anak dan dua orang dewasa sebesar 450 dollar Australia.

Kami beruntung menikmati semua ini secara gratis, apalagi fasilitas menyaksikan keindahan alam liar Australia dengan kapal cruise ini baru dibuka beberapa pekan lalu. Baru sedikit orang yang sudah mencicipi kenikmatan menyaksikan ikan paus, lumba-lumba, singa laut, penguin dan burung laut secara langsung di alam liar Australia. Agak mahal memang harganya, ditambah perlu nyali berjibaku dengan ombak besar dan udara dingin di luar sana.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini