nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Haru Kartini Alami Keguguran : Siti Hawa Meninggal di Ujung Rahimku

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Minggu 13 Oktober 2019 06:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 11 612 2115743 kisah-haru-kartini-alami-keguguran-siti-hawa-meninggal-di-ujung-rahimku-v22GbE9xUF.jpg Kisah haru Kartini alami keguguran (Foto : Sukardi/Okezone)

Perasaan sedih tak bisa ditutupi saat Okezone meminta Kartini kembali menceritakan pengalamannya 27 tahun yang lalu. Di momen itu, dia mesti kehilangan anak kedua karena keguguran.

Matanya berkaca-kaca, teringat kembali kejadian mengharukan itu. Tapi, dengan terbata-bata, Kartini memulai cerita keguguran itu dengan tarikan napas panjang. "Iya, jadi gini ceritanya..." katanya memulai.

Kartini menceritakan keguguran ini terjadi di usia kehamilan tujuh bulan. Singkat cerita, suatu hari dirinya pergi kondangan ke rumah sanak saudara. Di perjalanan, Kartini merasa ada yang tidak beres dengan perutnya, terlebih kondisi jalan berlubang dan itu membuat perutnya banyak terguncang.

Kejadian itu diakui Kartini membuat perutnya sangat sakit. Setelah itu, dirinya dibantu saudara untuk menenangkan rasa sakitnya dengan dipijat. Tidak berlangsung lama, darah malah keluar dari Miss V.

"Saya kira ini bagian dari proses kelahiran, ternyata bukan," ungkap Kartini di tempat kerjanya di kawasan Tangerang Selatan, Jumat 11 Oktober 2019.

Pendarahan yang terjadi tidak berhenti dan dia dilarikan ke bidan. Di sini dia mendapatkan penanganan untuk pereda keluarnya darah. Tapi, tindakan lebih intensif perlu dilakukan, akhirnya Kartini dibawa ke rumah sakit.

Di sini, dia mendapati kabar kalau dirinya bukan hendak melahirkan, tetapi ada penyakit lain yang menyebabkan pendarahan. Adalah usus buntu level lanjutan, karena sudah sangat bengkak.

Umi Kartini

Karena kondisi itu, dia mesti menjalani tindakan operasi. Ini adalah tindakan yang mesti dilakukan, karena dia dihadapkan pada pilihan; ibu yang selamat atau bayi yang selamat. Berdasar keputusan keluarga, bayi yang harus dipertaruhkan nyawanya.

Dalam proses pemulihan, sambung Kartini, bayi yang ada di dalam kandungan mulai memberi respons negatif. Tubuhnya tidak aktif bergerak dan ini ditandai dengan kontraksi yang sebentar.

Dia coba mencari tahu kenapa itu bisa terjadi. Dalam penjelasan dokter, kurangnya kontraksi diakibatkan si bayi terkena dampak dari bius yang diberikan sebelum operasi usus buntu dilakukan.

"Zaman dulu, yang dikasih itu bukan bius lokal, melainkan total. Jadi, seluruh tubuh kena dampaknya dan itu berpengaruh pada bayi yang saya kandung," paparnya haru.

Selang beberapa hari perawatan, perut kembali sakit, rasa mulas itu datang. Dia berharap ini adalah momen di saat dirinya bisa melahirkan si jabang bayi yang usianya sebetulnya belum cukup untuk dilahirkan. Ya, Siti Hawa, nama bayinya yang telah meninggal, dilahirkan saat berusia 8 bulan kurang.

Tindakan persalinan pun disiapkan. Kartini mengaku pasrah dengan semuanya, termasuk risiko keguguran. Dia coba menyerahkan diri dan kandungannya hanya pada Allah SWT. Proses persalinan dilakukan.

Karena kondisi bayi yang sejatinya tidak bermasalah, persalinan normal pun dipilih. Perut Kartini terus terasa sakit. Dia dapat merasakan kepala bayinya itu sudah ada di pangkal Miss V. Sudah siap dilahirkan.

"Tapi, ada penyesalan saat dokter tidak mengetahui itu sehingga butuh beberapa waktu menunggu hingga tindakan persalinan benar dilakukan. Dan karena kejadian itu, Siti Hawa meninggal dunia di ujung Miss V saya," terang Kartini.

Umi Kartini di TK

Saat bayi itu berhasil diangkat dari rahim, Kartini menjelaskan kalau tubuhnya gosong, sudah bukan biru lagi. Tangis haru pecah seketika. Dia tidak menyangka bayi cantiknya itu terlahir dengan kondisi demikian.

Suaminya lantas bergegas membawa keluar bayi malang itu dan proses pemakaman segera direncanakan hari itu juga. "Kelahirannya siang, makanya langsung dimakamkan," sambungnya.

Kartini mengaku, dirinya tidak melihat secara jelas bayi mungilnya itu. Suster melarangnya demi menjaga kestabilan jiwa. Kartini paham hal tersebut, makanya dia hanya bisa ikhlas melepas bayi yang dia sayang betul tersebut.

"Butuh waktu bertahun-tahun sampai akhirnya saya ikhlas atas kepergian Siti Hawa. Meski begitu, saya tahu ini jalan terbaik dari Allah dan kita sebagai umatnya hanya bisa pasrah," tutur Kartini kemudian menyeka air mata.

Umi Kartini bareng papa

Sebelum berpisah, Kartini coba memberikan nasihat kepada ibu hamil di usia kandungan 7 bulan atau mereka yang sudah mau melahirkan. Kartini menuturkan, jika ada hal yang aneh terjadi pada kandungan Anda, maka langsung periksakan.

"Jangan pernah sepelekan tanda aneh yang terjadi, karena itu bisa saja bermakna besar pada kelangsunan hidup janin dan Anda sebagai ibunya. Ya, terkait dengan keguguran, sekali lagi, sudah sepatutnya kita ikhlas dan menyerahkan ini semua pada Allah," tambahnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini