nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ternyata Baru Sepertiga Masyarakat Indonesia yang Paham Merawat Luka

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Sabtu 12 Oktober 2019 16:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 12 481 2116105 ternyata-baru-sepertiga-masyarakat-indonesia-yang-paham-merawat-luka-TLen8jfJnj.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

DOKTER spesialis luka, Dr. Adisaputra Ramadhinara menegaskan bahwa masyarakat Indonesia masih menyepelekan luka. Bahkan, berdasarkan sebuah riset yang dilakukan pada 2018, hanya 30% masyarakat yang merawat luka dengan tepat.

Ini berarti masih ada 70% masyarakat yang belum mengetahui atau justru menyepelekan luka yang dideritanya. Kesalahan mindset tersebut tidak terlepas dari banyaknya mitos-mitos yang berkembang seputar perawatan luka.

"Ada yang bilang luka harus dibiarkan terbuka agar cepat kering dan sembuh. Sebenarnya, luka sekecil apapun harus dirawat dengan tepat untuk mencegah terjadinya infeksi," tutur Dr. Adisaputra Ramadhinara dalam acara peluncuran Hansaplast JUMBO, di kawasan Candi Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Padahal, dokter Adi menambahkan, perawatan luka yang tepat sebenarnya bukan hal sulit. Bisa dimulai dengan membersihkan luka menggunakan cairan antiseptik atau air mengalir. Namun sekali lagi, ini tergantung dengan jenis luka itu sendiri.

cairan antiseptik atau air mengalir. Namun sekali lagi, ini tergantung dengan jenis luka itu sendiri.

Untuk luka bakar seperti jenis terkena panci panas atau knalpot motor, sebaiknya langsung diberi air mengalir selama kurang lebih 15-20 menit untuk membuang uap panasnya. Cara ini dimaksudkan agar efek dari luka itu tidak merusak jaringan lain di sekitarnya.

Setelah dibersihkan, langkah selanjutnya adalah menutup luka dengan plester yang bisa membantu mengurangi rasa nyeri, serta melindungi luka dari trauma seperti gesekan dan benturan.

"Ingat, plester pun perlu diganti secara rutin dan luka harus dibersihkan setiap kali mengganti plester. Idealnya ganti plester itu sehabis mandi, jadi kita bisa melihat perkembangan luka. Jangan tunggu sampai plesternya bulukkan," tegas Adi.

Salah satu yang populer adalah mengobati luka lecetnya dengan alkohol. Alasan paling seringnya mungkin berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi waktu. Tapi benarkah logika ini?

Penggunaan alkohol untuk pengobatan itu sebetulnya kurang tepat. Sayangnya, persepsi ini kemudian diamini banyak masyarakat dan ternyata tidak sepenuhnya benar.

Sayangnya, persepsi ini kemudian diamini banyak masyarakat dan ternyata tidak sepenuhnya benar.

Pasalnya, alkohol itu mempunyai sifat antimikroba sebelum dia menguap. Nah, ketika Anda mengaplikasikan alkohol di luka, di sana terjadi proses penguapan antimikroba dan ini yang kemudian membuat efektivitas alkohol sebagai penyembuh kurang ampuh.

Dengan kata lain, alkohol itu tidak cukup baik untuk mengobati luka, bagaimana pun kondisinya. Cairan tersebut, lebih tepatnya dijadikan cairan desinfektan yang mana fungsinya adalah menetralisasi kulit.

Oleh karena itu, pemberian alkohol biasanya dilakukan sebelum melakukan tindakan medis. Ini sebetulnya berkaitan dengan meminimalisir paparan kuman di titik yang ingin diobati. Alkohol tidak sampai memiliki fungsi mengobati luka.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini