nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Nia Hampir Meninggal Dunia Karena 2 Kali Keguguran

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Minggu 13 Oktober 2019 16:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 13 481 2116301 cerita-nia-hampir-meninggal-dunia-karena-2-kali-keguguran-4dZSXB3NbR.jpg Ilustrasi (Foto : Medicalnewstoday)

Ibu hamil bakal bertaruh nyawa ketika dihadapkan pada proses kehamilan. Tapi faktanya, mereka mempertaruhkan nyawa saat dinyatakan hamil. Sebab, ketika si ibu hamil mengandung, maka ada beberapa risiko yang harus dia hadapi, salah satunya keguguran.

Masalah yang satu ini menjadi mimpi buruk bagi semua ibu hamil. Mereka tentu akan menghindari berbagai faktor risiko dari keguguran. Tapi, bagaimana pun Tuhan sudah punya jalannya dan itu yang diamini Nia (nama samaran).

Nia masih ingat bagaimana pengalaman dia merasakan 2 kali keguguran dalam hidup. Dua peristiwa itu dia lalui dengan sangat dramatis, bahkan dia mengatakan, dirinya hampior saja meninggal dunia karena keguguran. Pada Okezone Nia coba menjelaskan bagaimana peristiwa tersebut.

"Hamil pertama aku enggak peka dengan keadaan, beraktivitas seperti biasa, karena di tubuh aku enggak terasa ada tanda-tanda kehamilan, tapi memang saat itu merasa terlambat datang bulan," paparnya pada Okezone melalui pesan singkat, Jumat 11 Oktober 2019.

nia sedih

(Ilustrasi)

Singkat cerita, Nia menuturkan, pada April 2015 dini hari, perut rasanya amat mulas. Waktu itu Nia pulang tengah malam karena ada kegiatan yang padat dari pagi. Sesampainya di rumah sendirian, tapi perut semakin mulas, enggak enak. Akhirnya merasakan sendirian, mau cerita takut atau malas terkesan cuek sama diri sendiri.

Sampai jelang Subuh rasanya susah tidur, kepala sudah mulai pusing, lama-lama ada darah keluar. "Seingatku 2 bulan enggak datang bulan. Lalu ke kamar mandi niatnya untuk bersihkan darah, tapi kok enggak habis-habis. Malah banyak gumpalan darah hitam yang muncul. Akhirnya 'browsing' ternyata itu darah keguguran," cerita Nia.

Setelah kejadian itu, Nia lantas menghubungi orang rumah agar segera pulang dan rumah sakit terdekat agar ditolong. Tapi, menurut penjelasan Nia, pertolongan datang lumayan lama, darah semakin banyak keluar, kepala sudah pusing, nggak ada tenaga, rasanya mau mati. "Pastinya sudah kebayang yang aneh-aneh, aku pasrah," sambungnya.

Ketika itu hari mulai terang, Nia baru dibawa ke rumah sakit naik ambulance. Rasanya sudah enggak ada tenaga, masuk UGD dan melaukan tes urin dan tes darah. Setelah itu, hasil keluar dan benar saja, Nia dinyatakan keguguran. Pedih, rasanya teriris walau pun enggak ada energi.

Parahnya lagi, Nia sudah kehabisan darah berliter-liter. Bayangkan gimana tubuh jadi enggak lemas, ternyata banyak darah keluar. Ditambah punya riwayat Darah Hb rendah.

dia sendiri

Setelah dapat pertolongan kedua, dokter sebut Nia harus menjalani kuretase. "Duh, apalagi ini. Membayangkan sakitnya, karena ada benda tajam yang masuk ke rahim untuk membersihkan sisa darah, apalagi dokter bilang enggak dibius total. Entah janinnya bentuknya gimana karena usia kehamilannya masih belasan minggu," paparnya.

Lalu, Nia kira merasa sudah lega pasca-kuretase hanya dengan bedrest biasa. Tapi, dia harus transfusi darah sampai empat kantung, sampai akhirnya dirawat di rumah sakit sekira empat hari.

Selang tiga bulan Nia mengaku hamil kedua kalinya. Lagi-lagi gagal karena dia tidak peka dengan kondisinya. Saat hamil muda, aktivitas saja seperti biasa, jalan kaki, naik turun tangga enggak ada keluhan capek seperti orang yang hamil.

Tapi, sudah merasa juga sebenarnya, karena terlambat datang bulan sebulan waktu itu. Nia mengaku sempat mau cek ke dokter, tapi selalu 'bad feeling'. Sehari sebelum pergi ke dokter, eh keguguran datang lagi. Kejadiannya sama, ada perdarahan hebat sampai ada gumpalan-gumpalan. "Musibah apa lagi ini, apa memang aku harus benar-benar mempertaruhkan nyawa di sini?" kata Nia.

Akhirnya cepat dapat pertolongan saat itu karena sudah pengalaman yang pertama. Sampai di IGD ditangani, tapi harus nunggu dokter kandungan, karena kejadiannya lagi-lagi Subuh.

nia galau

(Ilustrasi)

Setelah bertemu dokter, diputuskanlah kuretase. Tapi prosesnya yang ini beda, rumah sakitnya lebih 'high-class' standarnya, jadi dikuretase dan dibius total alias Nia enggak dibuat sadar, serta langsung merasakan prosesnya.

Pasca-kuretase, lagi, darah Hb Nia rendah, energi habis karena darah normal keluar banyak karena keguguran. Dokter pun mengutusnya untuk bedrest di rumah sakit semalam. Setelahnya, konsultasi lagi, diperketat, untuk menyiapkan kehamilan selanjutnya.

"Selang tiga bulan, kehamilan ketiga datang, jadilah anak yang sekarang dia besarkan," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini