nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Nurul, Meninggal Setelah Melahirkan Akibat Preeklampsia

Tiara Putri, Jurnalis · Minggu 13 Oktober 2019 21:25 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 13 481 2116346 kisah-nurul-meninggal-setelah-melahirkan-akibat-preeklampsia-kMyZ7i02M5.jpeg Ilustrasi (Foto: Huffpost)

Preeklampsia masih menjadi salah satu penyebab utama kematian pada ibu hamil. Masih belum jelas penyebab utama terjadinya preeklampsia. Hanya saja ada faktor risiko yang membuat kemungkinan terjadinya preeklampsia menjadi lebih besar. Salah satunya adalah hamil untuk pertama kali.

Hal itulah yang dialami oleh almarhumah Nurul Isnindianingsih. Dirinya meninggal karena preeklampsia sesaat setelah melahirkan anak pertamanya pada bulan Maret lalu. Kepada Okezone, sang suami Farabi Firdausy menceritakan kronologi peristiwa duka itu.

Pada awalnya di usia kandungan 37 minggu, almarhumah Nurul mengalami demam tinggi. Hari pertama demam tinggi ia langsung dibawa ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan, almarhumah ternyata terkena demam berdarah dengue (DBD) sehingga harus menjalani rawat inap.

 Perempuan di rumah sakit

"Tapi sudah empat hari (dirawat), dengan segala penanganan maksimal plus transfusi trombosit, kondisi almarhumah istri saya terus melemah. Ternyata setelah dicek ada preeklampsia,” ucap Farabi saat dihubungi melalui pesan singkat beberapa waktu silam.

Dalam kondisi sehat, preeklampsia membuat ibu hamil harus melahirkan lebih cepat dari perkiraan waktu. Sebab bila tidak, bisa terjadi komplikasi serius pada ibu dan janin dalam kandungan. Preeklampsia menyebabkan plasenta menjadi abnormal sehingga membuat pasokan nutrisi pada janin terganggu.

Sedangkan yang terjadi pada almarhumah Nurul, kondisinya tidak memungkinkan untuk segera menjalani operasi melahirkan. Dokter mengatakan preeklampsia yang dialami oleh almarhumah tergolong berat dan ketika itu trombositnya sangat rendah. Hal ini membuat Farabi berpikir agar operasi dijalankan ketika kondisi sang istri sudah benar-benar stabil.

“Tapi tiba-tiba istri saya kejang yang merupakan efek preeklampsia sehingga sudah enggak ada pilihan selain operasi,” imbuhnya.

Pada awalnya operasi berjalan lancar, ibu dan bayi berhasil diselamatkan. Dari hasil pemeriksaan pasca operasi, kondisi napas dan jantung ibu maupun bayi terbilang bagus. Pendarahan berlebih saat operasi yang sempat dikhawatikan juga tidak terjadi. Dokter yang menangani almarhumah Nurul dan Farabi merasa sedikit tenang.

Namun tiba-tiba, dini hari setelah operasi kondisi almarhumah Nurul mulai menurun. Preeklampsia menyebabkan dirinya mengalami komplikasi yang mengarah ke HELLP Syndrome. Kondisi itu membuat banyak organ di tubuh almarhumah mengalami masalah.

"Kurang dari 24 jam setelah operasi, istri saya berpulang,” pungkas Farabi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini