nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Keguguran Tari Tidak Sempat Memeluk Bayinya untuk yang Terakhir Kali

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Minggu 13 Oktober 2019 20:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 13 612 2116298 kisah-keguguran-tari-tidak-sempat-memeluk-bayinya-untuk-yang-terakhir-kali-mkiMKjxshm.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Kehilangan menjadi hal yang menyedihkan. Setiap yang bernyawa akan mengalami ini dan sudah sepatutnya kita ikhlas dengan takdir Allah SWT. Begitu juga dengan para ibu hamil yang mengalami keguguran.

Peristiwa itu membuat trauma tersendiri dan bohong rasanya jika si ibu tidak merasakan kehilangan yang mendalam. Bayi yang seharusnya dilahirkan ke dunia harus ikhlas diambil kembali Allah SWT sebelum dirawat hingga besar karena mengalami keguguran.

Itu yang dialami Tari (bukan nama asli). Belum membesarkan bayi yang dikandung, dia harus melepaskan untuk selama-lamanya. Ya, bayi perempuan itu meregang nyawa saat masih ada di dalam kandungan. Hal yang bikin sedih ialah si bayi harusnya sudah dapat dilahirkan 10 hari lagi dari jadwal caesar yang sudah ditetapkan dokter.

Meski begitu, Tari ikhlas melepas bayi perempuannya tersebut. Walau ada tangis saat diwawancarai Okezone, Tari selalu menekankan kalau dirinya kuat menerima ini semua.

So, bagaimana kisah Tari ini? Bagaimana perasaan dia harus berpisah selama-lamanya dengan bayi perempuannya?

Tari menjelaskan pertama kali tanggal seharusnya bayi yang ada di kandungannya itu lahir. "Dokter sudah tetapin tanggal caesar itu 22 Juni 2019, tapi di tanggal 11 Juni, musibah ini datang," paparnya dengan suara bergetar menahan tangis melalui sambungan telepon, Jumat 11 Oktober 2019.

Ya, di 10 Juni 2019, euforia lebaran masih terasa dan kebahagiaan itu semakin besar karena di bulan yang sama, bayi yang dikandungnya akan lahir dan mewarnai hari-hari Tari.

Tapi, entah bagaimana, kontraksi yang biasanya berlangsung biasa saja, kini berubah. Kontraksi berlangsung lebih panjang. Gejala ini diketahui Tari, tapi dia tidak ambil tindakan berlebih.

Bahkan, pada 11 Juni 2019, kontraksi kembali terjadi dan sesuatu yang ganjil terjadi. Tubuh Tari mengeluarkan cairan yang cukup banyak. Kondisi ini yang membuatnya langsung bergegas untuk bertemu dengan dokter kandungannya.

ibu hamil besar banget

(Foto : Ilustrasi)

Sampai akhirnya di 13 Juni 2019, kontrol dengan dokter kandungan pun dilakukan. Saat kontrol berjalan, dokter secara mendadak mengucapkan, "Innalillahi wainna illahirojiun".

Mendengar perkataan dokter tersebut, Tari bingung. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kandungannya. Dokter kemudian menyatakan, bayi yang dikandung Tari, yang siap dilahirkan beberapa hari lagi telah meninggal dunia. Tari telah mengalami keguguran.

Dokter menjelaskan, berdasar hasil USG, denyut nadi si bayi sudah tidak ada, detak jantung pun sudah tak terdengar lagi. Selain itu, yang mengagetkan Tari ialah air ketuban yang harusnya melindungi si bayi sudah habis. Tak ada air ketuban di kandungan Tari.

Mengetahui hal ini, Tari mengaku terpuruk sekali. Dia nangis sejadi-jadinya. Lemas badannya mengetahui hal ini, bayi yang dia nantikan harus kembali ke sisi Allah SWT tanpa dia besarkan sebelumnya.

Tahu kalau tidak ada darah yang keluar dari tubuhnya, Tari kemudian pergi salat. Dia meminta ketenangan hati, hanya itu yang dia bisa lakukan. Hanya Allah SWT yang bisa menerima kesedihan mendalam tersebut.

Isak tangis terdengar dari ujung ponsel. Tari menangis saat diwawancarai Okezone. Lukanya kembali terbuka dan dia juga yang akhirnya menguatkan diri.

"Suami aku, ya, mungkin karena dia pria, jadi nahan nangis. Kalau aku nggak bisa, aku benar-benar nangis bahkan teriak mengetahui kalau bayi perempuanku sudah meninggal dunia," ucapnya sambil terisak.

Hal yang membuatnya luka adalah momen dirinya harus menunggu waktu pengangkatan janin. Di momen itu, dia sadar betul kalau bayi yang ada di dalam kandungannya sudah meninggal dunia. Tidak ada lagi tendangan kaki atau denyut jantung yang bisa dirasakan Tari.

Dia pun sempat ke toilet dan menghubungi keluarganya terkait dengan kabar duka tersebut. Tari mencari kekuatan dari orang terdekatnya.

merenung dia

(Foto : Ilustrasi)

Selama beberapa jam, Tari mesti menguatkan dirinya sendiri. Di saat itu juga dirinya mesti melakukan serangkaian 'berita acara' yang dibutuhkan rumah sakit.

Sakit rasanya ketika dokter bertanya bagaimana bisa bayi yang dikandung meninggal dunia. Saking Tari tak sanggup dengan kesedihannya, dia meminta pada dokter untuk pindah ruangan dan meminta waktu untuk sedikit menenangkan diri.

Sampai akhirnya sesi tanya jawab dan pemeriksaan lanjutan sudah dilakukan, Tari kembali ke ruang istirahat dan menjalani persiapan pengangkatan bayinya.

Prosesi itu terjadi pada 14 Juni 2019. Dikarenakan air ketuban yang sudah habis, pengangkatan janin dilakukan dengan operasi caesar. Selain karena air ketuban, psikis Tari pun sudah tak menunjang untuk melakukan persalinan normal.

Sebelum sesi operasi berlangsung, Tari kembali mendekatkan diri pada Allah SWT. Dia pasrahkan semuanya pada-Nya. Tangis terus mengalir seiring dengan momen persalinan berlangsung.

Bahkan, berdasar cerita Tari, suster yang menanganinya sempat menguatkan Tari.

"Mbak boleh nangis sekarang, tapi pas operasi jangan, ya. Takutnya nanti ada penegangan di beberapa bagian dan itu bahaya," katanya.

Operasi caesar pun berlangsung. Tari mencoba kuat sebisanya. Dia merasakan betul dokter mulai mengambil bayi yang ada di perutnya itu. Agak lengket, karena tidak ada air ketuban. Bayi itu berhasil keluar dari tubuh Tari.

"Suster mana bayi saya? Saya mau lihat," pinta Tari setelah tahu tak ada lagi bayi di dalam perutnya. Namun, suster menyatakan, bayinya sudah dibawa suami Tari. "Padahal aku sadar betul kalau bayinya benar-benar baru diangkat. Suster nggak kasih izin saya lihat," sambungnya.

Tari menjelaskan, sampai saat ini dirinya belum pernah melihat wajah bayi perempuannya itu. Bahkan, dia pun tidak sempat memeluk bayi mungil tersebut, padahal Tari amat sangat ingin melakukannya.

doi sedih

Setelah itu semua, Tari mendapat kabar kalau bayinya sudah dimakamkan. Ayahnya yang urus semua, dia tak diizinkan pergi dari rumah sakit karena kondisi tubuh yang masih sangat lemah. "Saya pasrah dan percayakan suami urus semuanya," ungkapnya.

Sampai sekarang Tari masih berharap bisa memeluk bayi perempuannya itu mesti tahu itu hal yang sangat tidak mungkin terjadi

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini