nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gara-Gara Kecanduan Gadget, Banyak Anak Jadi Pasien di RSJ Cisarua

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 14 Oktober 2019 20:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 14 196 2116797 gara-gara-kecanduan-gadget-banyak-anak-anak-jadi-pasien-di-rsj-cisarua-r0PRMdOlGx.jpg Kecanduan Gadget (Foto: NST)

KECANDUAN gadget sekarang ini sudah dikategorikan sebagai masalah kesehatan mental. Sebab penggunaan gadget berlebih dapat mengganggu kejiwaan. Masalah ini pun tak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Berdasarkan data yang Okezone himpun, pasien anak-anak kini mulai membanjiri Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Cisarua, Jawa Barat.

Anak-anak tersebut dibawa ke RSJ lantaran orangtuanya sudah tidak mampu mengatasi kecanduan gadget. Mirisnya, anak-anak yang mengalami masalah tersebut masih berusia 5-8 tahun. Masalah yang sama juga terjadi di dunia.

 Ilustrasi kecanduan gadget

Menurut data National Institute of Mental Health and Hospital (NIMHH) di Bangladesh, setidaknya 500-600 anak-anak dan remaja datang ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan psikiater. Mereka mengalami masalah mental terkait penggunaan gadget. Ketika anak-anak dan remaja ini menemukan kesenangan dalam gadget, mereka berpaling dari kegiatan sosial yang sehat.

Perlahan-lahan perilaku itu membuat anak-anak dan remaja berubah menjadi makhluk tidak sosial yang lebih memilih realitas virtual daripada dunia nyata. Akibatnya terjadi masalah mental yang terkadang mengarah pada bunuh diri. Klik halaman selanjutnya untuk informasi kecanduan gadget lebih lengkap.

Para ahli memeringatkan, penggunaan gadget berlebih dapat merusak keterampilan sosial dan fungsional anak-anak serta aspek psikologis yang luar biasa.

Sekira 10-20 persen anak-anak dan remaja di seluruh dunia mengalami gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Menurut WHO, setengah dari semua penyakit mental dimulai pada usia 14 tahun dan tiga perempat terjadi di usia pertengahan 20-an.

Kecanduan gadget

Di sisi lain, menurut associate professor di NIMHH Helal Uddin Ahmed, situs web atau game online yang berisi agresi, kekerasan, atau materi dewasa dapat memengaruhi psikologi anak-anak dan mengubah perilakunya.

“Video game kekerasan bisa membuat mereka agresif. Frustrasi dan depresi akan segera terjadi,” tambah Helal seperti yang dikutip dari The Independent, Senin (14/10/2019).

Oleh karenanya, direktur MIHH Dr Mohit Kamal mengingatkan agar orangtua dapat memastikan anak-anaknya hanya mengakses konten yang sesuai dengan usianya di dunia maya.

"Bahkan, orang tua harus menjaga keamanan maksimum pada perangkat anak-anak dan menggunakan software penjelajahan yang aman. Orangtua dan guru memainkan peran yang sangat penting terkait penggunaan gadget pada anak-anak. Mereka harus mendidik anak-anak tentang penggunaan Internet yang ideal yang bertujuan positif serta secara terbuka berbicara tentang situs web yang baik dan berbahaya,” pungkas Dr Mohit.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini