nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fenomena Crosshijaber Hebohkan Media Sosial, Pelaku Sudah Pasti Pria Gay?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 14 Oktober 2019 12:33 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 14 612 2116578 fenomena-crosshijaber-hebohkan-media-sosial-pelaku-sudah-pasti-pria-gay-71gPdIuv6Q.jpg Ilustrasi (Foto : Aboutislam)

Membaca judul artikel ini mungkin membuat Anda mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa mengenali seksualitas seseorang hanya dari tampilannya? Karena itu artikel ini muncul untuk mengulas masalah crosshijaber yang hebohkan media sosial.

Ya, kelompok crosshijaber ini sepertinya ingin mengeksiskan diri dan sudah letih berada di belakang 'cangkang' judgement sosial. Makanya, tak sedikit masyarakat yang akhirnya menyuarakan penolakan, karena perilaku sebagian dari crosshijaber ini sudah sampai masuk ke ranah privasi.

Dalam beberapa unggahan, mereka menyatakan sudah berani masuk ke toilet perempuan, bahkan masuk ke masjid lengkap dengan tampilan seperti ukhti-ukhti Muslimah. Tentu, tindakan ini kurang etis. Bahkan Psikolog Meity Arianty menyatakan, tindakan semacam itu bisa mengarah pada kriminalitas.

pria pakai hijab

"Mereka masuk ke ranah privasi dan dikhawatirkan niatnya adalah mesum atau sesuatu yang membahayakan perempuan," tegasnya pada Okezone melalui pesan singkat, Minggu 13 Oktober 2019.

Terlepas dari tindakan crosshijaber yang dianggap mengkhawatirkan, beberapa orang mempertanyakan seksualitas pelaku. Berdasar beberapa pernyataan pelaku, mereka mengaku masih menyukai perempuan, hanya saja tampilannya layaknya Muslimah.

Tapi, apakah para crosshijaber atau dalam ranah yang lebih luas disebut dengan crossdresser benar pria heteroseksual?

Menjawab pertanyaan itu, rasanya perlu untuk Anda memahami makna dari orientasi seksual dengan identitas gender. Karena dari dua hal ini Anda bisa menilai seseorang.

Sebab, sejatinya apa yang dikenakan seseorang tidak menjelaskan orientasi seksualnya. Apa yang dikenakan seseorang adalah ekspresi gender dalam dirinya. Ya, dua hal ini berbeda dan tidak bisa disamakan.

Contoh lain dari pemahaman ini adalah mereka para cosplayer. Penyuka anime ini kerap menampilkan sisi berbeda dalam dirinya dengan balutan kostum karakter yang berbeda dari alat kelaminnya. Lantas, apakah mereka dikatakan homoseksual jika seorang pria mengenakan kostum karakter perempuan?

Memahami kasus ini, laman CBS News pernah membahasnya secara khusus. Diterangkan di sana, menyamakan orientasi seksual dengan identitas gender adalah masalah global. Masih banyak orang menilai dua hal itu serupa, padahal faktanya berbeda.

Identitas gender didefinisikan oleh Kampanye Hak Asasi Manusia sebagai “konsep terdalam tentang diri sebagai laki-laki, perempuan, perpaduan keduanya atau tidak - bagaimana individu memandang diri mereka sendiri dan apa yang mereka sebut diri mereka sendiri.” Selain itu, gender merupakan cerminan dari apa yang ditugaskan seseorang pada saat lahir, atau sepenuhnya berbeda. Ada puluhan gender, di luar maskulin atau feminin yang umum, yang dapat diidentifikasi oleh orang-orang sekarang.

pria ganteng hijab

Sementara itu, orientasi seksual adalah ketertarikan emosional, romantis atau seksual abadi yang melekat pada diri seseorang. Pada dasarnya, hal ini yang membuat Anda tertarik untuk berkencan dan menjadi akrab dengan orang lain. Seseorang dapat menjadi transgender, tetapi juga gay, heteroseksual, biseksual, aseksual, atau seluruh identitas seksual lain yang ada.

“Seksualitas itu dengan siapa Anda tidur, dan identitas gender adalah bagaimana Anda pergi tidur. Itu cara paling sederhana yang bisa saya jelaskan," jelas YouTuber Brendan Jordan.

Menanggapi hal ini, aplikasi kencan seperti Tinder mengubah opsi profil mereka menjadi lebih inklusif dari transgender dan komunitas yang tidak mematuhi gender. Daripada hanya pria atau perempuan, gay atau straight, sekarang ada 37 deskripsi gender untuk dipilih di aplikasi, serta opsi untuk menulis dalam identitas gender Anda.

Fitur ini tidak hanya mengenali dan menerima pengguna trans, tetapi juga memberi mereka pilihan tentang cara mengungkapkan jenis kelamin mereka kepada calon mitra.

"Ketika berbicara dengan pengguna Tinder, saya mengetahui bahwa begitu banyak dari mereka yang gendernya belum familiar. Alhasil, mereka harus menjelaskan pada orang lain mengenai gendernya," kata sosiolog Jessica Carbino, PhD.

pria jilba

Pada akhirnya, orang hanya ingin merasa bahwa identitas gender mereka diakui. Gender dan seksualitas adalah komponen penting dari siapa kita, dan bagaimana menjalani hidup. Tetapi, menjadi catatan di sini, keduanya tidak sama, dan itu fakta penting untuk diingat.

Jadi, apa yang dikenakan seseorang tidak bisa kemudian didefinisikan sebagai orientasi seksual atau seksualitas mereka. Membahas gender itu sangat luas dan sekali lagi, Anda tak bisa menyatukan dua hal ini karena keduanya berbeda.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini