nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Stephen Langitan Touring Jakarta-London Seorang Diri, Sempat Lewati Rute Berbahaya

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 15 Oktober 2019 19:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 15 406 2117256 cerita-stephen-langitan-touring-jakarta-london-seorang-diri-sempat-lewati-rute-berbahaya-BVgyQe2uxQ.jpg Stephen Langitan (Foto: Tiara Putri/Okezone)

Melakukan perjalanan seorang diri, termasuk touring tentunya bukan hal mudah. Banyak hal yang perlu dipersiapkan selain keberanian. Oleh karenanya, Stephen Langitan berusaha memberikan sejumlah tips melalui catatan pribadinya yang dijadikan sebuah buku.

Stephen Langitan adalah seorang biker yang melakukan touring dengan rute Jakarta-London seorang diri. Perjalanan sejauh 30 ribu kilometer itu ia tempuh menggunakan sepeda motor Kawasaki VersysX 250 cc.

Keistimewaan dari perjalanan selama 145 hari itu adalah misi Stephen untuk mengibarkan bendera merah putih ke pelosok dunia. Puncaknya, ia berhasil memenuhi target untuk mengikuti upacara bendera Hari Kemerdekaan ke 73 Republik Indonesia tahun lalu di London.

 Pria di atas motor

"Perjalanan yang saya lakukan ini bukan perjalanan hura-hura untuk kesenangan pribadi. Melalui perjalanan ini saya ingin paling tidak melakukan sesuatu untuk bangsa dengan mengibarkan bendera merah putih," tutur Stephen saat ditemui Okezone dalam peluncuran buku 'Naik Motor Seorang Diri, Jakarta-London 30.000 KM', Selasa (15/10/2019) di Jakarta.

Pria kelahiran Jakarta 55 tahun silam itu berharap bukunya bisa menjadi referensi bagi orang lain yang ingin melakukan perjalanan seorang diri menggunakan motor.

Mulai dari persiapan, menentukan rute touring, cara menghadapi tantangan, hingga menikmati perjalanan seorang diri. Terlebih banyak pelajaran yang ia dapatkan dari perjalanannya.

Dari segi spiritual, Stephen merasa tersadar harus menggantungkan hidup sepenuhnya ke Yang Maha Kuasa. Melakukan perjalanan hanya seorang diri otomatis membuatnya tidak bisa meminta bantuan siapapun saat mengalami masalah atau kesulitan. Dari segi kepribadian, ayah dua orang anak itu belajar untuk disiplin dan menekan ego dalam perjalanan.

"Setiap orang punya kendala dan kesulitan tapi pada akhirnya patah semangat. Melalui buku ini saya berharap bisa membangkitkan semangat orang lain. Semoga buku ini bisa memberikan edukasi, inspirasi, dan motivasi agar orang lain bisa melakukan hal yang sama," tukas Stephen.

 Laki-laki berdiri

 

Tantangan selama perjalanan

Melewati rute sejauh 30 ribu kilometer tentunya banyak rintangan dan tantangan yang dihadapi Stephen. Dalam perjalanan, ia sempat jatuh dua kali saat menghindari kecelakaan di India dan mengantuk ketika berada di Turki. Belum lagi masalah keamanan.

"Saat di Pakistan saya tidak bisa jalan sendiri, harus dikawal bahkan saat di penginapan. Saya juga diminta menandatangani NOC (Notice of Complaint, yang isinya andaikata terjadi penembakan atau pembunuhan, keluarga saya enggak bisa mengajukan komplain atau menuntut," ujar Stephen.

Selain itu, saat hendak melintasi Albia, ia dilarang oleh Duta Besar (Dubes) RI karena di sana rawan mutilasi. Hal itu membuat Stephen harus mengubah rute perjalanan. Tantangan lain yang dihadapi olehnya adalah cuaca ekstrem di Iran. Kebetulan saat itu sedang ada badai gurun sehingga dirinya mengalami gelombang panas.

"Tantangan-tantangan terberat sih itu saja. Kalau dari segi teknis tidak ada masalah sama sekali. Saya 3 kali ke bengkel resmi dikatakan bisa melanjutkan perjalanan, paling hanya ganti oli saja. Begitu sampai di Athena, Yunani barulah ganti kanvas dan gear set," terang Stephen.

Untuk menjaga ketahanan fisik selama perjalanan, Stephen mengatakan ia menyiasatinya dengan tidur yang cukup. Apabila satu hari dirinya sudah melewati 400 km perjalanan, keesokan harinya hanya 250 km.

"Tidurnya diperbanyak atau berangkat agak siangan, yang penting tidurnya cukup," pungkas Stephen.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini