nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pesan Arief Yahya untuk Menteri Pariwisata Periode 2019-2024

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 16 Oktober 2019 10:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 16 406 2117478 pesan-arief-yahya-untuk-menteri-pariwisata-periode-2019-2024-bYiHosA1U8.jpg Menpar Arief Yahya (Foto : Dimas/Okezone)

Malam tadi, Selasa 15 Oktober 2019, suasana haru menyelimuti Gedung Balairung Soesilo Soedarman, kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta Pusat. Menteri Pariwisata Arief Yahya secara terang-terangan menyampaikan kata perpisahan kepada seluruh tamu undangan dan awak media yang menghadiri acara peluncuran Calendar of Events Nasional (COE) 2020.

Pria asal Banyuwangi itu juga sempat memberikan dua pesan kepada Menteri Pariwisata yang nantinya akan menggantikan posisinya. Menurut Menpar Arief Yahya, ada dua pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan demi kemajuan sektor pariwisata Indonesia.

“Challengenya ada dua dan sudah saya katang di Rembug Nasional. Pertama adalah bencana alam dan bencana tidak alam,” kata Menpar Arief Yahya.

Untuk bencana tidak alam, Arief menjelaskan, bahwa sebagian besar destinasi wisata di dalam negeri sudah mulai membekali diri dengan sistem mitigasi yang baik. Permasalahan paling mendasar justru terletak pada bencana tidak alam seperti, zero dollar tour dan polemik Pulau Komodo yang menghebohkan dunia, beberapa waktu lalu.

Arief mengatakan, masalah bencana tidak alam ini dapat membawa dampak yang sangat besar bagi keberlangsungan pariwisata dalam negeri. Contoh paling nyata adalah kasus zero dollar tour, separuh wisatawan dari China dilaporkan enggan mengunjungi Indonesia setelah kasus ini merebak ke permukaan.

Wisata Bali keren

(Foto : Indonesia.travel)

Sekadar informasi, zero dollar tour merupakan paket wisata murah yang dibeli para turis China untuk berlibur ke Bali. Harga paket yang ditawarkan digadang-gadang senilai biaya tiket perjalanan Denpasar-China. Sekilas, memang sangat menggiurkan.

Namun pada kenyataannya, selama di Bali, mereka diwajibkan mengikuti itinerary atau jadwal yang telah ditetapkan oleh agen wisata. Para agen wisata ini disinyalir telah menerapkan praktik monopoli, di mana wisatawan digiring untuk berbelanja di tempat yang telah mereka tentukan. Harga barang yang ditawarkan ternyata jauh lebih tinggi, dan pembayarannya hanya bisa dilakukan secara non tunai.

“Zero dollar tour itu impaknya sangat besar. Ketika itu terjadi, separuh turis China ‘hilang’. Hal-hal seperti ini seharusnya tidak terjadi, karena yang rugi ya kita juga,” tegas Arief Yahya.

Permasalahan kedua menyangkut anggaran. Di bawah pemerintahan Arief Yahya, Kemenpar diklaim hanya menerima anggaran sebesar 45% dari total yang diajukan. Bahkan anggaran tahun ini turun menjadi 35%.

“Itulah PR-nya, saya sudah laporkan ke Pak Luhut,” kata Arief Yahya.

Arief Yahya pesan

Saat ditanya apakah target wisman di 2020 akan tercapai? Dengan PR seperti ini, Arief menegaskan industri pariwisata Indonesia masih belum mampu, dan justru akan ‘overheating’ bila dipaksakan.

Ia kemudian memberikan sebuah analogi menarik. Indonesia bila diibaratkan sebagai mobil 1000 cc, dan diadu dengan mobil 4000-5000 cc, kalau dipaksakan mesinnya akan panas dan meledak. Seperti itulah gambaran singkat seputar potensi pariwisata Indonesia di masa yang akan datang, menurut mantan Direktur Utama Telkom tersebut.

Turis di Bali kepanasan

“Bila kita ingin mencapai target kunjungan (20 juta wisman), setidaknya jumlah kunjungan wisman kita harus tumbuh 20% per tahun. Masalahnya, untuk meng-attract mengatrack 1 wisman itu minimal membutuhkan dana 20 USD, kita hanya dialokasikan 6 dollar atau 30% dari 20 dollar. Jadi tidak mudah. Namun masih ada untungnya. Kita bisa meningkatkan average spending arrival. Jadi walau jumlah kunjungan wismannya tidak tercapai, tapi devisanya tercapai,” pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini