nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menpar Sebut Calendar of Events Nasional Gagal Sukses karena Kebanyakan Sambutan

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 16 Oktober 2019 10:44 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 16 406 2117543 menpar-sebut-calendar-of-events-nasional-gagal-sukses-karena-kebanyakan-sambutan-gEtK7o2KeF.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PEMERINTAH lewat program 100 Calendar of Events (CoE) Nasional menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara dapat mencapai 20 juta jiwa per tahun. Sayangnya, sampai saat ini program tersebut belum memberikan hasil yang signifikan.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebut bahwa program 100 CoE Nasional masih belum mampu mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara. Pasalnya, beberapa kendala yang ia jabarkan saat menghadiri peluncuran CoE Nasional 2020.

Menurutnya, sejak digelar pada 2017 lalu, salah satu kelemahan program CoE berkaitan erat dengan permasalahan manajemen dan kemasan yang ditampilkan saat event berlangsung. Dari segi manajemen waktu saja, masih banyak event yang tidak disiplin, sehingga membuat wisatawan merasa bosan dan kapok untuk datang kembali.

"Jujur saya tidak ahli tapi dari segi manajmen dan performancenya masih sangat kurang. Konten atau materinya bagus-bagus, hanya saja eksekusi dan kemasannya tidak bagus. Ditambah lagi manajemen waktunya," kata Menpar Arief Yahya, di Balairung Soesilo Soedarman, kantor Kementerian Pariwisata.

Menurutnya, untuk memaksimalkan program CoE diperlukan coaching clinic dari para ahli di bidangnya.

"Acara kalau dijadwalkan mulai jam 2, ya harus langsung dimulai. Jangan banyak sambutan. Ada event yang sampai 5-6 sambutan," tambahnya.

Menurutnya, untuk memaksimalkan program CoE diperlukan coaching clinic dari para ahli di bidangnya. Sangat disayangkan bila suatu daerah sudah memiliki konsep dan materi berkualitas, namun justru tidak dieksekusi dengan baik.

“Dari coaching clinic ini, mereka bisa tahu karnaval itu seharusnya dikemas seperti apa. Penampilan di atas panggungnya juga harus bagaimana," katanya.

"Ada event yang panggungnya besar dan di dekat pantai, tapi formasi tariannya tidak ada cenderung individual. Jadi tidak megah dan indah. Paling gampang ya seperti pembukaan Asian Games 2018,” tegas Arief Yahya.

Pria asal Banyuwangi itu mencontohkan Pekan Kesenian Bali, yang dianggap telah memenuhi kriteria 3 C (Cultural/Creative Values, Commercial dan Communication Values, serta CEO Commitment). PKB, menurut Arief Yahya, selalu dibuka dengan parade yang spektakuler dan pada malam hari wisatawan akan dihibur dengan cultural performance.

Tidak hanya itu, koreografi yang ditampilkan para pengisi acara juga digodok oleh para profesional. Begitu pula dengan kostum dan busananya yang dirancang langsung oleh para desainer kenamaan. Kemudian dari unsur musik, PKB juga mampu memanjakan telinga wisatawan dengan lantunan lagu-lagu yang luar biasa indahnya.

 PKB juga mampu memanjakan telinga wisatawan dengan lantunan lagu-lagu yang luar biasa indahnya.

“Karena telah memenuhi kriteria 3C, setengah penonton PKB itu bule, separuhnya baru wisatawan Nusantara. Ini juga karena CEO Commitmen mereka yang sangat konsisten, dan telah diterapkan selama 36 tahun berturut-turut. Maka PKB adalah contoh ideal. Itulah yang saya bayangkan, yang saya inginkan seperti itu,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Saat ini, Kementerian Pariwisata telah menyiapkan anggaran senilai Rp10 miliar untuk digunakan sebagai biaya coaching clinic. Arief pun berharap, program coaching clinic ini akan terus dilakukan, meski nantinya ia sudah tidak lagi menjabat sebagai Menteri Pariwisata.

“Saran saya lakukan coaching clinic di Bali. Teman-teman kita yang mengelola PKB pasti dengan senang hati akan membagikan ilmunya karena selama 3 tahun digelar belum ada dampak signifikan," katanya.

"Tapi saya tidak memungkiri bahwa daerah yang memajukan pariwisatanya, pendapatan perkapita dan index kebahagiaannya lebih tinggi. Tingkat pendidikan juga meningkat karena lebih sejahtera,” tukas Arief Yahya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini