nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Suka Duka Gentha, Dicibir Jadi Bartender hingga Wakili Indonesia di Kompetisi Internasional

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 17 Oktober 2019 10:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 17 298 2118012 suka-duka-gentha-dicibir-jadi-bartender-hingga-wakili-indonesia-di-kompetisi-internasional-SqZ9hMoJpv.jpg Suka duka Gentha jadi bartender (Foto : Dimas/Okezone)

Sebelum profesi barista booming di Indonesia, para peracik minuman beralkohol atau juga dikenal dengan sebutan bartender, telah terlebih dahulu menghiasi wajah industri kuliner Tanah Air.

Ya, meski hingga saat ini imej negatif masih melekat pada mereka, tidak dapat dipungkiri bahwa bartender memainkan peran penting dalam memajukan industri kuliner, serta mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Perkembangan bar memang tidak semasif industri kopi yang sedang menjamur di hampir seluruh daerah Indonesia. Bahkan menurut sejarahnya, bar pertama di Indonesia hanya diisi oleh para politisi, dan lokasinya ada di salah satu hotel di kawasan Jakarta Pusat.

Namun seiring berjalannya waktu, banyak bar yang berdiri sendiri tanpa embel-embel hotel dan tersebar di hampir seluruh kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan masih banyak lagi.

Untuk membahas lebih lanjut perkembangan bar dan bartender di Indonesia, Okezone berhasil melakukan wawancara eksklusif dengan salah satu bartender dari TGI Fridays, M Gentha Agzistiawan.

Selama kurang lebih dua tahun menekuni profesi bartender, Gentha tidak memungkiri masih banyak komentar-komentar negatif yang ia terima dari lingkungan sekitar. Hal ini berkaitan erat dengan fakta bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

Gentha Kumis

"Jujur saya sendiri Islam, dan banyak yang bilang kerja di bar itu haram dan gak jelas. Tapi saya selalu berpikir yang penting saya kerjanya fun dan dari hasil keringat sendiri," tutur Gentha saat ditemui Okezone di Gandaria City, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Beradaptasi dengan lingkungan

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, Gentha mengaku mendapat banyak pengalaman berharga selama menjadi bartender. Selain mampu membiayai kehidupannya sendiri, ia juga dapat berinteraksi dengan para costumer.

"Umur gue sekarang 21 tahun, dan sekarang gue kerja bukun untuk mengejar materi. Gaji gue paling banter digunakan untuk bayar kos dan bensin. Selebihnya gue memang merasa nyaman menjadi bartender. Gue jadi bisa membuka diri untuk orang lain," kata Gentha.

Pernyataan Gentha ini bukan tanpa alasan. Saat pertama kali bekerja sebagai bartender, ia mengaku sangat tertutup bahkan enggan bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Gentha merasa lebih nyaman melakukan berbagai hal seorang diri. Selepas jam kerja, ia memilih untuk langsung pulang ke kos menonton anime dan mendengarkan musik favoritnya.

"Mungkin bisa dibilang gue orangnya introvert. Kalau enggak salah bulan ke-9, gue bilang ke manager kalau gue udah satu tahun enggak naik ke bar, gue mau resign," ungkap Gentha.

Pucuk dicita ulam pun tiba. Impian Gentha untuk meracik minuman pun akhirnya terkabul. Tepat satu tahun Gentha bekerja, ia dipercaya untuk mengambil alih bar.

Mengingat tugas seorang bartender tidak hanya meracik minuman, namun juga harus membuat customer nyaman, Gentha pun mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya.

"Gue mikir pas udah di bar masa iya kok gini terus. Pekerjaan ini kan harus riang karena tugas kita menyambut tamu dan membuat mereka nyaman. Dari situ gue belajar untuk ngekos bareng sama temen. Ternyata, oh gini loh rasanya punya teman. Ada rasa kangen seperti di rumah. Jadi gue punya tujuan baru untuk pulang, yaitu bercengkerama dengan temen gue," jelasnya.

Suka duka menjadi bartender

Meski telah sukses berbaur dengan pengunjung dan menjalin hubungan baik, masalah ternyata masih datang silih berganti. Banyak orang yang salah menafsirkan bahwa kedekatan Gentha dengan customer-nya hanya untuk mendapatkan uang tambahan (tip).

"Banyak orang yang mikirnya gitu. Gue deket sama tamu buat tip. Padahal gue pribadi lebih kayak, 'biar kami bisa buka suara satu sama lain'. Istilahnya, ketika omongan atau curhatan gue didengerin dengan baik sama tamu gue, disitulah gue merasa puas banget. Makanya gue paling senang kalau ada tamu yang duduk di depan bar," ujar Gentha.

Lebih lanjut, Gentha mengatakan, terkadang ia sampai meminta kepada rekan timnya untuk menarik tamu yang datang seorang diri, agar mau duduk di depan bar. Dengan cara ini, ia jadi bisa lebih leluasa berinteraksi dan menambah relasi.

Gentha Kumis sama cewek

Menariknya, karakter pengunjung atau costumer pun datang dari latar belakang yang berbeda. Sehingga secara tidak langsung, ia dapat mempelajari karakter mereka masing-masing, termasuk perilaku mereka saat sedang memesan minuman.

"Dari pengalaman gue, orang Indoensia itu biasanya pesan minum yang bikin cepat mabuk. Di FnB itu kita harus fleksible, jadi selau kita turutin. Analoginya kalau 1+1, bisa jadi dua atau tiga. Tujuannya agar memuaskan pengunjung. Tapi memang ada batasannya juga," beber Gentha.

Berbeda dengan pengunjung asing atau ekspatriat. Mereka cenderung lebih detail dalam menikmati minumannya. Ambil contoh cocktail. Dalam industri fnb, minuman ini termasuk diminati karena rasanya seimbang.

Ada juga yang memesan tequila sunrise, karena mereka ingin menikmati rasa jus jeruk yang berpadu sempurna dengan tequila.

"Bule itu jarang protes minuman, karena mereka tau apa yang mau mereka pesan. Kalau nonton film James Bond, lihat saja mereka kebanyakan minum dry martini karena minuman itu memang seimbang banget. Dicampur es supaya tidak terlalu strong," imbuhnya.

Gentha juga menjelaskan beberapa kelebihan bartender dibanding profesi lainnya seperti barista.

"Bartender itu bisa jadi barista juga tapi hanya untuk base ya. Contohnya bikin cappucino atau latte, kebanyakan pasti bisa karena hampir semua bar punya mesin kopi. Tapi barista belum tentu bisa jadi bartender," kata Gentha.

Ikut kompetisi berskala internasional

Sejak tiga bulan lalu, Gentha tengah menjalani masa karantina untuk persiapan mengikuti TGI Fridays Asia Pacific Bartender Competition 2019. Ia dipercaya mewakili Indonesia yang tahun ini menjadi tuan rumah ajang tersebut.

Selama masa karantina, Gentha harus menghapal 1 buku yang berisikan 75 resep minuman beralkohol yang telah disesuaikan dengan standar internasional. Ini bukan perkara mudah, karena resep menjadi elemen terpenting dalam sebuah sajian minuman.

"Benar-benar harus teliti, karena standar ingredientnya harus diperhatikan, temperatur, penyajian birnya gimana, foamnya harus berapa cm, dan masih banyak lagi," papar Gentha.

Namun tahap yang paling ia khawatirkan adalah tes flairing atau freestyle. Pada tahap ini, setiap bartender harus memperagakan gerakan-gerakan tertentu yang sekiranya bisa menghibur juri dan para customer.

Gentha kocak

Dalam 3 tahun terakhir, Gentha telah memecahkan 40 botol minuman untuk menyempurnakan gerakan. Setidaknya ada 14 teknik flairing yang harus dikuasai para bartender, mulai dari stall di tangan, botle roll, pouring, swipe through, behind back, dan masih banyak lagi.

"Selama latihan gue udah sering mengalami cedera, seperti tangan gue sobek sampai pour spot (ujung botol) menancap di punggung. Tantangannya, tangan gue masih suka gemetar, kalau movenya udah dapat pasti enjoy," pungkasnya.

Asia Pacific Bartender Championship sendiri akan diselenggarakan pada 23 Oktober 2019 mendatang, dan diikuti oleh para peserta dari 5 negara yakni, Jepang, Taiwan, Filipina, Guam dan Indonesia.

Masing-masing peserta sudah melewati kompetisi di TGI Fridays di negara asalanya, dan untuk melaku ke babak berikutnya akan dinilai oleh juri-juri yang kompeten di bidangnya. Dari Indonesia akan diwakili oleh Ashraf Sinclair.

"Ashraf Sinclair memiliki sejarah yang kuat dengan TGI Fridays khususnya di Indonesia. Ia pernah menjadi staff Host di Fridays Malaysia saat muda dan kini menjadi partner ownership di Indonesia," ujar Chansra Supandi, Franchise & President Director TGI Fridays Indonesia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini