nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cek Tekanan Darah Tak Bisa Dilakukan Sembarangan, Ini Cara yang Benar

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 17 Oktober 2019 20:07 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 17 481 2118299 cek-tekanan-darah-tak-bisa-dilakukan-sembarangan-ini-cara-yang-benar-KvadTASXRQ.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

TEKANAN darah tinggi atau hipertensi menjadi penyakit yang paling sering dialami oleh masyarakat Indonesia. Penyakit ini sebenarnya dapat dicegah dengan melakukan deteksi dini, namun cara pemeriksaannya pun tidaklah sembarangan.

Sebagian besar orang awam biasanya akan memeriksakan tekanan darahnya secara spontan, tanpa memikirkan kondisi tertentu. Tapi untuk mendapatkan hasil yang akurat, pemeriksaan darah memiliki waktu yang ideal.

Dokter Spesialis Ginjal, dr. Tunggul D. Situmorang, SpPD-KGH mengatakan, pengecekan tekanan darah paling baik untuk dilakukan pada pagi hari. Selain itu orang yang diperiksa pun harus dalam kondisi rileks untuk mendapatkan hasil yang akurat.

Selain itu orang yang diperiksa pun harus dalam kondisi rileks untuk mendapatkan hasil yang akurat.

“Lakukan pemeriksaan setelah kencing dan pastikan sedang dalam kondisi santai atau tidak berdegup kencang,” terang dr. Tunggul dalam acara Kendalikan Hipertensi, Sayangi Ginjalmu, Kamis (27/10/2019).

Lebih lanjut dr. Tunggul mengatakan, seringkali hasil pemeriksaan menjadi tidak akurat karena kondisi pasien yang tidak baik. Setidaknya diperlukan waktu selama 30 menit untuk mendapatkan kondisi rileks sebelum diperiksa.

“Tapi hal ini tidak berlaku bagi pasien rumah sakit, mereka mungkin naik tangga dulu, ngos-ngosan. Enggak mungkin kan satu pasien ditunggu 30 menit buat periksa tekanan darah,” lanjutnya.

Pemeriksaan ideal tekanan darah pun sebenarnya tidak hanya satu kali dilakukan. Melainkan tiga kali dengan rentang waktu setiap satu menit sekali. Pemeriksaan pun dianjurkan menggunakan alat digital dan tidak menggunakan cara konvensional (air raksa).

Pemeriksaan pun dianjurkan menggunakan alat digital dan tidak menggunakan cara konvensional (air raksa).

“Pemeriksaan idealnya dilakukan sebanyak tiga kali dengan rentang waktu satu menit sekali. Penggunaan alat konvensional (air raksa) sebenarnya sudah ditarik sejak tahun lalu. Air raksa dinilai kurang akurat dan dianggap mencemari lingkungan,” tuntasnya.

Data Balitbang Kementerian Kesehatan menunjukkan penyakit tidak menular (PTM) bisa meningkat sampai 70 persen jika tidak ada perbaikan. Dalam sebuah kesempatan, Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) mengatakan kondisi itu dapat membuat BPJS Kesehatan bisa mengalami defisit hingga rugi Rp28-30 triliun.

Sementara itu, indikator PTM adalah hipertensi, diabetes melitus, obesitas sentral, cedera, kesehatan gigi mulut, dan gangguan mental emosional.

Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Vito A. Damay, Sp.JP (K), M.Kes, FIHA, FICA, hipertensi merupakan salah satu PTM terbanyak di Indonesia. Namun masalah hipertensi ini juga terjadi di banyak negara dan merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia.

Data World Health Organization (WHO) pada tahun 2015 menunjukkan sekira 1,13 miliar orang di dunia memiliki hipertensi. Artinya 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis hipertensi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini