nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

43,2 Persen Ibu Hamil Tak Bayar Iuran BPJS Sebulan Setelah Melahirkan, Kenapa?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Minggu 20 Oktober 2019 03:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 19 481 2119052 43-2-persen-ibu-hamil-tak-bayar-iuran-bpjs-sebulan-setelah-melahirkan-kenapa-gvGSKJ29JB.jpg Ilustrasi (Foto : Medicalnewstoday)

Tingkat kelahiran yang tinggi membuat Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mengeluarkan banyak biaya untuk mendanai persalinan. Meski demikian hal tersebut tidak berbanding lurus terhadap kepatuhan para peserta mandiri dalam membayar iuran.

Belum lama ini BPJS Kesehatan melakukan analisis terhadap perilaku peserta program JKN-KIS pada Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) yang hamil. Hasilnya sangat mengejutkan, sebanyak 64,7 persen ibu hamil baru menjadi peserta JKN-KIS satu bulan sebelum bersalin.

Tentu hal ini sangatlah disayangkan, dimana para oknum tidak bertanggung jawab berusaha mengambil keuntungan ketika sedang membutuhkan saja. Bahkan dari hasil analisis, sebanyak 43,2 persen dari mereka menunggak iuran sebulan setelah melakukan persalinan.

ibu lahiran dulu

Hal ini diungkapkan langsung oleh Asisten Deputi Bidang Riset Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Citra Jaya. Menurutnya para peserta mandiri hanya mendaftar JKN-KIS untuk membiayai proses persalinan. Setelah bersalin maka pasien tidak mau membayar iuran yang menjadi salah satu kewajibannya.

“Alasan yang paling besar mereka tak mau membayar karena faktor tidak mampu. Alasan kedua yang diperoleh yakni tidak mengetahui harus membayar iuran kemana, kebetulan dulu masih belum banyak titik bagi para pasien untuk membayar iuran. Ada juga yang ketika membayar mengalami gangguan jadi dia males bayar lagi,” terang Citra jaya, dalam BPJS Kesehatan di kawasan Jakarta Pusat, Jumat (18/10/2019).

Citra juga menjelaskan bahwa saat ini BPJS Kesehatan telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Namun upaya tersebut masih belum berjalan dengan efektif mengingat tidak adanya konsekuensi bagi para peserta mandiri yang tidak membayar kewajibannya.

“Kami telah melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk menimbulkan semangat untuk membayar iuran. Pendekatan soft reminder melalui email dan whatsapp. Selain itu ada pula cara lain dengan mengunjungi rumah-rumah untuk mengingatkan masyarakat agar membayar iuran,” lanjutnya.

ibu juang

Namun pendapat lain dikemukakan oleh Guru Besar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), Meiwita P Budiharsana. Menurutnya penyebab masyarakat tidak patuh untuk menjalankan kewajiban membayar iuran disebabkan oleh faktor pendidikan dan kurangnya informasi.

“Banyak dari mereka yang tidak paham bahwa JKN-KIS adalah asuransi seumur hidup bukan hanya ketika sedang melahirkan saja. Mereka juga harus diajarkan tentang adanya sistem ‘Take and Give’ karena ini asuransi kesehatan jadi tidak bisa kalau cuman mau ‘Give’ saja,” ucap Meiwita.

Lebih lanjut ia pun menegaskan bahwa tingkat pendidikan masyarakat Indonesia masih banyak yang rendah. Menurut data yang diperolehnya, rata-rata orang Indonesia hanya menuntut ilmu selama delapan tahun. Tentunya ini jauh dari standar Indonesia yang menetapkan program wajib belajar selama sembilan tahun.

BPJS Kesehatan dulu

“Menurut data, rata-rata orang Indonesia hanya delapan tahun menuntut ilmu, yang artinya SMP saja belum selesai. Begitu mereka keluar dari sekolah, mereka tak lagi bisa mendapatkan informasi gratis. Makanya untuk menyadarkan masyarakat akan kewajibannya, dibutuhkanlah informasi dan edukasi kepada masyarakta secara terus menerus,” tuntasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini