nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jumlah Kelahiran Bayi Makin Sedikit, Apa Penyebabnya?

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 23 Oktober 2019 08:23 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 23 481 2120472 jumlah-kelahiran-bayi-makin-sedikit-apa-penyebabnya-BNWNDAuhjz.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Pepatah 'banyak anak banyak rezeki' tampaknya sudah tidak berlaku lagi zaman sekarang. Jumlah kelahiran bayi pun semakin sedikit. Bahkan beberapa pasangan suami istri ada yang memilih untuk punya satu orang anak saja.

Hal ini sejalan dengan data yang menunjukkan tingkat kelahiran dan kesuburan menurun secara global, akibatnya jumlah kelahiran bayi semakin sedikit. Penyebabnya berbeda-beda, entah itu pilihan atau kebutuhan.

Di Amerika Serikat, tingkat kelahiran bayi pada 2018 jatuh ke level terendah dalam 31 tahun terakhir. Salah satu laporan pemerintah Inggris juga mengungkapkan tingkat kelahiran di Inggris dan Wales di tahun yang sama mencapai rekor terendah.

 Tangan bayi

Hal yang sama terjadi di Uni Eropa. Menurut data Eurostat, pada tahun 2017 sebanyak 5,1 juta bayi lahir. Jumlahnya 90 ribu lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya.

Kondisi yang sama turut terjadi di negara-negara Asia Timur. Di Singapura, tingkat kelahiran bayi pada tahun 2018 adalah yang terendah dalam delapan tahun terakhir.

Menurut data pemerintah, alasan terjadinya penurunan angka kelahiran bayi karena beberapa perempuan memilih menunda untuk hamil hingga usianya dianggap matang. Kemudian sebuah studi pemerintah di China menunjukkan kelahiran pada tahun 2018 turun ke level terendah sejak melonggarkan kebijakan satu anak pada 2014.

Banyak alasan terjadinya tren penurunan tingkat kelahiran. Melansir South China Morning Post, Rabu (23/10/2019), sekarang lebih banyak perempuan yang menunda memiliki anak karena memilih melanjutkan pendidikan tinggi dan mencapai jenjang karier.

 Kaki bayi

Beberapa juga ada yang memutuskan untuk memiliki sedikit anak saja karena alasan sosial dan ekonomi seperti tingginya biaya hidup, ketidakstabilan pekerjaan, serta kurangnya waktu orangtua. Penyebab lainnya adalah masalah infertilitas.

Tingkat kelahiran yang rendah ternyata membuat pemerintah dari beberapa negara merasa khawatir. Hal ini berkaitan dengan dampak negatif rendahnya tingkat kelahiran terhadap ekonomi negara.

Sebab dengan tingkat kelahiran yang rendah maka jumlah tenaga kerja menyusut dan populasi yang menua. Selain itu, tingkat kelahiran yang terlalu rendah dapat membuat jumlah pekerja muda berkurang sehingga sulit mempertahankan produktivitas.

Untuk mengatasi tingkat kelahiran yang rendah, beberapa negara telah memperkenalkan tawaran menarik guna menaikkan angka kelahiran.

Contohnya di Hongaria, perempuan dengan empat anak atau lebih akan dibebaskan dari pembayaran pajak penghasilan seumur hidup. Lalu di Jepang mulai tahun ini ada kebijakan membuat pendidikan prasekolah gratis.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini