nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pesan Dokter FKUI untuk Menteri Kesehatan Dokter Terawan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 23 Oktober 2019 11:19 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 23 481 2120587 pesan-dokter-fkui-untuk-menteri-kesehatan-dokter-terawan-5NwprWsLQe.jpg Dokter Terawan (Foto: Dewi/Okezone)

Presiden Joko Widodo mengumumkan nama para menteri Kabinet Indonesia Maju seluruhnya hari ini, Rabu (23/10/2019). Salah satunya adalah Menteri Kesehatan, yakni Dokter Terawan.

Sebagai praktisi dan akademisi klinis sekaligus dokter FKUI, dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, punya catatan khusus untuk Dokter Terawan. Dia menaruh harapan yang tinggi terhadap menteri kesehatan baru yang siap bekerja 5 tahun ke depan bersama Jokowi.

Dalam catatannya, hal utama yang menjadi perhatian penting kementerian kesehatan yang akan datang adalah pembiayaan kesehatan, distribusi tenaga kesehatan, penelitian kesehatan inovatif yang bertujuan untuk efisiensi pembiayaan kesehatan, serta upaya-upaya pencegahan penyakit.

Saat ini Indonesia sudah memasuki Universal Heath Coverage (UHC), dimana sebagian besar masyarakat Indonesia sudah tercover pembiayaan kesehatannya. Sistem ini bertujuan memastikan setiap orang memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, tanpa mengalami kesulitan keuangan.

Masalah yang muncul kemudian ialah pembiayaan pasien menjadi meningkat dan sangat menyedot uang negara. Sampai saat ini kita tahu bahwa Asuransi sosial Jaminan Kesehatan Nasional diselenggarakan BPJS Kesehatan.

 Pria berbaju dinas

BPJS sudah menjadi harapan sebagian besar rakyat Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga Agustus 2019, asuransi negara ini telah digunakan sebanyak 277,9 juta kali oleh pesertanya.

Di satu sisi, BPJS sebagai satu-satunya asuransi kesehatan sosial yang menjadi tulang punggung pembiayaan kesehatan masyarakat dari tahun ke tahun selalu mengalami defisit. Perlu efisiensi dalam pembiayaan kesehatan karena masalahnya terjadi dari hulu sampai hilir.

Riset kesehatan inovatif harus didukung terutama yang dilakukan oleh institusi pendidikan agar bisa menghasilkan produk yang murah untuk dapat digunakan masyarakat kita.

"Secara nasional harus ada upaya-upaya kemandirian untuk pembuatan obat, vaksin, dan alat kesehatan yang memang di produksi dalam negeri. Beberapa perusahaan farmasi dalam negeri produknya sudah diterima di negara tetangga," kata dr Ari pada Okezone melalui pesan singkatnya, Rabu (23/10/2019).

Di sisi lain, pembiayaan BPJS tidak terbatas juga harus dibatasi. Rekomendasi dari penilaian teknologi kesehatan harus dilaksanakan oleh kementerian kesehatan yang akan dipimpin oleh Dokter Terawan karena rekomendasi yang diberikan untuk menekan pembiayaan kesehatan.

BPJS terus defisit dan makin lama defisitnya semakin buruk, berbagai upaya akan dilakukan untuk mengatasi masalah defisit ini, salah satunya menaikkan tarif iuran BPJS. Walau masih terjadi silang pendapat untuk kenaikan iuran BPJS ini.

Sebagai informasi, sebagian besar dana BPJS habis untuk membiayai pasien dengan penyakit tidak menular seperti kanker, gangguan ginjal, hipertensi sampai stroke, diabetes mellitus, serta penyakit kardiovaskuler.

Konsep dasar kesehatan adalah mencegah lebih baik dari pada mengobati. Pencegahan meliputi gaya hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan rutin agar deteksi dini penyakit dapat dilakukan dan untuk pasien yang mempunyai penyakit kronis, penyakitnya dapat terkontrol .

 Pria berbaju putih

"Saat bekerja di Puskesmas 27 tahun yang lalu kami sebagai kepala Puskesmas kecamatan bertanggung jawab untuk membina posyandu dengan melibatkan para kader untuk menjaga kesehatan bayi, balita, dan ibu hamil. Upaya ini pun dilakukan untuk pencegahan penyakit," ungkapnya.

Dokter Ari melanjutkan, saat ini pun upaya menekan pembiayaan yang terbaik adalah upaya pencegahan khususnya pencegahan penyakit tidak menular. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pembentukan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) Penyakit Tidak Menular.

Ke depan keberadaan Posbindu oleh menteri kesehatan yang akan datang dan sosialisasi dan pembentukan posbindo ini harus dilakukan masif. Melalui Posbindu upaya pencegahan penyakit agar dilakukan optimal agar jumlah pasien yang sakit bisa diturunkan dan deteksi dini penyakit lebih optimal.

"Semakin dini penyakit dapat ditemukan biaya pendidikan yang akan dikeluarkan juga tidak besar," sambungnya.

Apalagi kita tahu penyakit dominan yang cukup menyedot pembiayaan kesehatan adalah penyakit tidak menular dan penyakit yang dapat dicegah.

Saat ini, tambah dokter Ari, kita harus segera mengejar ketertinggalan kita di bidang kesehatan antara lain menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, menurunkan angka kesakitan HIV AIDS, Malaria, TBC, dan infeksi lainnya.

Selain menekan penyakit tidak menular yang kasusnya makin hari makin meningkat, kesenjangan pelayanan kesehatan khususnya untuk wilayah Timur juga harus bisa diminimalisasi.

Sebagai catatan penting, menteri kesehatan adalah orang yang paling bertanggung jawab agar bangsa ini tidak terpuruk dalam mengatasi berbagai permasalahan kesehatan.

Angka kematian anak dan ibu masih tinggi. Begitu juga stunting. Kemudian, berbagai penyakit infeksi seperti HIV dan TBC di Indonesia jumlah kasusnya terbilang tertinggi di dunia. Bahkan angka kekebalan terhadap obat TBC juga sudah banyak terjadi. (Multiple Drug Resistence atau MDR TB)

"Upaya yang harus dilakukan harus sistematis mulai dari pusat dan daerah. Seluruh jajaran birokrat di dearah harus berkonsentrasi untuk mencapai target-target tersebut," terang dr Ari.

Dengan sistem pemerintah otonomi saat ini, tampaknya pimpinan daerah hanya berorientasi untuk mendapatkan kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan. Program pembangunan kesehatan yang dilaksanakan berbagai Pemda dinilai dokter Ari seakan-akan tidak serius dan tidak berakar.

Program kesehatan itu bukan menunggu orang sakit tapi membuat bagaimana agar orang tidak sakit. Orientasi pemerintah harus mencegah agar orang tidak sakit. Menteri kesehatan kedepan memang diharapkan seorang yang sudah terlibat langsung dalam pembangunan kesehatan.

"Harapan untuk Indonesia yang lebih sehat selalu ada dan rasanya profesi kedokteran dan juga institusi pendidikan kedokteran dan kesehatan harus menyambut kedatangan Menkes baru dan siap mendukung untuk mengejar ketertinggalan selama ini dalam hal pembangunan kesehatan. Dukungan kemenkes terhadap pembangunan tenaga profesional akan membuat para tenaga kesehatan menjadi tuan rumah untuk masyarakatnya di era globalisasi," pungkas dr Ari.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini