nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kendala Tangani Pasien Stroke di Indonesia, Distribusi Dokter Saraf yang Belum Merata

Tiara Putri, Jurnalis · Sabtu 26 Oktober 2019 07:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 26 481 2121944 kendala-tangani-pasien-stroke-di-indonesia-distribusi-dokter-saraf-yang-belum-merata-I1RDXCZVo9.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Saat ini stroke menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi stroke di masyarakat cukup tinggi yakni mencapai 10,9 persen.

Tentunya hal ini perlu menjadi perhatian serius dari semua pihak, terlebih stroke bukan hanya menyebabkan kematian tetapi juga kecatatan.

Sebanyak 65 persen pasien stroke mengalami kecacatan. Untuk meminimalisir terjadinya kecacatan, pasien stroke harus segera ditangani. Terkhusus stroke iskemik yaitu stroke yang terjadi karena adanya penyumbatan aliran darah di otak, penanganan harus dilakukan dalam waktu 4,5 jam. Namun untuk hasil optimal, pasien perlu mendapatkan pengobatan dalam waktu 60 menit.

 Dua pria mengobrol

"Prinsip penanganan pasien stroke adalah do together. Jadi saat pasien datang ke rumah sakit, langsung dilakukan pemeriksaan, dan diberikan obat, semuanya dilakukan dalam waktu kurang dari 60 menit. Makin cepat makin baik," ucap dr Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS saat ditemui Okezone, Jumat (25/10/2019).

Dalam talk show bertajuk 'Inisiatif Penanganan Stroke Inovatif Melalui Stroke Ready Hospital Dengan Standarisasi Layanan Stroke Terpadu, dokter spesialis saraf yang juga Direktur Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) Jakarta itu menekankan pentingnya kesiapan rumah sakit dalam menghadapi pasien stroke.

Ada 3 hal yang perlu dipersiapkan yaitu memiliki dokter saraf, CT scan, dan sistem penanganan.

Hingga saat ini, jumlah rumah sakit yang memiliki kesiapan untuk menghadapi pasien stroke masih terbatas. Bahkan tak sedikit pasien yang malah mendapat rujukan ke RS PON. Rujukan datang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.

"Syarat rumah sakit untuk siap menangani pasien stroke sebenarnya tidak terlalu berat. Tapi memang ada tantangan yang perlu dihadapi," ujar dr Mursyid.

Tantangan utama adalah ketersediaan dokter saraf di rumah sakit. Dikatakan oleh dr Mursyid sebenarnya jumlah dokter saraf di Indonesia sudah cukup banyak yakni mencapai 1.750 orang. Hanya saja lebih dari 300 orang berada di Jakarta. Kondisi ini menandakan distribusi dokter yang belum merata.

"Secara data, untuk memberikan penanganan maksimal pada pasien stroke butuh 435 rumah sakit yang tersebar di seluruh Indonesia. Tapi seperlima dokter saraf berada di Jakarta dan masih banyak rumah sakit yang belum memiliki dokter saraf. Ini menandakan kurangnya pemerataan," imbuh dr Mursyid.

Mengenai alat CT scan untuk memeriksa pasien stroke, menurut dr Mursyid sekarang sudah banyak rumah sakit yang memilikinya termasuk rumah sakit di daerah. Hal itu tentunya dapat membantu tenaga kesehatan untuk menangani pasien. Selanjutnya mengenai masalah sistem, dengan dilakukan pelatihan, maka rumah sakit bisa siap menangani pasien stroke.

"Sistem itu bisa dibangun dengan pelatihan. Saat ini RS PON memberikan pelatihan kepada kepada perawat di Jakarta Timur untuk menangani pasien stroke secara mahir. Semoga inisiasi ini bisa dilakukan di daerah lain agar semakin banyak rumah sakit yang memiliki sistem penanganan dan stroke unit," pungkas dr Mursyid.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini