Cerita Bintang saat Koas, Harus Belikan Starbuck untuk Senior Tiap Hari

Dewi Kania, Jurnalis · Sabtu 26 Oktober 2019 17:35 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 26 612 2122082 cerita-bintang-saat-koas-harus-belikan-starbuck-untuk-senior-tiap-hari-7clFSZf0zz.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

ADA-ADA saja cerita mahasiswa kedokteran yang sedang menjalani koas. Banyak yang dirasa menyebalkan, ada juga beberapa yang bikin rindu.

Selama koas, para mahasiswa harus bergantung dengan arahan konsulen di sebuah rumah sakit. Tugasnya tak sekedar melayani pasien, tapi juga harus menuruti permintaan konsulennya.

Seperti Bintang, mahasiswa kedokteran yang kini menikmati masa-masa menjadi koas bisa jadi suatu pembelajaran. Khususnya buat kamu yang ingin kuliah di Fakultas Kedokteran (FK), nantinya harus siap mental saat sudah menjadi koas.

Selama koas, Bintang sudah banyak menghadapi suka duka yang menjadi memori. Bayangkan, dia harus melewati 13 stase di rumah sakit. Pastinya Bintang harus siapkan mental baja agar tidak menyerah di tengah jalan.

Beberapa cerita Bintang selama menjadi koas bakal dirangkum Okezone. Berikut ulasan selengkapnya ditulis Sabtu (26/10/2019).

Menjadi koas harus siap tenaga dan mental kuat, karena harus siap presentasi dadakan oleh konsulen.

Tidak tidur

Menjalani koas harus siap tenaga dan mental kuat, karena harus siap presentasi dadakan oleh konsulen. Banyak koas yang pasti menghadapi hal ini dong. Seperti Bintang harus terpaksa mengerjakan tugas referat sampai tidak tidur semalaman.

"Kalau tiba-tiba disuruh dadakan maju presentasi besok paginya, pasti enggak tidur semalaman. Kalau begini gara-gara ada teman yang enggak siap maju, jadi saya maju duluan," ucap Bintang.

Enggak mudah lho menjadi seorang koas karena tenaga ekstra harus dikeluarkan, ketimbang saat menjadi mahasiswa dulunya. Bintang siap lari-lari menejar konsulen dari bangsal ke bangsal saat visit, karena mereka harus sigap mengikuti segala gerak-gerik konsulen.

Tapi jangan harap saat koas kamu akan ditunggu oleh konsulen, karena konsulen bisa tega banget kalau menatar. Bintang pernah enggak sempat duduk untuk istirahat sejenak di poliklinik.

"Pernah pas visit subuh lanjut jaga di poliklinik sampai pukul 14.00 WIB. Benar-benar enggak duduk, break sebentar habis itu langsung lanjut jaga di IGD. Karena di poli memang enggak ada station sendiri buat koas duduk. Pedih!," imbuh Bintang.

Disuruh beli kepentingan pribadinya

Nah, setiap pindah stase, Bintang menghadapi sifat konsulen yang berbeda-beda. Bintang pernah disuruh membeli kopi mahal dan harus Starbuck setiap harinya selama bimbingan mengikuti konsulen tersebut, atau makanan yang diinginkan konsulennya dengan kocek sendiri untuk membeli semua itu.

Jelas, selama koas pengeluaran sehari-hari makin banyak. Padahal koasnya sudah berusaha irit untuk diri sendiri lho!

Padahal koasnya sudah berusaha irit untuk diri sendiri lho!

Mau menolak? Enggak mungkin bisa, selain karena nilai juga bisa dianggap tidak sopan. Bintang juga pernah lho disuruh memindahkan barang-barang di ruangan konsulen, tapi ketika sudah dilakukan, malah disuruh kembalikan posisinya seperti semula. Ya ampun!

"Kalau disuruh, tapi enggak mau kan enggak etis. Kita enggak pernah enggak nurutin. Malahan bisa auto langsung ngerjain," ungkap Bintang.

Tapi, bukan cuma oleh konsulen dong, dia juga harus berhadapan dengan pasien. Setiap pasien yang datang pasti sifatnya berbeda-beda. Paling sedih kalau menghadapi pasien yang tidak kooperatif.

"Ada pasien yang keburu pulang, padahal kita lagi memeriksa pasien case. Terpaksa tanya-tanya lewat telefon untuk penunjang pemeriksaannya," beber Bintang.

 Terpaksa tanya-tanya lewat telefon untuk penunjang pemeriksaannya,

Ada yang dirindukan, terkait tingkah laku konsulen

Memang, tidak cuma hal-hal pedih, terkadang Bintang rindu dengan tingkah laku konsulen yang pernah dia hadapi. Sebabnya selama menjadi koas, Bintang menghadapi konsulen yang berbeda-beda setiap stasenya.

"Bikin kangen itu sama tingkah laku konsulen yang aneh-aneh. Sampai ada yang benar-benar konyol. Misalnya dia menyarankan pasien untuk tidak boleh makan makanan enggak sehat, tapi konsulennya sendiri kesehariannya cuma makan gorengan," ungkapnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini