nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Tenun Ikat Khas Maumere yang Sarat Akan Makna Filosofis

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 29 Oktober 2019 20:32 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 29 194 2123309 mengenal-tenun-ikat-khas-maumere-yang-sarat-akan-makna-filosofis-xnaWfV5fTE.jpeg Perempuan menenun kain (Foto: Dimas Andhika/Okezone)

Wastra atau kain tradisional Indonesia merupakan kekayaan budaya yang wajib dilestarikan. Kain ini biasanya memiliki makna dan simbol tersendiri sesuai dengan daerah asalnya. Tak terkecuali kain tenun ikat asal Maumere, Nusa Tenggara Timur.

Popularitas wastra tenun ikat NTT memang sedang mengalami peningkatan yang signifikan, terlebih setelah booming-nya tren wisata ke Timur Indonesia. Labuan Bajo pun terpilih menjadi salah satu daerah yang masuk dalam program Destinasi Super Prioritas besutan Presiden Joko Widodo.

 Kain

Jadi jangan heran bila belakangan ini, daerah-daerah wisata di Nusa Tenggara Timur mulai dilirik oleh wisatawan Nusantara dan mancanegara. Produk wastra mereka pun semakin digandrungi.

Namun tahukah Anda, kain tenun khas Maumere memiliki makna filosofis yang kuat, dan sangat dihormati oleh warga lokal? Hal ini tidak terlepas dari sebuah fakta bahwa kain tenun Maumere merupakan warisan turun temurun para leluhur.

Saking sakralnya, orang-orang NTT memakai kain tenun tersebut sepanjang hidupnya hingga ajal datang menjemput. Hal ini dijelaskan secara gamblang oleh Cletus Beru selalu Ketua Sanggar Doka Tawa Tana.

 Orang menenun

"Ketika ada upacara kematian yang melayat harus membawa kain tenun. ada juga yang bawa emas dan uang. Tapi kaun tenun ikat itu wajib hukumnya," tegas Cletus Beru saat ditemui Okezone di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (29/10/2019).

Cletus kemudian memberikan sebuah contoh menarik seputar kegunaan lain dari kain tenun ikat. Selain jadi mata pencaharian mereka dan digunakan sebagai pakaian sehari-hari, kain tradisional ini juga dipakai untuk membalut mayat.

"Di saat mati juga mayat harus dibalut dengan kain tenun, sama seperti Muslim yang dibalut kain kafan saat meninggal. Kalau tidak dibalut kain tenun, pihak keluarga akan terasa hina sekali," terang Cletus Beru.

"Di upacara pernikahan, kain tenun juga menjadi benda penting. Pihak wanita harus memberikan kain tenun kepada keluarga mempelai laki-laki," timpalnya.

Banyak tiruan

Seiring berjalannya waktu, kini sudah banyak oknum tak bertanggung jawab yang 'ikut-ikutan' memproduksi kain tenun secara instan. Dalam hal ini, mereka menggunakan pewarna kimia.

Padahal, untuk membuat satu kain tenun berkualitas membutuh proses produksi yang cukup lama karena menggunakan teknik tradisional, dan bahan-bahan alamai.

 Bahan

Cletus mengungkapkan sanggarnya selama ini menggunakan tumbuhan yang ada di sekitar mereka sebagai bahan pewarna alami. Mulai dari kulit pohon, daun pohon, akar pohon, daun indigo, akar mengkudu, daun loba, daun kacang hitam, kulit pohon mangga, dan masih banyak lagi.

"Proses penenunan memakan kurang lebih 1-1,5 bulan. Nah untuk warna dan motif butuh waktu sampai 5-6 bulan, karena kita juga butuh matahari untuk menjemurnya. Beberapa pewarna juga akan terlihat lebih baik saat diproduksi di musim kemarau," terang Cletus.

Oleh karena itu, Cletus mengimbau bagi siapapun yang hendak mengadakan pameran wastra, pihaknya selalu membuka diri untuk ikut memeriahkan acara tersebut.

"Penghasilan penunanitu enggak menentu. Apalagi kalau melihat proses produksinya yang panjang. Bahkan kadang gagal produksi karena cuaca tidak berhasahabat. Jadi saya berharap klo ada event kami para penenunan dari NTT ikut diundang," tukasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini