nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Obat Kanker Payudara Terlalu Telat Diberikan, Kemenkes Diminta Ubah Peraturan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 29 Oktober 2019 18:31 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 29 481 2123211 obat-kanker-payudara-terlalu-telat-diberikan-kemenkes-diminta-ubah-peraturan-vGACrebHCs.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

POLEMIK obat kanker payudara trastuzumab kembali mencuat. Hal ini berkaitan dengan akses obat yang dinilai kurang tepat. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 22 Tahun 2018, obat trastuzumab diberikan pada pasien kanker payudara metastatik.

Sedangkan, Dokter Spesialis Onkologi Radiasi dr Denny Handoyo, Sp.Onk Rad menjelaskan, obat trastuzumab lebih baik bekerja saat level kanker masih kecil. Jika diberikan pada stadium awal, maka efeknya pun bisa menekan sel kanker lebih besar.

"Dengan melakukan pengobatan trastuzumab, pasien kanker payudara HER-2 Positif bisa menekan angka keparahan penyakit 50 persen dibandingkan dengan yang tidak mengonsumsi sama sekali," jelasnya di acara Diskusi Publik: Pentingnya Akses Pelayanan Pengobatan Berkualitas bagu Pasien Kanker Payudara HER-2 Positif di kawasan Jakarta Pusat.

Dokter Denny pun menyayangkan Permenkes ini. Dalam keterangannya, pihak Cancer Information and Support Center (CISC) akhirnya menyampaikan langsung pada Komisi 9 DPR RI untuk memperbaiki koreksi dari Permenkes Nomor 22 Tahun 2018 yang sekarang.

Sebab kriterianya hanya lebih menekankan pada progresivitas. Padahal, progesif itu kadang bersifat ambigu.

"Tujuan kita bersama ialah berharap petunjuk teknis yang berikutnya kata-kata progresif dibuat lebih jelas dan kita berharap juga obat trastuzumab bisa diberikan pada pasien kanker payudara HER-2 Positif di stasiun dini," papar dr Denny.

Dia melanjutkan, karena hal itu dokter mengalami kesulitan untuk menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh menerima obat trastuzumab. Sebab kriterianya hanya lebih menekankan pada progresivitas. Padahal, progesif itu kadang bersifat ambigu.

"Progresif itu bisa lokal artinya muncul lagi, bisa nyebar jauh, bisa juga hanya dari ketika kita kontrol ketahuan misalnya tumor markernya meningkat, apakah ini yang bisa diklasifikasikan sebagai progres?" tanya dokter Denny.

Di sisi lain, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat memberi catatan penting untuk Kementerian Kesehatan terkait dengan obat trastuzumab ini.

Dalam catatan Lestari, saat ini mereka tengah berjuang secara advokasi agar pasien kanker payudara khususnya HER-2 Positif mendapatkan pengobatan sesuai dengan apa yang diperlukan. Permenkes pun keluar, namun menurut Lestari, proses untuk mendapatkan obat trastuzumab harus melalui beberapa langkah pemeriksaan untuk memastikan obat tersebut bisa diberikan atau tidak.

1 Agustus 2019 telah mengundang para pemangku kepentingan untuk memaparkan penelitian teknologi singakatan.

Catatannya yang lain ialah obat trastuzumab tidak bisa diberikan sebagaimana mestinya. Padahal, pihak Kementerian Kesehatan pada 1 Agustus 2019 telah mengundang para pemangku kepentingan untuk memaparkan penelitian teknologi singakatan.

"Sebagai seorang pasien, dokter yang merawat saya memberi informasi, obat trastuzumab yang kita harus konsumsi harus diberikan justru saat penyakit itu belum menjadi parah atau belum terjadi metastase," katanya.

Lestari menambahkan, pemberian obat trastuzumab pada stadium awal itu malah akan memberi efek yang lebih baik pada tubuh pasien kanker payudara HER-2 Positif. Makanya, dirinya berharap Kemenkes bisa melakukan hal itu dengan hidup yang lebih baik dan berkualitas.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini