nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jalan Terjal Taufik Jadi Dokter, Bertugas di Kawasan Transmigrasi hingga Tangani 50 Pasien Sehari

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 01 November 2019 12:49 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 01 481 2124517 jalan-terjal-taufik-jadi-dokter-bertugas-di-kawasan-transmigrasi-hingga-tangani-50-pasien-sehari-JYryjEg3Ed.jpg Dokter Taufik Jamaan. (Foto: Okezone)

NAMA dr. Taufik Jamaan, Sp. OG sudah tidak asing lagi di dunia kedokteran Indonesia. Ia merupakan salah satu dokter spesialis obsteri dan ginekologi (kandungan) ternama dengan segudang pengalaman.

Sederet prestasi telah ia torehkan. Mulai dari menjadi dokter teladan nasional, menjelajahi 30 negara untuk mengikuti dan memberikan workshop tentang kebidanan, menjadi pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) selama empat periode, dan terpilih sebagai Ketua Koperasi OGI.

Namun untuk meraih kesuksesan tersebut, pria asal Padang, Sumatera Barat ini ternyata harus melewati berbagai asam garam kehidupan.

Kepada Okezone, dr. Taufik menceritakan secara ekslusif awal ketertarikannya terjun ke dunia kebidanan hingga menjadi salah satu dokter kandungan ternama di Indonesia. Memutar kembali kenangan 23 tahun silam, Taufik memulai ceritanya.

Sejak masa kanak-kanak, Taufik mengaku telah memiliki jiwa sosial yang tinggi. Ia selalu tergerak untuk membantu orang-orang membutuhkan yang ada di sekitarnya. Sampai pada suatu ketika, Taufik berhasil diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tahun 1985, ia memulai masa perkuliahan yang memakan waktu selama kurang lebih 6 tahun.

Tahun 1985, ia memulai masa perkuliahan yang memakan waktu selama kurang lebih 6 tahun.

Setelah berhasil meraih gelar sarjana kedokteran, Taufik memutuskan kembali ke kampung halamannya untuk mengambil program PTT (Pegawai Tidak Tetap) di Sungai Rumbai, daerah terpencil di perbatasan Sumatera Barat dan Jambi.

Di tempat inilah Taufik mendapatkan banyak pengalaman berharga hingga akhirnya tertarik untuk mengambil spesialisasi di bidang kebidanan.

"Banyak kegiatan-kegiatan di bidang kebidanan yang menarik buat saya. Awal mulanya dari proses pelayanan yang saya berikan kepada warga seperti bakti sosial, sosialisasi program keluarga berencana, hingga pelayanan kontrol ibu-ibu hamil di posyandu dan puskesmas," ungkap dr. Taufik Jamaan saat dihubungi Okezone.

Dia mengabdikan diri selama kurang lebih empat tahun di Sungai Rumbai, kawasan transmigrasi di masa Pemerintahan Presiden Soeharto. Mengingat keterbatasan akses dan minimnya fasilitas, Taufik harus menembus belantara hutan dan menyeberangi sungai ketika hendak memberikan bantuan medis kepada warga.

"Saya juga pernah menolong warga melahirkan anak kembar. Alhamdulillah kondisi ibu dan anaknya saat itu sehat walafiat. Melihat kebahagiaan mereka rasa lelah saya seperti menguap begitu saja," ungkap dr. Taufik.

Berkat pengabdiannya itu, ia pun didapuk sebagai dokter teladan Nasional dan diundang langsung untuk menerima penghargaan di Istana Negara. Berbekal pengalaman yang ia miliki, pada tahun 1996, Taufik memutuskan untuk mengambil spesialis kandungan di Universitas Indonesia.

Keputusan tersebut rupanya dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Selain karena memang ia tertarik dengan bidang tersebut, Taufik juga mengaku mendapat saran dari senior-seniornya yang telah mengambil spesialis kandungan.

Alasan lainnya, ia ingin memperbaiki nasib setelah menikahi wanita pujaan hatinya pada tahun 1993. Dari pernikahan ini, Taufik dikarunia tiga orang anak. Dan untuk menghidupi keluarganya, ia menjatuhkan pilihannya untuk menjadi dokter spesialis obsteri dan ginekologi (kandungan).

ia ingin memperbaiki nasib setelah menikahi wanita pujaan hatinya pada tahun 1993. Dari pernikahan ini,

"Jadi di dunia kedokteran itu ada 4 spesialis unggulan yang paling banyak dipilih orang yakni, kandungan, bedah, anak, dan penyakit dalam. Waktu itu bisa dibilang lagi jaman susah. Akhirnya saya pilih SpOG karena saya pikir lebih menjanjikan. Tapi kembali lagi, yang namanya rejeki, Tuhan juga yang menentukan," papar dr. Taufik.

Dia pun harus kembali mengenyam pendidikan selama empat tahun lebih. Baru pada 2000, Taufik berhasil menyematkan gelar SpOG di belakang namanya.

Namun perjuangan belum berakhir, Taufik terus menggali potensi diri hingga mendapat tawaran untuk bekerja di RSIA Bunda, Menteng, Jakarta Pusat. Di tempat ini, ia mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu di Negeri Kangguru, Australia.

"Saya dikirim untuk memperdalam ilmu tentang kebidanan dan bayi tabung. Kalau dihitung-hitung sudah lebih dari 20 tahun saya menekuni bidang ini," ucap dr. Taufik.

Pro dan kontra dokter kandungan pria vs wanita

Taufik tidak menampik ada sejumlah tantangan yang harus ia hadapi sebagai dokter pria spesialis kandungan. Salah satunya terkait mindset negatif yang masih melekat kuat di pikiran masyarakat Indonesia.

Masih banyak pasien yang merasa kurang nyaman ketika berkonsultasi seputar kehamilan mereka kepada dokter pria. Apalagi sebelum melakukan diagnosa, setiap dokter harus menanyakan beragam pertanyaan bersifat pribadi kepada mereka.

Si pasien juga harus mengangkat kedua kaki, lalu membiarkan sang dokter memasukkan spekullum ke dalam vagina untuk melihat kondisi rahim. Bagi sebagian orang, hal ini akan terasa tidak nyaman bila yang melakukannya adalah dokter pria.

Bagi sebagian orang, hal ini akan terasa tidak nyaman bila yang melakukannya adalah dokter pria.

Kejadian tersebut juga sempat dialami Taufik di awal kariernya. Namun ia mengaku tidak pernah ambil pusing karena ia bekerja secara profesional dan menjunjung tinggi etika kedokteran.

"Permasalahan ini sangat subjektif. Tapi saya selalu menghargai pasien, menjaga etika kedokteran dan kesopanan dalam berinteraksi. Bahkan sebelum melakukan pemeriksaan saya selalu meminta izin dan permisi kepada mereka," ujar dr. Taufik.

Lebih lanjut Taufik menjelaskan, sebelum membuka praktik kebidanan, ia sebetulnya sudah melalui serangkaian pelatihan menggunakan boneka phantom dan cadaver (mayat). Pelatihan ini, memang membutuhkan waktu yang panjang hingga akhirnya ia merasa terbiasa.

Taufik kembali menegaskan bahwa preferensi pasien dalam memilih dokter kandungan adalah murni pilihan personal atau subjektif.

"Malah kadang-kadang pasien banyak memilih dokter pria karena dianggap dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tidak ragu-ragu. Kalau dokter wanita kan perasaannya juga bermain, apalagi kalau mereka sudah pernah melahirkan. Sensenya ikut bermain. Intinya kalau pasien sudah cocok, mau pria atau wanita pasti cocok-cocok saja," tegas dr. Taufik.

Sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut, Taufik selalu menerapkan konsep 3 S (senyum, salam, sapa) kepada setiap pasiennya. Setelah itu, pasien akan dipersilakan duduk, dan diberikan kesempatan untuk berkeluh kesah seputar masalah kesehatan yang tengah mereka hadapi.

Menurut Taufik, pada sesi 'curhat' inilah pasien harus diberikan waktu hingga ia merasa nyaman. Kemudian, dokter bisa langsung memasuki tahap anamnesa atau wawancara khusus untuk mendiagnosa si pasien.

dokter bisa langsung memasuki tahap anamnesa atau wawancara khusus untuk mendiagnosa si pasien.

"Pasien itu harus didengarkan keluhannya. Mereka butuh untuk didengarkan. Kadang dengan ngobrol saja bisa langsung sembuh. Sayangnya, masih banyak dokter yang gak sempat denger keluhan pasiennya. Setelah mereka nyaman, baru bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, seperti USG dan lain-lain," beber Taufik.

"Rekor saya memeriksa 50 pasien dalam satu hari. Baik yang rawat inap, persalinan, konsultasi kehamilan, atau mau program hamil dan fertifilitas," tambahnya.

Sebelum mengakhiri cerita, Taufik menyampaikan pesan kepada para dokter-dokter muda yang tengah merintis karier di dunia medis. Ia mengatakan, kunci sukses untuk bertahan di bidang ini adalah dengan bekerja keras, mencintai pekerjaan, menjaga kesehatan, dan selalu bahagia.

"Harus mencinta pekerjaan, karena di kebidanan itu enggak ada jam kerjanya. Pagi, siang, malam harus tetap stand by. Intinya dinikmati sebagai ibadah agar tidak merasa berat," kata dia.

"Terakhir harus pintar-pintar mengatur waktu untuk berkumpul bersama keluarga, karena mereka salah satu sumber kebahagiaan," pungkasnya.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini