nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Demi Kebutuhan Medis, Perusahaan Ini Kumpulkan Ribuan Foto Kotoran Manusia

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 04 November 2019 22:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 04 481 2125589 demi-kebutuhan-medis-perusahaan-ini-kumpulkan-ribuan-foto-kotoran-manusia-R2CuWYhcVj.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Melihat kotoran mungkin menjadi suatu hal yang paling menjijikkan di dunia. Namun para ilmuwan dan Seed Health, sebuah perusahaan kesehatan mikroba, melakukan crowdsourcing terhadap foto-foto kotoran manusia. Foto-foto tersebut digunakan untuk keperluan penelitian.

Perusahaan ini kabarnya telah memiliki sekira 100 ribu gambar kotoran manusia. Foto ini akan digunakan sebagai subjek penelitian untuk membantu orang yang menderita masalah kronis usus. Di sisi lain Seed yang merupakan perusahaan kesehatan mikroba bekerja dengan Auggi, yang merupakan pelatih kesehatan usus digital.

 Toilet bersih

Pada tujuan akhirnya, eksperimen ini berfungsi untuk membuat platform kecerdasan buatan agar mengenali perbedaan antara kotoran sehat dan tidak sehat. Pengembang sendiri mengatakan database gambar kotoran akan menjadi yang pertama di dunia, walaupun hal ini sebenarnya tidak mengejutkan.

Startup ini berharap dapat membantu kasus yang menimpa satu dari lima orang di Amerika Serikat (AS) yang hidup dengan kondisi usus kronis seperti Irritable Bowel Syndrome. Hebatnya sebelum meluncurkan drive data untuk gambar kotoran, perusahaan melatih aplikasi dengan mencetak lilin mainan anak.

Lilin mainan tersebut dicetak untuk meniru kotoran Bristol stool chart yang berfungsi untuk membantu dokter mengidentifikasi tanda-tanda sembelit, diare dan banyak lagi. Hal ini pun dibenarkan oleh Co-Founder Auggi, David Hachuel.

“Kami menghabiskan banyak waktu hanya untuk membuat model lilin mainan yang berbeda. Kami sebenarnya mencetak 3D toilet hanya untuk meniru bagaimana hal itu akan terjadi dalam kehidupan nyata,” terang Hachuel, sebagaimana dilansir VT, Senin (4/11/2019).

Namun, penggunaan lilin yang dibentuk menyerupai kotoran memakan waktu yang cukup lama. Akhirnya mereka melakukan crowdsourcing gambar kotoran yang tampaknya sudah cukup sukses.

Hachuel berharap bahwa database yang mereka bangun dapat membantu pasien mengendalikan kesehatan usus mereka dan memahami korelasi antara gaya hidup dan gejala penyakit.

“Mereka berjuang setiap hari membuat keputusan tentang apa yang harus dimakan, berapa banyak latihan yang harus dilakukan untuk menjaga gejala mereka. Jadi sangat penting untuk membangun basis data ini dan mengembangkan alat pemantauan sederhana ini untuk memungkinkan pasien melakukan hal ini di rumah,” tuntasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini