nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Beban Gizi Indonesia Masih Tinggi, Masyarakat Dianjurkan Konsumsi Ikan

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 04 November 2019 20:35 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 11 04 481 2125703 beban-gizi-indonesia-masih-tinggi-masyarakat-dianjurkan-konsumsi-ikan-mPNPnToZYG.jpg Gemar Makan Ikan Solusi Masalah Kurang Gizi (Foto: Theloop)

SAAT ini Indonesia masih menghadapi beban gizi yang cukup serius. Menurut Riset Kesehatan Daerah (Riskesdas) 2018, sebanyak 48,9% ibu hamil mengalami anemia, 30,8% balita mengalami stunting, dan 8% balita mengalami obesitas.

Masalah beban gizi tersebut terjadi lantaran masyarakat Indonesia masih belum sadar akan pentingnya mengonsumsi makanan bergizi bagi kesehatan manusia. Padahal salah satu sumber makanan yang berasal dari Ikan adalah yang terbaik.

Selain Indonesia kaya akan sumber daya ikannya, hewan yang satu ini juga memiliki kandungan gizi yang mampu menyehatkan serta mencerdaskan generasi muda. Untuk memenuhi kebutuhan protein seorang anak usia pra sekolah wajib mengonsumsi ikan sebanyak 17 sampai 20 gram per hari. Sementara untuk wanita hamil kebutuhan protein ikan lebih dari 20 gram per hari.

Hal ini dibenarkan oleh Country Director GAIN Indonesia, Ravi K. Menon. Dia mensosialisasikan tentang bagaimana menyajikan ikan sebagai ready to eat dan ready to cook untuk ibu hamil, ibu menyusui, balita, anak-anak, remaja hingga usia dewasa, adalah salah satu cara untuk mengentaskan masalah beban gizi di Indonesia.

Direktur Pemasaran Kementerian Kelautan dan Perikananan, Machmud, SP, MSc, mengatakan pihaknya juga telah memimpin inisiatif Gemarikan atau Gerakan Makan Ikan untuk meningkatkan konsumsi ikan secara nasional. Sosialisasi ini mereka lakukan melalui forum promosi ikan (Formakan) dan kampanye media massa.

"Kami mulai mempelajari pola makan Kalangan Milenial yang mulai menyukai makan ikan. Memang selama ini, kalangan milenial gemar menikmati ikan di cafe atau restoran dan pilihan terbanyak adalah dengan cara dibakar. Nah melalui gerakan ikan yang disajikan dalam olahan akan menjadi menu terbesar yang bisa diminati Kalangan Milenial," terang Machmud.

Lebih lanjut, Machmud mengatakan minat Kalangan Milenial terhadap ikan cukup tinggi. Hanya saja kebiasaan positif ini harus lebih disosialisasikan agar bisa merata di seluruh Indonesia. Menurut Machmud, kebutuhan makan ikan di Indonesia masih tinggi yakni sekira 60 persen.

"Hingga saat ini Indonesia masih tercatat sebagai sepuluh pemilik ikan dan hasil laut terbesar di dunia. Memang angkanya untuk Asia, Indonesia termasuk kecil dibandingkan negara Thailand, Vietnam, Filipina dan Malaysia. Tetapi, hal ini menjadi kesempatan lebih baik dan lebih besar di masa depan untuk pemenuhan kebutuhan ikan olahan di Indonesia,” ulasnya.

Sementara Perwakilan Direktorat Gizi Pemasyarakatan, Kementerian Kesehatan, dr. Mujiati, MKM, mengatakan setiap ikan mengandung 22 gram protein per 100 gram.

Sementara rantai pasokan ikan di pasar lokal sebesar 75.000 sampai 125.000 ton ikan rusak per tahun. Selain itu 16.500 sampai 27.500 ton protein yang hilang per tahun. Apabila dirupiahkan maka Indonesia akan kehilangan Rp1.95 triliun sampai Rp3.25 triliun per tahunnya.

"Hal ini merupakan sebuah inisiatif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia melalui penyedian sayuran, buah dan ikan. Program ini menjadi bagian penting dari upaya ketahanan pangan dan gizi, serta upaya menyehatkan dan mencerdaskan anak bangsa serta sumber ekonomi bagi lebih dari 5 juta penduduk Indonesia," ujar Mujiati.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini