nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Misteri Terowongan Wilhelmina di Jawa Barat, Disebut-sebut Jadi Tempat Pesugihan

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 07 November 2019 02:05 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 06 612 2126681 misteri-terowongan-wilhelmina-di-jawa-barat-disebut-sebut-jadi-tempat-pesugihan-TZLgdus7Ol.jpeg Terowongan KA di Pangandaran

Nama Terowongan Wilhelmina pasti sudah tidak asing lagi bagi pencinta sejarah perkeretaapian di Indonesia. Terowongan peninggalan zaman Belanda ini dinobatkan menjadi terowongan terpanjang nonaktif di Indonesia dengan panjang 1.208 meter.

Pada masa jayanya, terowongan ini menghubungkan jalur kereta api Banjar-Pangandaran-Cijulang yang dibangun oleh Hindia Belanda di bawah naungan perusahaan perkeretaapian Staatsspoorwegen (SS) pada 1914 dan diresmikan pada 1 Juni 1921.

Namun karena beberapa masalah pada zamannya, terowongan ini resmi ditutup secara total pada 1982 bersamaan dengan penutupan sejumlah rel kereta nonaktif lainnya seperti Garut-Cikajang dan beberapa rute KA di Bandung.

Saat ini rute Banjar-Pangandaran-Cijulang masuk dalam daftar empat rute kereta api di Jawa Barat yang bakal direaktivasi oleh PT.Kereta Api Indonesia (KAI) bersamaan dengan Cibatu-Garut-Cikajang, Rancaekek-Tanjungsari, dan Bandung-Ciwidey.

 Terowongan

Selain menjadi terowongan terpanjang, Terowongan Wilhelmina ini memiliki banyak misteri dan sejarah yang ada di dalamnya. Sebenarnya terowongan bekas peninggalan Belanda ini tidak hanya satu di rute Banjar-Pangandaran-Cijulang melainkan ada tiga yakni Terowongan Batulawang (281,5 meter), Terowongan Hendrik (105 meter), Terowongan Juliana (147,70 meter).

Banyak pekerja meninggal tiba-tiba selama pembangunan

Terowongan Wilhelmina lah yang paling mendapat sorotan karena jaraknya yang paling panjang sekaligus angker. Nama Wilhelmina sendiri berasal dari seorang ratu asal Belanda yang memiliki nama lengkap Wilhelmina Helena Pauline Maria terowongan ini berada di perbukitan kapur yang ada di Desa Ampak dan Desa Bagolo, Kalipucang, Pangandaran.

Selama pembangunannya, konon terowongan ini sempat terbengkalai pada 1916 karena tidak ada tenaga ahli yang bekerja. Selain medan yang sulit, banyak pekerja yang sakit dan berujung meninggal dunia secara tiba-tiba. Padahal pada zamannya, terowongan ini sangatlah penting karena berfungsi sebagai rute pengangkut hasil bumi seperti kopra, padi dan rempah.

Kerap digunakan orang untuk bertapa

 Terowongan

Merangkum dari berbagai sumber, meski saat ini terowongan tersebut berstatus non-aktif, namun masih banyak orang yang datang ke tempat tersebut. Mereka yang datang ada yang hanya untuk berswafoto, namun ada pula yang bertapa di dalam terowongan angker tersebut. Meski demikian, tidak ada satupun orang yang tahu tujuan dan maksud orang tersebut memilih bertapa di tempat itu.

Orang sekitar desa hanya berasumsi bahwa orang yang bertapa di Terowongan Wilhelmina adalah orang yang ingin menuntut ilmu atau pesugihan. Menurut laporan masyarakat sekitar, di dalam terowongan yang melegenda tersebut kerap ditemukan beberapa benda seperti kayu yang dibakar sebagai alat penerangan mereka ketika ritual tapa.

Konon terdapat kandungan mineral dan barang berharga di dalamnya

Selain kerap dipakai bertapa, beberapa kisah pun menceritakan kalau terowongan ini diindikasikan sebagai sumber minyak bumi pada zaman penjajahan Belanda. Tak hanya itu, di sekitar terowongan tersebut juga terdapat sejumlah bebatuan berharga. Kabarnya batuan tersebut memiliki kandungan unsur emas dan perak yang bernilai tinggi.

Adapun cerita yang mengatakan bahwa terowongan ini dulunya digunakan oleh para Tentara Belanda untuk melenyapkan seseorang. Jadi orang yang telah dibawa menyusuri terowongan bersejarah ini, akan dilenyapkan. Saat ini kondisi Terowongan Wilhelmina sangat terbengkalai dan dipenuhi ilalang yang menambah kesan angker dan mistis bagi siapapun yang mendatanginya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini