nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Tri, Anggota Palang Hitam yang Terpaksa Antar Pulang Kuntilanak

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 07 November 2019 01:03 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 06 612 2126683 kisah-tri-anggota-palang-hitam-yang-terpaksa-antar-pulang-kuntilanak-mH4zAG55ME.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

MUNGKIN tidak banyak orang yang ingin berinteraksi dengan jenazah, entah karena memang takut atau karena tidak suka. Tapi, ada dari mereka yang bekerja sebagai petugas angkutan dan pemulasaraan jenazah, biasanya disebut Palang Hitam.

Mereka adalah orang-orang yang biasanya mengurus jenazah tunawan, atau dengan kata lain jenazah yang terlantar. Jenazah yang tidak memiliki atau belum diketahui keluarganya, serta jenazah yang tidak mempunyai identitas diri resmi. Mulai dari gelandangan, orang-orang penghuni panti sosial, korban kecelakaan, hingga jenazah yang ditemukan di sungai.

Ialah Tri, salah seorang pasukan ‘Palang Hitam’ di Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta yang sudah bertugas sejak 2010 silam. Kepada Okezone, Tri tak sungkan menuturkan pengalaman mistisnya memiliki profesi unik satu ini. Yakni membonceng ‘pulang’ kuntilanak ke area pemakaman.

Tri menuturkan, kala itu sekitar pukul 11 malam ia hendak pulang dari kantor di kawasan Tanah Abang menuju rumahnya di kawasan Tanah Kusir.

setibanya di area parkiran, saat hendak mempersiapkan motor, tiba-tiba ia melihat seorang wanita tengah berjongko

Siapa sangka, setibanya di area parkiran, saat hendak mempersiapkan motor, tiba-tiba ia melihat seorang wanita tengah berjongkok, wanita memakai baju putih dan berambut panjang.

"Selesai manasin motor, saya naik lalu menyalakan lampu depan motor. Eh tahu-tahu dia (kuntilanak), sudah ada di depan motor lagi nongkrong saja gitu. Bingung juga, mau kabur takut motor hilang," ungkap Tri saat dihubungi Okezone.

"Tapi saya sempat mikir, jangan-jangan orang lagi nyaru. Akhirnya saya permisi, ngomong ‘maaf permisi saya mau pulang’,” tambah dia.

Tak dinyana tak diduga, sang mahluk gaib tersebut membalas perkataan Tri. Dengan gamblang ia mengatakan bahwa ia ingin ‘menumpang’ ikut pulang bersama Tri menuju satu kawasan yang sama. “Eh dia bilang, ‘ikut sampai jembatan Tanah Kusir. Saya mau pulang tapi enggak bisa’,” imbuhnya.

Tri yang terkejut berusaha menolak secara halus sambil menahan takut, permintaan sang kuntilanak. Tapi sang kuntilanak tak menyerah dan terus memohon, hingga akhirnya Tri menyetujui permintaan tersebut, sembari mengajukan syarat bahwa sang kuntilanak tidak boleh menganggunya lagi setelah selesai diantarkan pulang.

“Saya bilang, lah situ kan setan kenapa enggak langsung ngilang atau terbang. Eh dia diam saja enggak jawab. Akhirnya saya bilang, yasudah diantar sampai jembatan Tanah Kusir, tapi janji setelah itu saya dengan dia tidak ada urusan lagi. Lalu dia setuju, bilang iya,” tutur Tri.

Lalu bagaimana sensasi membonceng kuntilanak pulang ke ‘tempatnya’ ini? Jelas ada sensasi aneh tapi nyata yang ia rasakan. Sepanjang jalan ia merasa hawa sangat dingin, Tri merasa seolah sedang membawa bertumpuk-tumpuk es balok.

Sepanjang jalan ia merasa hawa sangat dingin, Tri merasa seolah sedang membawa bertumpuk-tumpuk es balok.

Tidak hanya sensasi luar biasa dingin, namun anehnya motor yang ia kendarai pun terasa sangat berat. Sehingga tidak bisa dikendarai dengan kecepatan tinggi seperti biasanya.

“Benar-benar dingin, kayak bawa es balok berbalok-balok. Berat banget sampai motor enggak kuat lari. Saya inginnya ngebut sekenceng-kencengnya tuh biar cepat sampai, tapi ya itu motornya ‘ngeden’ enggak bisa lari. Kalau tidak salah baru sampai jembatan Tanah Kusir tuh sekitar jam 4 subuh,” jelas Tri.

Ketika ditanya apakah ia sempat melihat rupa jelas sang kuntilanak yang menjadi penumpangnya tersebut. Tri mengaku wajah sang setan tidak bisa ia lihat dengan jelas, begitupun dengan suaranya, Tri mengungkapkan suara sang kuntilanak terdengar hanya samar-samar lirih namun cukup jelas bisa ia dengarkan.

“Muka sih enggak kelihatan jelas, di kaca spion juga enggak kelihatan. Kayak bawa angin, berat berasa tapi enggak bisa dilihat. Suara dia tuh kayak samar-samar, terdengarnya kayak rada jauh tapi jelas didengarnya,” tambahnya.

Walau telah mengalami pengalaman mistis, namun Tri mengaku hal ini tidak membuat ia kapok atau jera bekerja sebagai pasukan ‘Palang Hitam’. “Alhamdulillah enggak kapok dan Insya Allah enggak takut. Tapi kalau ketemu lagi sih mungkin lari ya,” seloroh Tri.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini