nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kolera Babi Tidak Menular ke Manusia, tapi Sebabkan Cemaran E. Coli

Dewi Kania, Jurnalis · Senin 11 November 2019 16:49 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 11 481 2128428 kolera-babi-tidak-menular-ke-manusia-tapi-sebabkan-cemarkan-e-coli-ixhJnzZG00.jpg Bakteri e.coli di babi (Foto: Biocote)

TERJADINYA kasus kolera babi dan African Swine Fever (ASF) meresahkan banyak masyarakat di Sumatera Utara. Sebenarnya penyakit tersebut tidak menular ke manusia, hanya saja dampaknya mengarah pada pencemaran lingkungan.

Sejauh ini lebih dari 5.000 ekor babi mati akibat tertular virus kolera. Kasus kolera babi tersebut terjadi di 12 daerah di Sumatera Utara, seperti Karo, Dairi, Humbang, Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Toba, Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.

 Ilustrasi kolera babi

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Anung Sugihantono menegaskan, virus kolera babi tidak akan menular dari hewan ke manusia. Hanya saja dapat menyebabkan pencemaran lingkungan.

"Kejadian kolera babi di Sumut itu yang kita pikirkan justru pembuangan bangkai di sungai. Yang mana pengguna air tanah di sekitar Sumut sangat tinggi, justru bisa timbul cemaran lingkungan," kata Anung ditemui di Gedung Kemenkes RI, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (11/11/2019).

Sebabnya, sambung Anung, masyarakat di Sumatera Utara malah membuang bangkai babi di sungai. Hal itu dapat memicu penyebaran e coli yang justru berbahaya untuk manusia.

Anung menjelaskan, bakteri e coli bisa muncul di resapan air tanah. Padahal air tersebut kerap dipakai masyarakat, baik untuk dikonsumsi atau menggunakan untuk kebutuhan rumah tangga lainnya.

 Ilustrasi kolera babi

"Semua tempat yang dijadikan tempat buangan bangkai babi agar mewaspadai air tanah di sekitar situ. Meski ga ditemukan kumannya kolera babi, tapi malah e coli yang sebabkan pencemaran lingkungan," bebernya.

Resapan air tanah yang tercemar e coli secara kasat mata memang tidak dapat terlihat. Namun air tanah tersebut jadi bau tak sedap dan tidak enak dikonsumsi.

Bahaya e coli, beber Anung, bisa menularkan diare hingga menyebabkan penyakit infeksi lainnya. Masyarakat harus mengantisipasi hal ini dipantau langsung dengan pemerintah daerah.

Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes RI telah berkomunikasi dengan seluruh Dinas Kesehatan di Provinsi Sumatera Utara. Anung meminta kepada pemerintah untuk melakukan pengecekan terhadap daerah yang tercemar.

"Saya minta secara periodik Dinkes melakukan pengecekan. E coli ini berbahaya bisa merusak indikator mutu air," pungkas Anung.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini