Urban Farming Bisa Jadi Solusi Berkurangnya Lahan Pertanian di Indonesia

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 14 November 2019 16:02 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 14 612 2129780 urban-farming-bisa-jadi-solusi-berkurangnya-lahan-pertanian-di-indonesia-G6pw1Wsdtm.jpg Ilustrasi (Foto: Delano)

Di saat pemerintah dan sejumlah organisasi nirlaba (NGO) tengah menggencarkan program petani muda dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor pertanian, lahan pertanian di Indonesia justru semakin berkurang setiap harinya.

Tantangan inilah yang kini harus dihadapi oleh para petani lokal, terutama generasi muda yang hendak mendalami dunia pertanian. Tak hanya jumlah atau luas lahannya yang semakin menipis, kualitas tanah atau lahan itu sendiri pun sudah berkurang drastis.

Hal ini dijelaskan secara gamblang oleh Nona Pooroe Utomo, selaku Executive Director The Learning Farm. Permasalahan utama yang kini harus menjadi perhatian pemerintah adalah terkait masalah degradasi tanah.

 Lahan pertanian

"Karena banyak lahan yang dibuka untuk pemukiman, maka sumber air tanahnya pun menjadi terbatas. Jadi semakin banyak bangunan di daerah tersebut, maka akan memengaruhi kualitas tanah yang ada di sekitarnya," terang Nona Poore saat ditemui Okezone, di kawasan Cianjur, Jawa Barat, Rabu (13/11/2019).

Nona kemudian menjelaskan lahan yang ideal untuk ditanami tumbuhan adalah lahan yang memiliki ph tanah antara 6-7. Kriteria ini akan sangat sulit ditemui bila lahan tersebut jauh dari daerah resapan airnya.

"Lahan yang tersedia pun kini kualitasnya tidak sebaik yang seharusnya. Jadi ada dua tantangan terkait dengan keterbatasan lahan dari segi space dan kualitasnya. Bayangkan lahan yang dikepung pemukiman resapan airnya di mana?" tegas Nona.

Selain Ph, unsur hara di dalam tanah juga mengalami penurunan kualitas yang cukup signifikan. Hal ini tidak terlepas dari prakik pembukaan lahan secara masif yang menggunakan bahan-bahan kimia seperti pestisida.

Bila terus dibiarkan, lahan seperti ini produktivitasnya justru akan sangat menurun. Nona kemudian memberi contoh lahan pertanian yang baru beberapa tahun dikelola oleh timnya di daerah Cianjur.

Saat pertama kali datang ke tempat tersebut, Ph air di lahan itu hanya menyentuh angka 3 karena sempat dipakai sebagai lahan yang masif dan memakai pestisida. Kondisi bebatuannya pun terbilang banyak sisa-sisa pembangunan pemukiman yang dibuang begitu saja.

"Bisa ditingkatkan lagi kualitasnya tapi harus diberi perlakuan sebaik mungkin. Misalnya bisa digemburkan lagi dengan menambahkan kapur, tapi tergantung kondisi tanahnya. Kalau tanah liat memang diperlukan kapur, agar pori-pori tanahnya yang lebar bisa dikendalikan," terang Nona.

Bila nantinya program petani muda booming di kalangan generasi muda Indonesia, Nona pun berharap agar pemerintah segera melakukan tindakan untuk menyelamatkan lahan-lahan yang tersisa. Paling tidak, saat ini para petani masih bisa mengakalinya dengan menerapkan konsep hidroponik dan urban farming.

"Bisa urban farming. Tembok-tembok rumah bisa dilapisi karpet lalu diisi dengan pot tanaman. Kita harus mengakali untuk menghadirkan kehijauan," ungkap Nona.

"Yang harus dilihat pula adalah pilihan tanamannya. Tanaman berakar pendek bisa ditanam di pot. Contoh lain misalnya labu. Labu kan hanya tinggal dijalarin dan tumbuhin ini hanya membutuhkan air yang sedikit. Anggur pun sama. Intinya be smart. Saya yakin anak-anak muda punya ide yang besar," tukasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini