nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nuansa Mistis Gerbong Maut Bondowoso di Museum Brawijaya

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 14 November 2019 18:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 14 612 2129858 nuansa-mistis-gerbong-maut-bondowoso-di-museum-brawijaya-VT01Q28sbP.jpg Gerbong maut (Foto : Wikipedia)

Pada zaman Hindia Belanda kereta api yang ada di Indonesia berada dalam naungan perusahaan kereta api milik Belanda yakni Staatsspoorwegen (SS). Perusahaan tersebut memfasilitasi seluruh perkeretaapian mulai dari rel, lokomotif, gerbong hingga bangunan penunjang kereta api lainnya. Salah satu sejarah paling memilukan dalam dunia perkeretaapian di Indonesia adalah Gerbong Maut yang merupakan saksi perjuangan rakyat Bondowoso dalam mengusir penjajah.

Gerbong penuh sejarah itu kini terpajang di bagian tengah Museum Brawijaya, Malang. Selintas, gerbong kereta api ini terlihat sangat sederhana dengan warna abu-abu, beratap seng, dan berpilar besi. Gerbong Maut memiliki empat buah roda besi, dengan panjang gerbong 5,27 meter, lebar 2,82 meter dan tinggi 3,34 meter.

Pada bagian tengah roda dari gerbong ini terdapat kode bertulis SS1920 yang artinya dibuat pada 1920 oleh Staatsspoorwegen. Pada bagian lainnya pun terdapat tulisan GR10152, kode GR yang tertulis itu menunjukkan pada zamannya ini digunakan sebagai gerbong kereta barang.

Digunakan Sebagai Transportasi Pemindahan Tawanan

Merangkum dari situs resmi Kemendikbud, Keamanan Marinir Belanda atau biasa disebut de Veiligheidsdienst van de Mariniers Brigade (VDMB) melakukan pemindahan tawanan yang sebagian besarnya adalah para pejuang dari Bondowoso. Banyaknya pejuang yang tertangkap di Bondowoso membuat penjara melebihi kapasitas dan harus dipindahkan ke Penjara Bubutan di Surabaya.

Gerbong Maut

Pemindahan tahanan sendiri dilakukan pada November 1947 dan berhasil memindahkan 200 orang dalam tiga tahapan yakni dua menggunakan kereta penumpang dan satu tahapan menggunakan kereta barang. Dua tahapan awal pemindahan tahanan mungkin berlangsung normal karena menggunakan kereta penumpang, namun nasib kurang beruntung dialami para tahanan yang dipindahkan menggunakan gerbong barang.

Tahanan Tersiksa Hingga Tewas dalam Gerbong yang Sempit

Para tahanan harus berjejalan dalam tiga gerbong barang dengan kode GR 5769, GR 4416 dan GR 10152 yang dilakukan pada 23 November 1947. Para tentara Belanda menyiapkan tiga gerbong tersebut di Stasiun Bondowoso dan memasukan beberapa tahanan ke dalamnya. Gerbong pertama dengan kode GR 5769 berisi 32 tahanan, sementara gerbong kedua dengan kode GR 4416 berisikan 30 tahanan.

Gerbong Maut

(Foto : Kemdikbud)

Pada gerbong terakhir dengan kode GR 10152 berisikan 30 tahanan. Keseluruhan tahanan tersebut terdiri dari 20 orang warga sipil, 38 laskar rakyat, 30 orang Tentara Republik Indonesia (TRI) dan 20 orang anggota polisi. Terbayang dengan panjang gerbong sekira lima meter dengan lebar kurang dari tiga meter para tahanan harus berhimpitan dalam ruangan tertutup yang minim oksigen.

Aura Mistis Kian Terasa Setelah 46 Tahanan Wafat dalam Gerbong Maut

Tepat pukul 05.00 pagi seluruh tahanan memasuki gerbong dan baru diberangkatkan pada 07.30 menuju Stasiun Wonokromo melewati rute Jember-Probolinggo-Jatiroto yang menghabiskan waktu sekira 13 jam. Selama perjalanan para tahanan itu pun tidak diberi makan maupun minum, penderitaan tidak berakhir sampai di situ, setibanya di Stasiun Jember kereta berhenti selama tiga jam sehingga para tahanan terjemur cahaya matahari.

Gerbong Maut

(Foto : Kemdikbud)

Dengan siksaan yang tak kunjung berakhir, akhirnya 46 tahanan tewas mengenaskan. Mereka tidak dapat bertahan karena kelaparan, kepanasan, dehidrasi dan juga kekurangan oksigen. Kabarnya salah satu gerbong yang dipajang di Museum Brawijaya menghadirkan aura mistis yang begitu kental bagi para pengunjung yang datang dan melihat gerbong tua tersebut.

Beberapa sumber lainnya pun kerap menyebutkan bahwa gerbong maut ini menghadirkan aura kelam yang sangat besar, hingga kerap muncul penampakan menyeramkan.

Bahkan, penampakan hantu muncul tanpa sengaja terabadikan jepretan foto seorang siswi. Peristiwa menyeramkan rupanya bukan sekali terjadi. Beberapa pengakuan pengunjung juga mengalami hal yang sama.

Tidak hanya penampakan foto, pernah ada kejadian pengujung mengalami kesurupan. Selain itu, ada juga suara-suara misterius yang kerap terdengar di gerbong maut.

Meski ada cerita mistis, Museum Brawijaya Malang tetap ramai pengunjung, bahkan tak pernah sepi. Demikian dikutip dari berbagai sumber.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini