nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Target Ambisius Memberantas Stunting, Duit Rp60 Triliun Digelontorkan

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 15 November 2019 16:41 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 15 481 2130363 target-ambisius-memberantas-stunting-duit-rp60-triliun-digelontorkan-hUGzpTwsFm.jpg Target Ambisius Pemberantasan Stunting (Foto: Ist)

Angka stunting (kekerdilan) di Indonesia masih relatif tinggi, meskipun kecenderungannya terus menurun. Saat ini, sekitar 300 per 100 ribu kelahiran di Indonesia menderita stunting.

Untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian PPN/Bappenas menargetkan prevalensi stunting pada balita turun menjadi 183 per 100 ribu kelahiran atau 19 persen dari total angka kelahiran pada 2024.

Target ambisius ini, kata Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Subandi, harus disertai intervensi yang konvergen.

“Intervensi spesifik dan intervensi secara lengkap harus disampaikan kepada masyarakat, terutama untuk ibu dan anak. Bappenas sekarang sedang memastikan apakah betul intervensi ini sampai. Bukan hanya sent, tapi kita ingin memastikan delivered," ujar Subandi dalam Seminar Nasional "Demokratisasi dan Kesehatan Masyarakat: Tantangan Penanggulangan Masalah Gizi Anak Indonesia" di Jakarta, Kamis (14/11).

Subandi menegaskan, stunting perlu ditangani secara serius karena tidak hanya berdampak pada penurunan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia, masalah kekerdilan juga mengurangi peluang tercapainya bonus demografi.

Dari aspek ekonomi, mitigasi stunting yang memiliki potensi kerugian mencapai dua hingga tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) per tahun, juga dapat berkontribusi untuk mengurangi angka kemiskinan.

Selama ini, sekitar 20 kementerian/Lembaga telah menganggarkan dana untuk penanganan stunting. Data Kementerian Keuangan menyebutkan, alokasi dana sekitar Rp 60 triliun untuk stunting perlu diiringi konvergensi program percepatan penurunan stunting, baik di pusat maupun daerah. Konvergensi tersebut adalah upaya untuk memastikan seluruh intervensi penurunan stunting sampai pada target sasaran.

"Setelah kita cek dengan betul, ternyata yang benar-benar sampai hanya Rp 29 triliun, baru segitu. Kita tidak bisa menghilangkan kemiskinan jika stunting ini belum bisa ditangani," ungkap Subandi.

Untuk mempercepat upaya penurunan angka stunting, Kementerian PPN/Bappenas merumuskan upaya lintas sektor yang melibatkan seluruh stakeholder secara terintegrasi melalui koordinasi serta konsolidasi program dan kegiatan pusat, daerah, hingga tingkat desa.

Seperti Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang memulai kerjasama bersama pihak swasta untuk memberantas stunting melalui pelatihan tenaga kesehatan, yaitu: edukasi nutrisi, hidrasi, dan perilaku hidup bersih sehat hingga bantuan akses nutrisi kepada anak di atas 1 tahun. Program pencegahan stunting ini akan dilaksanakan pada 14 kabupaten/ kota prioritas pencegahan stunting. Harapannya supaya dapat memberikan manfaat kepada sekira satu juta masyarakat sampai dengan 2023.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berharap langkah ini bisa mendukung kondisi kesehatan anak-anak. “Kami berharap upaya pencegahan stunting secara terpadu akan menjadi salah satu langkah kongkret pemerintah Jawa Barat untuk mencegah stunting secara berkesinambungan di masyakarat. Tujuannya untuk mewujudkan masyarakat yang juara lahir dan batin, termasuk di bidang kesehatan anak-anak sebagai fondasi kehidupan yang lebih baik di masa depan,” ujarnya.

Adapun langkah yang akan dilakukan untuk memberantas stunting dilakukan dengan lima cara.

1. Peningkatan kemandirian dan kemampuan tenaga kesehatan serta kader untuk mengevaluasi status gizi balita dan menangani anak terindikasi stunting secara cepat dan seksama melalui program Aksi Cegah Stunting.

2. Sosialisasi dan edukasi gizi seimbang berupa Isi Piringkub dan hidrasi sehat dengan gerakan Ayo Minum Air (AMIR).

3. Edukasi nutrisi dan stimulasi serta dukungan 33.000 akses nutrisi pertumbuhan yang dikumpulkan dari pledge berbagai lapisan masyarakat untuk sekitar 8.000 anak.

4. Pembangunan sarana prasarana air bersih dan sanitasi, serta edukasi Perilaku Hidup Bersih Sehat melalui WASH (Water and Sanitation Hygiene).

5. Edukasi pilah sampah Bijak Berplastik

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini