nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perjuangan Guru Kartini Bangun TK untuk Warga Kurang Mampu, Dulunya Penjual Kacang Rebus

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Minggu 17 November 2019 06:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 16 612 2130778 perjuangan-guru-kartini-bangun-tk-untuk-warga-kurang-mampu-dulunya-penjual-kacang-rebus-gb1LrUCzl1.jpg Umi Kartini dan Putra Tercinta (Foto : Istimewa)

Jika Anda punya mimpi, maka jangan ragu untuk mengejarnya. Imbangi dengan kerja keras dan jangan pernah berhenti berdoa pada Allah SWT. Itu yang diamini guru Kartini.

Ya, perempuan hebat yang berprofesi sebagai guru ini membuktikan, niat tulus bantu sesama akan dipermudah Allah SWT dalam menggapainya. Kartini sejak kecil sudah ingin sekali memiliki sekolah untuk bantu mencerdaskan generasi bangsa, sekali pun rasanya dulu sangat tak mungkin.

Bercerita pada Okezone, sebelum menjadi guru Kartini dulunya hanya seorang anak dari ayah penjual kertas bekas. Punya mimpi untuk memiliki sekolah tentu rasanya tak mungkin. Tapi, sekali lagi Allah SWT itu Maha Baik dan kalau niat dari mimpi itu untuk kebaikan, tentu akan ada jalan untuk menggapainya.

"Masa kecil saya dihabiskan dengan bersekolah biasa tapi nyambi jualan kacang rebus, jagung rebusm atau pisang goreng. Ya, buat bantu-bantu keluarga," tuturnya pada Okezone, Jumat (15/11/2019).

Umi Kartini

Mimpi itu semakin bulat ketika dirinya mulai dihadapi pada fakta kalau orangtuanya tak bisa melanjutkan pendidikan Kartini. Alasan ekonomi menjadi pencetusnya. Kartini menerima kenyataan itu dengan ikhlas walau hati terasa sakit.

Tak bisa melanjutkan sekolah, Kartini kemudian mencoba untuk ikut les keahlian dari hasil jualannya. Receh demi receh ia kumpulkan untuk membayar uang les menjahit.

Dari sekolah keahlian, Kartini kemudian belajar untuk mencari uang. Ia tak ingin membawa beban bagi keluarganya yang sudah kesusahan. Perjuangan Kartini ini yang masih ia ingat sampai sekarang dan jadi motivasi dalam menggapai mimpi.

Singkat cerita, Kartini menikah dengan suaminya, Affandi. Di masa pernikahan, Kartini sering ikut pengajian warga di kampung. Pengajian ini yang kemudian membuatnya ditunjuk sebagai salah satu orang yang dituakan dalam mengurus pengajian.

Sampai akhirnya sang suami memberi ruang untuk Kartini mengembangkan majelis taklim. Entah bagaimana, mimpi itu mulai terwujud. Kartini mulai menimba ilmu di majelis taklim tersebut bersama dengan ibu-ibu lainnya.

Umi Kartini

Tak disangka, pada 1992, sekelompok mahasiswa dari Institut Agama Islam Syarif Hidayatulloh Ciputat, Tangerang, datang ke kampungnya yang berlokasi di Pakulonan, Tangerang Selatan.

Peristiwa ini menjadi gerbang utama akhirnya mimpi Kartini semakin nyata. Ya, para mahasiswa ini berinisiasi untuk membuat majelis taklim yang dikelola Kartini semakin besar dan serius. Tak hanya itu, mahasiswa ini juga yang meminta Kartini agar membangun taman pendidikan quran (TPQ).

"Nggak lama setelah itu, TPQ Nurul Hidayah saya buat dibantu suami dan beberapa sanak saudara," terang guru Kartini.

Adanya TPQ itu menjadi gerbang lain petualangan Kartini dalam upaya mencerdaskan masyarakat di kampungnya. Karena respons masyarakat begitu positif, Kartini kemudian coba membangun Yayasan untuk wadah pengelola yang lebih serius.

Dari terbentuknya Yayasan Nurul Hidayah, terciptalah taman kanak-kanak berbasih agama yang biasa disebut dengan Raudhatul Athfal (RA). Pembangunan taman kanan-kanak berbasis agama ini dilakukan pada 1998.

Umi Kartini

Penuh perjuangan Kartini dalam membangun RA Nurul Hidayah. Selain perizinan negara, fakta bahwa masyarakat di kampungnya tergolong dalam warga kurang mampu, makanya ia membangun sekolah bukan karena mencari uang, melainkan semata-mata demi mencerdaskan bangsa.

"Saya mikirnya gini di awal membangun RA Nurul Hidayah, 'Kalau hanya menjadi ibu pengantar anak ke sekolah, banyak ibu yang bisa. Saya ingin membangun wadah belajar agar masyarakat di sini cerdas'," ungkapnya penuh bangga.

Umi Kartini

Kartini melanjutkan, yayasan yang ia bangun kini mulai berkembang. Tidak hanya mengurus taman kanak-kanak berbasis agama dan TPQ, tapi juga dia membangun Yayasan Yatim Piatu Nurul Hidayah. Ya, ini juga ia bangun karena sadar masih kurangnya perhatian banyak pihak terhadap anak yatim.

Kartini hanya berharap agar apa yang sudah dia bangun sedari nol bisa memberi manfaat bagi banyak orang di lingkungan rumahnya pun untuk orang banyak. Sebab, ada satu prinsip hidup yang coba diterapkan Kartini selama ia hidup.

"Saya berpikir gini, hidup kalau cuma buat makan, ayam pun melakukannya. Nah, kita sebagai makhluk ciptaan Allah SWT paling sempurna, ada baiknya kita mengucap syukur dengan cara membantu sesama dan menjadi orang yang bisa berguna bagi semua makhluk ciptaan Tuhan," pungkasnya.

Umi Kartini

Kini, secara perlahan Kartini 'warisan' itu pada anak perempuannya. Ya, Tety Fadilah ditunjuk Kartini untuk bisa melanjutkan RA Nurul Hidayah yang sudah ia bangun sedari nol.

"Alhamdulillah, anak pertama saya punya minat yang sama dengan saya yaitu mau membantu masyarakat. Jadi, RA Nurul Hidayah masih saya kepala sekolahi, tapi pengelolaannya sudah saya beri pada anak pertama saya itu. Semoga kebaikan ini akan terus berlanjut," sambungnya.

Apa yang dilakukan Kartini menjadi bukti buat kita semua bahwa mimpi sebesar apapun jika yakin bisa diraih, akan ada jalannya dan jangan pernah lepas berdoa pada Allah SWT untuk dikabulkan. Ingat, asal niatnya itu baik untuk membantu sesama, akan ada jalannya. Percayalah!

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini