nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sosok yang Kupanggil Pak Guru Akhirnya Menikahiku, Kupasrahkan Semua kepada Allah

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 18 November 2019 15:16 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 18 612 2131283 sosok-yang-kupanggil-pak-guru-akhirnya-menikahiku-kupasrahkan-semua-kepada-allah-ivmTkZXyby.jpg Ilustrasi (Parents)

Mungkin Lili tak akan menyangka kalau guru yang mengajarinya di kelas bakal satu ranjang dengannya. Ya, perempuan berusia 20 tahun ini dinikahi guru SMA-nya sendiri.

Proses perkenalan yang terjadi begitu singkat tak membuat Lili dan suaminya goyah. Keyakinan murid dan Pak Guru SMA ini malah yang membuat mereka menyatu sampai akhirnya sekarang sudah dikaruniai anak.

Lantas, apakah Anda penasaran bagaimana kemudian Lili bisa dinikahi Pak Guru SMA-nya?

Guru

(Foto : Ilustrasi)

Saya tak menyangka, sosok pria yang saya panggil 'Pak Guru' itu kini satu atap bersamaku. Bersama membina biduk rumah tangga, menjadi imamku, menjadi jodohku, dan ayah dari anak kita berdua.

Perkenalan kita tak seperti kebanyakan orang. Saya percaya Islam tak mengajarkan Muslim untuk menjalin hubungan yang biasa disebut 'pacaran'. Perkenalan kita terjadi begitu saja, sampai akhirnya Allah SWT mempersatukan kita. Allah SWT menentukan ia menjadi jodohku, saya si murid dan ia Pak Guruku.

Ya, mungkin ini terdengar lucu sekaligus membuat kamu yang membaca kisah ini tak percaya. Tapi, saya pun awalnya demikian. Di awal perkenalan, tak ada sesuatu yang saya rasakan. Biasa-biasa saja.

Guru

(Foto : Ilustrasi)

Selama di sekolah pun, suami saya yang adalah guru saya sendiri, tidak menunjukan ketertarikan berlebih. Saya dia anggap biasa saja seperti muridnya yang lain. Tidak ada yang namanya perhatian khusus, apalagi urusan nilai. Ya, biasa saja.

Tapi, semua itu berubah ketika setelah saya dinyatakan lulus dari salah satu sekolah di Tangerang. Dua tahun berselang, saya iseng main ke sekolah, mau tahu kabar dan sekadar main.

Ini jadi momen pertemuan saya dengan pak guru itu. Entah bagaimana, menurut penuturan suami saya kala itu, dia menaruh perasaan pada saya. Itu kenapa akhirnya dia mencoba cari kontak ponsel saya ke guru lain. Berhasil dia dapat nomor saya, obrolan pun dimulai.

Tidak saat itu juga dia memberitahu saya kalau dia berhasil dapat nomor saya. Butuh waktu sekira seminggu sampai akhirnya guru itu memberi pesan ke dalam kolom SMS di ponsel saya. Saya masih ingat betul, dia pertama kali 'chat' basa-basi.

Dia minta ke saya buat dicarikan jodoh. Saya yang tak begitu tahu maksudnya apa, hanya dibuatnya bingung. Tapi, lama-kelamaan, saya paham jalan 'chat' yang dia berikan. Dia ingin mendapat perhatian dari saya.

Chatting

(Foto : Ilustrasi)

Sejak saat itu, hubungan kita semakin dekat, ya, sebatas dua insan manusia mencoba saling tahu. Hanya itu. Lagipula, hubungan ini berlangsung hanya lewat ponsel. Teman ngobrol virtual kalau kata anak zaman sekarang.

Sudah lumayan kenal lama, pak guru itu meminta kita bertemu. Tapi, saya tidak izinkan dia 'bawa' saya keluar hanya berdua. Saya minta dia main ke rumah saja, sekalian kenal dengan orangtua niatnya. Benar saja, dia datang ke rumah.

Singkat cerita, pak guru ini baru pulang dari Yogyakarta. Lagi, dia mau ketemu, mengajak saya makan siang sekalian kasih oleh-oleh. Tapi, saya tetap pada pendirian, tidak boleh keluar berdua dengan orang yang bukan muhrimnya. Akhirnya, saya minta dia ke rumah saja. Sekali lagi, dia datang ke rumah.

Tiga bulan berlalu, kemudian dia datang dengan keluarganya yang setahu saya niatnya hanya silaturahmi. Tidak ada pikiran apa-apa selain silaturahmi. Tapi, yang terjadi kemudian ialah saya 'dikhitbah', saya diikat. Setelah itu, kedua keluarga menentukan tanggal nikah.

Perasaan saya campur aduk. Namun saya pasrahkan semua pada Allah SWT. Saya lakukan salat malam, mungkin tiap malam. Saya coba meminta petunjuk pada Allah atas pilihan ini. Saya minta ke Allah SWT untuk diberi petunjuk, apakah pria ini memang jodoh saya atau bukan.

Allah SWT menjawabnya sebulan kemudian. Saya dan pak guru menikah. Allah SWT menetapkannya sebagai suami saya, jodoh saya. Keyakinan itu pun kuat karena saya melihat sosok pria ini adalah seseorang yang dekat dengan Allah SWT. Modal itu yang menjadi kekuatan saya yakin padanya.

Dalam prinsip saya, ketika pria itu dekat dengan Allah SWT, dia tidak akan berbuat buruk pada istrinya. Alhamdulillah, itu semua benar. Pernikahan saya lakukan di usia 20 tahun kurang satu bulan. Saya yakin ini keputusan tepat, karena saya yakin ini adalah jawaban Allah SWT. Saya yakin, yang namanya jodoh itu adalah pendamping hidup yang telah Allah tetapkan dalam Lauhul Mahfuz.

Pernikahan

(Foto : Ilustrasi)

Saat ini saya dan suami telah dikaruniai satu orang anak, usianya 9 bulan. Di awal pernikahan saya pernah alami kesedihan mendalam karena mengalami keguguran. Tapi, Allah SWT kembali mempercayai saya untuk menjaga amanah. Alhamdulillah, ini semua berkah buat saya.

Semoga kisah Lili ini bisa jadi bahan introspeksi dan penyemangat kita semua. Menjadi contoh juga bagi mereka yang menaruh segala urusan pada Allah SWT, termasuk urusan jodoh.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini