nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Banyak Fashion Asal Bikin di Department Store Malah Jadi Sampah!

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 20 November 2019 20:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 20 194 2132352 banyak-fashion-asal-bikin-di-department-store-malah-jadi-sampah-YXac18UwDf.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

TIDAK dipungkiri, industri dunia fesyen adalah salah satu penyumbang limbah terbesar termasuk di Indonesia, mengingat begitu banyak ragam material bahan yang terpakai.

Berangkat dari isu lingkungan ini, Indonesia Fashion Chamber (IFC) yang menjadi salah satu wadah para desainer-desainer mode muda Indonesia mencoba meningkatkan awareness atau kepedulian tentang sebetulnya dunia fesyen pun tetap bisa dihadirkan tanpa harus merusak bumi.

Maka dari itu, untuk gelaran Jakarta Fashion Trend 2020 yang resmi digelar hari ini, Rabu (20/11/2019) IFC memilih tema ‘Fashion Revolution’. Tema ini sendiri diketahui dipilih sebagai salah satu bentuk gerakan kepedulian atas isu-isu lingkungan dan kemanusiaan dalam industri fesyen.

Contohnya isu sustainable (berkelanjutan) yang sekarang sedang marak diangkat, jadi salah satu unsur yang di-highlight dari Fashion Revolution.

salah satu bentuk gerakan kepedulian atas isu-isu lingkungan dan kemanusiaan dalam industri fesyen.

Di sini para desainer mencoba untuk menghadirkan wujud nyata dari yang namanya ‘good design is suistainable design’, yang menggambarkan bawah pembuatan suatu busana yang bermutu akan memiliki kekuatan keberlangsungan yang lebih tinggi.

Hannie Hananto selaku ketua IFC menegaskan bahwa pehamaman akan sustainable fashion sejatinya bukan hanya bisa dilakukan dengan memakai material bahan ramah lingkungan.

“Ini bisa banyak cara bukan hanya pakai memakai bahan daur ulang limbah. Tapi misalnya juga bagaimana desain yang bagus, kualitas jahitan yang bagus yang mempengaruhi mempengaruhi kesejahteraan pekerja, itu juga termasuk sistem beli fashion,” ungkap Hannie dalam acara konferensi pers ‘Jakarta Fashion Trend 2020’ di kawasan Senayan, Jakarta.

Melalui perhelatan Jakarta Fashion Trend 2020 ini, digaungkan pula bagaimana sebetulnya dunia fesyen itu bukan hanya masalah busana. Menurut Hannie, kepedulian terhadap para pelaku pekerja yang terlibat di dalamnya seperti penjahit dan pengrajin juga menjadi masalah yang tidk terlepas dari industri fesyen.

"Contohnya beberapa brand fashion yang ada di departemen store Indonesia banyak yang akan menjadi sampah. Kenapa? Karena kualitasnya enggak bagus buat desain, bahan-bahannya juga enggak bagus, mutu jahitan yang enggak bagus," jelas dia.

di dalamnya seperti penjahit dan pengrajin juga menjadi masalah yang tidk terlepas dari industri fesyen.

"Sementara itu desainer selalu mengeluarkan koleksi dengan kualitas yang bagus dengan proses pemikiran yang luar biasa rumit dan segala macam yang kreativitas yang lebih itu, sebagai salah satu sistem mobile fashion,” imbuh Hannie.

Perhelatan Jakarta Fashion Trend 2020 ini sendiri menghadirkan kurang lebih 29 desainer mode Indonesia, sebut saja nama-nama yang sudah tidak asing seperti Deden Siswanti, Hannie Hananto, Irna Mutiara, Najua Yanti, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Ke-29 desainer ini akan mempresentasikan ragam koleksi busana, dibagi dalam kategori sebanyak 15 desainer untuk busana Muslim dan modest wear dan sebanyak 14 desainer untuk kategori busana ready to wear (RTW).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini