nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hari Anak Sedunia, Ini Tips Membuat si Buah Hati Jadi Influencers Andal

Nur Fadila Wahyuni, Jurnalis · Rabu 20 November 2019 16:34 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 20 196 2132269 hari-anak-sedunia-ini-tips-membuat-si-buah-hati-jadi-influencers-andal-dowy7v2SV3.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

ANAK merupakan cikal bakal lahirnya suatu generasi baru yang merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa. Apabila seorang anak berkembang dalam lingkungan yang tidak baik, maka kemungkinan besar dia akan menjadi tumbuh di luar kewajaraan.

Tapi, seiring dengan berkembangnya media sosial, banyak orangtua yang memanfaatkan anaknya dengan cara membuatkan konten dan dipublikasikan ke sebuah media sosial. Padahal, tanpa disadari perlakuan tersebut sudah masuk ke dalam eksploitasi anak.

"Eksploitasi mencakup tindakan atau perbuatan memperalat, memanfaatkan, atau memeras anak untuk memperoleh keuntungan pribadi, keluarga, atau golongan," ujar Karina Istifarisny, psikologi anak kepada Okezone.

Tapi, jika anak tersebut senang dengan adanya postingan dirinya di media sosial itu baik-baik saja.

"Nah dalam hal ini, kalau anaknya tidak setuju, enggan, tapi dipaksakan. Ini sudah termasuk eksploitasi,” tambahnya.

Tapi, jika anak tersebut senang dengan adanya postingan dirinya di media sosial itu baik-baik saja. Lantas, apa dampaknya jika anak sudah mengalami eksploitasi bagi perkembangan dirinya.

Menurut pandangan psikologi, dampak ringan maka anak akan cepat merasa kesal atau dendam dan lelah secara fisik. Nah, jika anak sudah mengalami emosi yang kurang stabil, hubungan yang buruk dengan orangtua pun bisa mempengaruhi citra diri anak, kariernya, dan lain sebagainya.

"Misalnya, anak yang berusia dua bulan usia ini belum bisa membuat keputusan dengan orangtua untuk bisa menolak atau menerima fotonya tersebar di media sosial. Nah, sekarang kalau foto-foto yang disebar orangtua, memiliki konten lucu, misalnya. Saat remaja anak melihat itu, bisa jadi kurang bahagia. Jadi bahan ledekan teman-temannya," tambahnya.

Oleh sebab itu, orangtua harus bijaksana disaat membuat konten atau postingan mengenai sang anak, karena jejak digital tidak akan bisa dihilangkan. Banyak sekali orangtua yang memposting tentang anaknya, mungkin awalnya hanya sebagai dokumentasi tumbuh kembang anak, tapi lama-lama jadi menghasilkan.

awalnya hanya sebagai dokumentasi tumbuh kembang anak, tapi lama-lama jadi menghasilkan.

Nah, untuk mencegah terjadinya eksploitasi anak, alangkah baiknya orangtua menanyakan terlebih dahulu pada sang anak sebelum mempostingnya. Bagi anak yang belum bisa bicara atau negosiasi, pertimbangkan dengan bijaksana, apakah postingan tersebut akan membuat anak merasa lebih baik atau buruk.

Karina menambahkan, orangtua juga harus berdiskusi tentang konten, postingan, hal teknis lainnya. Dia menyebut, pertumbuhan anak di masa percepatan informasi ini harus diimbangi dengan berdiskusi, sehingga tidak menghasilkan efek negatif.

"Soon or later, anak akan menjadi dewasa. Segala yang dilakukan orangtua akan membuahkan hasil. Kalau dari dini diajarkan cara memanfaatkan media untuk menghasilkan uang, di masa depan dia akan lihai untuk itu," katanya.

"Buatlah anak merasa bahagia dan tanpa beban menjalani proses pembuatan konten. Jadi di masa depan, ingatan itu menjadi sumber kebahagiaan sang anak," tambah dia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini