nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Serunya Wisata ke Tumurun Private Museum yang Instagramable Kebanggaan Kota Solo

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 20 November 2019 14:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 20 406 2132176 serunya-wisata-ke-tumurun-private-museum-yang-instagramable-kebanggaan-kota-solo-E0Tf9dMPBo.jpg Temurun Private Museum (Foto : Dimas/Okezone)

Selain dikenal sebagai salah satu pusat kuliner Nusantara dan produsen batik terbesar di Indonesia, Solo juga memiliki beragam atraksi wisata berbasis seni yang sayang untuk dilewatkan.

Menurut penuturan Kabag Humas dan Protokol Kota Surakarta, Heri Purwoko, belakangan pemerintah kota memang sedang gencar-gencarnya memberdayakan potensi seni budaya yang dimiliki Kota Solo.

"Modal utama kami memang art atau seni dan kebudayaan. Ada event-event tertentu untuk mempromosikan potensi seni dan budaya Solo. Karena tidak ada fokus untuk pengembangan wisata alam," tutur Heri Purwoko dalam diskusi berteman 'Spirit Joglosemar Menuju Wisata Kelas Dunia', di Solo, Jawa Tengah.

Untuk mendorong perkembangan industri seni di Solo, pada 2018 lalu, generasi penerus Sri Rejeki Isman (Sritex) Group, Iwan K. Lukminto mendirikan Tumurun Private Museum yang memadukan seni kontemporer dengan berbagai karya seni rupa lainnya.

Sebagian besar koleksi seni yang ada di museum ini merupakan koleksi pribadi milik mendiang ayahnya, H.M. Lukminto yang hobi mengoleksi mobil-mobil tua dan berbagai lukisan dari pelukis ternama.

Temurun Private Museum

"Tumurun itu berarti turun temurun. Jadi memang museum ini terinspirasi dari koleksi ayah Pak Wawan, termasuk mobil Mercedez-Bens keluaran tahun 1972 yang di pajang tepat di depan pintu masuk utama," kata Sofyan Prasetyo, salah seorang pemandu di Tumurun Private Museum Solo.

Setelah tutup usia, koleksi milik mendiang H.M. Lukminto akhirnya diwariskan kepada Wawan. Mengingat jumlah koleksi seni yang dimiliki sang ayah mencapai ratusan, Wawan memutuskan untuk mendirikan Tumurun Museum.

Tujuannya agar koleksi-koleksi tersebut terawat dengan baik serta memberikan kesempatan kepada para pencinta seni untuk mendapatkan informasi, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap seni di kalangan generasi muda.

"Total koleksi pribadi beliau itu lebih dari 300 karya seni, tapi yang dipajang di museum ini sekitar 120 karya," lanjut Sofyan.

Sofyan kemudian mengajak Okezone untuk melihat langsung beberapa karya seni kontemporer terfavorit yang dipajang di lantai 1.

Temurun Private Museum

Salah satunya adalah karya Wedhar Riyadi berjudul 'Changing Perspective' yang menjadi ikon ARTJOG 2017. Karya seni berbentuk patung mata raksasa mengambang (floating eyes) berwarna biru ini memiliki makna yang sangat mendalam tentang privasi di jaman media sosial seperti saat ini.

"Lewat karya ini, Wedhar Riyadi ingin menyampaikan pesan bahwa, orang yang sudah menggunakan atau memiliki akun media sosial, sudah tidak memiliki privasi lagi. Oleh karena itu, bentuknya menyerupai mata, sebagai penggambaran tentang tidak adanya lagi privasi di era media sosial," jelas Sofyan.

Di samping patung itu, ada sebuah patung mata dengan ukuran 5 meter yang dilengkapi sepasang kaki. Patung ini juga menyiratkan makna bahwa teknologi kini seolah sudah menjadi mata yang mengawasi gerak-gerik tiap manusia di dunia.

Koleksi berikutnya, merupakan karya seni dari seniman asli Indonesia Heri Dono dengan judul Badman and SuperBad (2013). Karya seni tersebut merupakan bentuk kritikan Heri terhadap perang antara Amerika Serikat dengan Irak. Ia beranggapan jika perang yang terjadi seperti radikalisme dan penghancuran senjata hanya akal-akalan saja.

Temurun Private Museum

Pada lukisan itu juga terdapat gambar pesawat terbang yang dikaitkan dengan serangan 11 September di World Trade Center, Amerika Serikat.

Masih ada banyak lagi karya-karya seni dari pelukis ternama Indonesia, seperti 'Mencari yang Hilang' karya I Made Djirna, 'Baba(t)d Diponegoro' karya Eddy Susanto dan Nagair, 'Proper and Property' karya Entang Wiharso.

Temurun Private Museum

Sementara di lantai dua, terdapat karya-karya nan langka dari maestro lukis, seperti Affandi, Basoeki Abdullah, Raden Saleh, But Muchtar, Srihadi Soedarsono, Hendra Gunawan, S.Sudjojono, hingga Antonio Blanco, Walter Spies, dan Johan Rudolf Bonnet. Namun sayang, area ini tidak dibuka untuk umum.

Bila tertarik mengunjungi Tumurun Private Museum, Anda harus melakukan reservasi terlebih dahulu melalui situs resmi mereka tanpa biaya apapun alias gratis. Museum ini terletak di Jl. Kebangkitan Nasional No.8, Solo, Jawa Tengah.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini