Gaji Istri Lebih Tinggi, Suami Rentan Kena Gangguan Mental

Ibrahim Al Kholil, Jurnalis · Jum'at 22 November 2019 15:30 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 22 196 2133174 gaji-istri-lebih-tinggi-suami-rentan-kena-gangguan-mental-Qedy206PBn.jpg Keuangan suami-istri (Foto: Thesavvycouple)

PANDANGAN maskulinitas terkait erat dengan hubungan konvensional para pencari nafkah, khususnya pada pria. Norma-norma gender sosial menganggap pria lebih mungkin mengalami gangguan mental jika mereka menjadi pencari nafkah sekunder alias istri memiliki gaji lebih tinggi.

Konsekuensi dari peran gender dalam perkawinan yang terkait dengan penghasilan istri yang lebih tinggi mencakup berbagai dimensi. Hal itu dapat mengakibatkan gangguan mental, fisik,  kepuasan hidup, kesetiaan dalam perkawinan, perceraian.

Keuangan keluarga

Seperti yang kita tahu bahwa dalam berumah tangga, pria dituntut untuk mencari nafkah. Pemikiran seperti ini sudah mendarah daging dalam pikiran setiap orang, meskipun ada sebagian orang tidak sependapat dengan pemahaman di atas. Hal itu pula yang akan membuat pria rentan terkena gangguan mental ketika istri yang seharusnya diberi nafkah justru memiliki pendapatan yang lebih tinggi.

Peningkatan gangguan psikologis yang datang dengan kondisi ekonomi hubungan rumah tangga ini dikhawatirkan berujung pada perceraian. Hal itu dibuktikan melalui suatu penelitian 6.000 pasangan heteroseksual Amerika selama lebih dari 15 tahun menunjukkan bahwa suami paling cemas ketika mereka adalah pencari nafkah tunggal. Memikul semua tanggung jawab atas keuangan rumah tangga.

Namun tingkat stres menurun ketika penghasilan istri mereka mendekati 40% dari pendapatan suami. Tetapi ketika pendapatan wanita melewati titik itu, penelitian menunjukkan tingkat stres suami berangsur-angsur meningkat.

 Pasangan suami-istri

Angka-angka dari Pew Research Center di AS menunjukkan hanya 13% wanita menikah yang berpenghasilan lebih tinggi dari suami mereka pada tahun 1980. Tetapi pada 2017 angka itu mendekati sepertiga dan tren itu kemungkinan akan berlanjut.

Dr. Joanna Syrda, seorang ekonom di Fakultas Manajemen Universitas Bath, mengatakan "Ini adalah studi besar tetapi dari kelompok tertentu - konvensi lain berlaku di kelompok dan masyarakat lain dan hasilnya dapat berubah seiring berjalannya waktu. Namun, hasilnya cukup kuat untuk menunjukkan tetap adanya norma-norma identitas gender, dan untuk mereka bagian dalam masalah kesehatan mental pria. Kesesakan yang terus-menerus dapat menyebabkan banyak masalah kesehatan yang merugikan, termasuk penyakit fisik, dan masalah mental, emosional dan sosial, "katanya.

 Kesehatan mental

Temuan ini menunjukkan bahwa norma sosial tentang pencari nafkah pria dan anggapan klasik seputar pendapatan istri lebih tinggi dari suami, maka dapat berbahaya bagi kesehatan pria. Mereka juga menunjukkan seberapa kuat dan gigih norma-norma identitas gender.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini